MENJELANG Pemilu 2019 suhu politik semakin meng­ha­ngat. Kon­tes­tasi antarpihak yang bersebe­ra­ng­an pandangan politik se­makin riuh. Yang dilakukan adalah berusaha sekeras mung­kin me­motret kele­mah­an lawan po­li­tik dengan be­ra­gam cara. Vi­brasinya semakin mudah karena adanya media sosial, ma­suk ke gawai kita ma­sing-ma­sing secara cepat dan masif tanpa filter. Adu ta­gar, saling cibir dan cela se­olah biasa saja dalam politik ke­se­harian kita.

Musim politik memang membuat akal sehat kembali diuji. KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus beberapa waktu lalu dalam cuitannya di Twitter misalnya menyebut, “Kalau in­ti­nya soal dukung-men­du­kung, maka akal sehat tidak diperlukan dan argumentasi bisa dicari-cari ”. Dan memang demikianlah kon­disi yang terjadi saat ini. Per­karanya bukan soal me­ngapa mendukung pilihannya sendiri dengan didukung argumentasi yang logis dan rasio­nal, tetapi lebih menge­de­pan­kan pembenaran yang kadang jauh dari akal sehat. Argumen selalu bisa dibuat disesuaikan dengan sesuai selera diri dan kelompoknya. Jauh dari nalar soal belakangan.

Kondisi tersebut tidak se­hat bagi suasana kebatinan bangsa ini. Perbedaan politik membuat antarteman, ke­luar­ga, atau kolega bekerja berha­dap-hadapan secara frontal, membuat kubu masing-ma­sing. Tak ada lagi rasa percaya terhadap kelompok yang me­miliki pandangan berbeda ka­rena yang dianggap benar ada­lah kaum atau kelompoknya sendiri.

Dukung-mendukung calon pilihan favorit individu ma­sing-masing merupakan hal wajar dalam proses demokrasi dan hak yang perlu dihargai. Se­bab sudah pasti setiap individu me­miliki kecenderungan baik se­cara subjektif maupun ob­jektif dalam mendukung ja­goa­n­nya. Juga menginginkan agar calon yang didukungnya menang dan memperjuangkan apa yang men­jadi keyakinan dan as­pi­rasinya.

Yang menjadi problem, saat ini dukung-mendukung politik cenderung dilakukan dengan melawan akal sehat dan mo­ra­litas. Menjadikan seseorang tak segan menghina mereka yang berbeda pandangan de­ngannya. Dan pada batas yang paling mengerikan adalah be­ra­ni melakukan persekusi dan intimidasi dengan amat te­lan­jang kepada mereka yang ber­beda pilihan. Memolitisasi apa­pun yang bisa digunakan untuk menjungkal lawan politiknya, mereka yang berbeda paham.

Membangun optimisme 
Kabar sejuk perlu di­em­bus­kan lebih kuat oleh siapa saja yang peduli akan nasib bangsa ini. Yang perlu dibangun adalah narasi-narasi yang bersifat po­sitif yang membangkitkan op­ti­misme, bukan kisah pesimis yang mematahkan semangat. Kisah-kisah tersebut dapat digali dari realitas keseharian bangsa ini. Yang diambil dari praktik terbaik generasi-ge­ne­rasi terdahulu maupun anak-anak bangsa saat ini.

Buku Mata Air Keteladanan: Pan­casila dalam Perbuatan  (2014) karya Yudi Latif misalnya dapat menjadi salah satu bacaan yang mampu menjadi gambaran dari praktik keteladanan anak bang­sa dalam mengamalkan Pan­ca­sila. Tokoh-tokoh teladan ter­se­but disajikan merujuk pada be­ragamnya Indonesia dari segi aga­ma, etnis, kelas sosial, dan wi­layah. Bukan hanya digali dari kisah tokoh di masa lalu, tapi tokoh-tokoh yang masih ada saat ini.

Indonesia memang bukan milik satu golongan. Indonesia yang bineka ini dibangun oleh jerih payah semua anak bangsa apapun agamanya, golo­ng­an­nya, pilihan partai, dan ideo­loginya. Indonesia adalah hasil gotong royong bersama s­e­lu­ruh anak bangsa. Soal gotong-royong ini menurut Soekarno adalah perkataan Indonesia tulen yang didapat jika kita memeras lima sila dari Pan­ca­sila. Gotong Royong, dalam pandangan Soekarno, adalah pem­bantingan tulang ber­sa­ma, pemerasan keringat ber­sa­ma, perjuangan bantu mem­ban­tu, amal semua buat ke­pen­tingan (Adams, 2007).

Kita harus menyadari bah­wa potensi bangsa ini begitu besar, dan akan sangat sia-sia jika lebih banyak dihabiskan pada hal-hal yang kon­tra­pro­duktif dan menguras emosi. Anak-anak yang masih me­ngenyam pendidikan perlu te­rus diajak untuk tak pernah ber­henti mencintai bangsa ini. Mengajak mereka untuk lebih memperhatikan realitas bang­sa ini secara faktual. Bukan se­ba­tas teori atau retorika. Ajak mereka untuk peduli pada ling­kungan sekitar rumah ataupun sekolah. Bawa mereka me­ra­sa­kan denyut nadi bangsa ini dan apa yang menjadi kegelisahan bangsa ini.

Beberapa sekolah memiliki program yang mengajak anak perduli dengan realitas bang­sanya. Misalnya saja tinggal (live in) selama beberapa hari de­­ngan lingkungan keluarga yang begitu berbeda kondisi ekonomi, kelas sosial, maupun secara agama dan budaya. Bu­kan lagi sebatas pe­ngalaman tapi juga sudah pada praktik. Itu menjadi bahan dasar pen­ting bagi perkembangan diri anak-anak tersebut. Mem­ba­ng­kitkan kesadaran adalah upa­ya terbaik agar mereka me­mi­liki ikatan kuat terhadap kon­disi bang­sa­nya. Per­jum­pa­an-per­jum­paan se­macam ini­lah yang perlu di­la­kukan oleh sekolah. Pertautan de­ngan mereka yang berbeda akan me­numbuhkan kesa­dar­an in­dah­nya keberagaman.

Ajak mereka untuk tak ikut ribut-ribut di media sosial se­perti yang dilakukan oleh orang dewasa. Beri ruang yang lebih leluasa bagi mereka untuk tetap berani menyampaikan ar­gumennya. Dorong mereka untuk selalu siap untuk ber­dia­log. Kedepankan pembelajaran yang membuat mereka ber­usa­ha untuk menyelesaikan per­soalan secara bersama. Uta­ma­kan pembiasaan dalam ber­ko­la­borasi bukan lagi kompetisi yang berlebihan. Bersatu padu dan bergotong royong akan memberikan hasil terbaik un­tuk kemaslahatan bangsa ini.

Keluarga, sekolah, dan ma­syarakat atau tri sentra pen­di­dikan dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara, menjadi pen­ting menjaga akal sehat. Dari ruang-ruang tersebutlah dialog perlu dibangun, pra­sang­ka dikikis, dan setiap nada sumbang pesimistis ditolak. Upaya yang perlu dilakukan un­tuk menghentikan di­se­mi­nasi kebencian yang semakin semarak.

Anggi Afriansyah 
Peneliti Sosiologi Pendidikan-Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

https://nasional.sindonews.com/read/1327288/18/menghentikan-diseminasi-kebencian-1533252943

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait