TAHUN ajaran baru segera dimulai pertengahan Juli ini. Sampai saat ini, jutaan orang masih menggantungkan impiannya pada lembaga persekolahan. Laporan yang dirilis BPS (2017) menyebut pada Tahun Ajaran 2016/2017 terdapat 25,6 juta siswa SD, 10,1 juta siswa SMP, 4,6 juta SMA, dan 4,7 juta SMK.  
    
Di luar data itu, tentu masih ada mereka yang mengikuti proses pendidikan di luar sekolah formal. Secara kuantitatif, angka peserta didik yang masih menduduki pendidikan dasar dan menengah di Indonesia sangatlah besar.
    
Mengapa harus bersekolah? Tentu akan ada ragam jawaban yang muncul. Yang jelas ada gelembung harapan besar dari orangtua ketika menitipkan anak-anaknya ke sekolah. Mereka ingin agar anak-anaknya menjadi lebih cerdas, menjadi pribadi yang berkarakter, dan setelah lulus dari sekolah mendapatkan pekerjaan yang baik di masa depan.
    
Menurut para ahli demografi, sejak tahun 2012 Indonesia sudah mengalami bonus demografi. Kondisi yang terjadi ketika rasio ketergantungan berada di bawah 50%. Pada tahun 2015, rasio ketergantungan menurun menjadi 48,6%. Rasio ketergantungan itu akan menurun sampai pada titik terendah tahun 2030, yaitu sebesar 46,5% dan kemudian meningkat kembali menjadi 47,3% pada tahun 2035.
   
Momentum bonus demografi itu berpeluang untuk memberi keuntungan secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, dari beragam kajian disebutkan, perlu diciptakan angkatan kerja yang terdidik dan terampil. Dengan demikian, semakin membuka the window of opportunity (jendela peluang) dan meminimkan the door to disaster (pintu kehancuran). Tantangannya ialah masih sekitar 60% angkatan kerja kita berpindidikan SMP ke bawah.
    
Konteks tersebut tentu patut menjadi perhatian dalam mengelola pendidikan di negeri ini. Apalagi, untuk konteks Indonesia yang bineka, mendidik anak bangsa di sekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya bukanlah perkara mudah. Cakupan geografis dan banyaknya jumlah penduduk menjadi tantangan bagi kebijakan pendidikan nasional. Sebab itu, sistem pendidikan yang dibangun harus memenuhi kebutuhan setiap anak bangsa. Sebuah sistem yang adil dan inklusif. Dalam konteks pembelajaran, merujuk pada Freire (1993), sistem yang dibangun mesti memberi ruang bagi anak-anak, baik itu kaya maupun miskin, untuk dapat belajar, berkreasi, berani mengambil risiko, mau bertanya, dan berkembang.
   
Di sisi lain, tantangan bagi dunia pendidikan saat ini ialah mengkreasi anak-anak yang tidak hanya berorientasi global, tetapi juga memperhatikan kondisi lokal. Setelah lulus, anak-anak ini siap bergerak di level lokal, nasional, ataupun global tanpa gagap. Menjadi aktor penggerak kemajuan di mana pun mereka berkreasi di masa mendatang, dan tidak gugup menghadapi realitas masyarakat.

Wajah bangsa
Ki Hadjar Dewantara sudah mengingatkan bahwa untuk mendapatkan sistem pengajaran yang akan berfaedah bagi peri kehidupan bersama, haruslah sistem itu disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat (Majelis Luhur Pesatuan Taman Siswa, 2013).  Senada dengan apa yang diungkap Ki Hadjar Dewantara, Freire dalam Pedagogy of the City (1993) berpendapat bahwa sistem pendidikan harus menghargai cara hidup, pola-pola kelas dan budaya, nilai yang dianut, pengetahuan, dan bahasa anak didiknya.
   
Proses yang tak hanya mengedepankan pencapaian diri yang diukur dalam nilai dan prestasi semata tetapi berupaya agar anak-anak didik memahami potensi diri dan juga lingkungan sekitarnya. Proses yang menempa mereka menjadi pribadi yang lebih baik, tercerahkan, perduli terhadap sesamanya. Dan tentu saja pendidikan itu bukan semata pendidikan formal di sekolah. Namun, mereka harus terlatih bergaul dengan masyarakat, mengetahui permasalahan dan keluh kesah bangsanya.
   
Sayangnya, secara praktikal pendidikan di negeri ini masih berwajah seragam. Wajah nasional masih nampak mendominasi proses pembelajaran di negeri ini. Meskipun menurut regulasi, misalnya merujuk pada UU No 23 Tahun 2014, pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk menetapkan kurikulum muatan lokal. Namun, pendidikan masih tak memperhatikan kebutuhan lokal.
    
Karena itu, tentu saja bobot kurikulum berbasis potensi lokal mesti ditambah dan dikuatkan. Pengenalan mengenai laut dan potensinya misalnya, sudah sepatutnya diarusutamakan dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah yang ada di wilayah pesisir. Bagi masyarakat pesisir, pendidikan harus dihadapkan ke laut, bukan justru memunggunginya. Dengan demikian, potensi lokal akan tergali secara optimal, sebab anak mengenali setiap sudut daerahnya masing-masing.
     
Yang patut terus menjadi pertanyaan baik untuk penyelenggara pendidikan maupun orangtua dan siswa ialah sesungguhnya apa fungsi bersekolah? Pertanyaan ini penting dan mendasar. Bagi penyelenggara pendidikan, pertanyaan terus-menerus mengenai hal ini akan membuat mereka terus mengupayakan pendidikan terbaik di sekolah. Tidak terjebak pada formalisme pengajaran semata.
     
Meskipun memang, beban mengajar dan beban administratif guru dan kepala sekolah begitu berat. Hal tersebut mesti disikapi secara bijak. Inovasi pembelajaran maupun kegiatan lainnya yang diselenggarakan oleh sekolah menjadi hal yang mutlak.
    
Yang perlu disiapkan ialah generasi yang mampu membawa Indonesia tetap lestari di masa depan. Bangsa ini merupakan bangsa yang besar. Bangsa dengan beragam keunggulan. Namun, prasyarat menjadi bangsa yang tetap besar di masa depan ialah generasi bangsa yang mendapatkan pendidikan yang baik. Melalui pendidikan wajah bangsa ini dilukiskan. Ingin melukiskan warna seperti apa kepada anak-anak harapan bangsa tersebut. Gagal mendidik, maka warna anak bangsa di masa depan akan semakin suram.
    
Tahun ajaran baru adalah momentum tepat untuk kembali menguatkan perencanaan pendidikan di sekolah. Menjadi ajang untuk memberikan fundamen awal bagi siswa baru dengan membuka pemikiran mereka mengenai apa yang akan dilakukan di sekolah. Membuka lembaran baru dengan seruan yang memotivasi dan menyambut mereka dengan sukacita.

Penulis: Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

http://m.mediaindonesia.com/read/detail/170419-mendidik-membentuk-wajah-bangsa

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait