JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tengah merancang sebuah assessment rumah tahan gempa yang bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat via daring. Pasalnya, rumah tidak tahan gempa menjadi salah satu faktor penentu jumlah korban dalam bencana gempa bumi, masih banyak masyarakat yang belum memahami risiko tersebut.

"Misinya adalah edukasi ke masyarakat untuk mereka yang tinggal di kawasan berisiko tinggi, tetapi mereka tidak tahu rumahnya itu tahan gempa atau tidak. Ini (assessment) masih kami uji coba," kata Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati kepada Validnews, Kamis (31/10).

Prinsip assessment-nya, kata Raditya, adalah menyebarkan kuesioner mengenai ketahanan rumah terhadap gempa. Pertanyaan dari kuesioner itu, disusun sedemikian rupa dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat. Setelah masyarakat mengisi kuesioner tersebut, maka otomatis sistem secara online akan memproses jawaban-jawaban dari kuesioner dan mengklasifikasi kelas rumah dari masyarakat.

"Begitu di-submit, itu langsung ada kelas-kelas rumah, hijau artinya aman, kuning itu waspada, rumah tidak aman itu warnanya merah," sebutnya.

Sejauh ini, assessment sudah diuji coba ke beberapa wilayah, meliputi Sukabumi, Bengkulu, Jogjakarta, serta Ambon, Maluku. Dalam waktu dekat, BNPB membidik wilayah Aceh Tengah sebagai lokasi uji coba selanjutnya. Adapun kawasan yang pernah terdampak gempa menjadi dasar dari penentuan lokasi.

Terkait hasil evaluasi dari uji coba, Raditya mengaku bila pertanyaan dikuesioner kerap sulit dimengerti oleh masyarakat lantaran masih terdapat bahasa yang terlalu teknik.

"Kita masih harus menyederhanakan kata-kata keteknikan sipil ke yang lebih umum. Kata-kata sulit seperti konstruksi atau bahan bangunan kan agak susah. Kita juga ubah ke model pertanyaan terbuka," sebutnya.

Ke depannya, pertanyaan tersebut juga akan dirancang lebih detail hingga mencakup penataan perabot. "Perabot bisa jadi ancaman. Rumah kita bisa tidak hancur, tetapi misal lemari es kalau tidak klem ditembok, itu lemari bisa bergerak menghantam kita. Harapannya, pemilik rumah lebih aware. Tidak hanya sekadar tau daerahnya rawan gempa bumi, tetapi paham rumahnya," singkat Raditya.

Untuk diketahui, imbas dari total 25 gempa yang terjadi sepanjang tahun 2019, tercatat ada 8.587 rumah rusak berat. Sementara, rumah rusak sedang dan ringan masing-masing sebanyak 6.304 unit dan 6.536 unit. Gempa juga mengakibatkan kerusakan diinfrastruktur lain, seperti fasilitas pendidikan (474 unit), rumah ibadah (173 unit), dan 108 unit fasilitas kesehatan.

Screenshot_2019-11-01_at_19.06.22.png

Sebelumnya, peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Deny Hidayati pernah memaparkan bahwa pengetahuan masyarakat soal tindakan terkait bencana masih sangat terbatas, baik itu tentang kerentanan wilayah sekitar ataupun model rumah yang tahan terhadap bencana.

Di sisi lain, pembimbingan dari instansi terkait seperti BNPB juga masih terbatas dan belum bisa berfungsi atau memberikan dampak sebagaimana yang diharapkan. Ia pun menekankan, diperlukan adanya inovasi yang mampu membuat masyarakat tergerak untuk melakukan sendiri langkah kesiapsiagaan. (Shanies Tri Pinasthi)

https://www.validnews.id/BNPB-Siapkan-Assesment-Rumah-Tahan-Gempa-gKn

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait