Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1945 telah menjadi konvensi kenegaraan. Momen yang tepat untuk merenungkan dan merefleksikan terkait aktualisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Pancasila sepertinya memang mudah sekali dilupakan dalam kehidupan keseharian kita. Setiap saat kita menyaksikan bagaimana nilai-nilai yang ada di Pancasila ditinggalkan. Pancasila dilupakan ketika religiusitas diartikan sebatas penguatan laku formal ibadah saja, ketika tak ada cinta kasih antarumat manusia, ketika persatuan ditinggalkan, ketika politik semata diartikan sebagai mekanisme untuk mendulang suara, dan ketika keadilan sosial tak bisa dinikmati oleh seluruh anak bangsa.

Di jagat maya, beberapa tahun belakangan ini nilai-nilai Pancasila seolah raib dalam laku warganet yang terus saja senang menebar amarah dan kebencian. Pancasila dilupakan ketika energi kita justru lebih banyak dikerahkan untuk saling menghujat dan menghinakan di antara sesama anak bangsa hanya karena perbedaan agama, etnis, maupun pandangan politik.

Telah terjadi jarak yang amat jauh antara nilai ideal Pancasila dengan praktik dalam kehidupan berbangsa. Ada kegagalan praktik dalam implementasi nilai-nilai Pancasila. Padahal jika kita membaca sejarah, Pancasila sebagai dasar negara dirumuskan dengan begitu hati-hati. Pilihan Pancasila sebagai dasar negara telah melalui perdebatan panjang dan melelahkan antara para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa ini berupaya keras mengeluarkan pikiran terbaiknya untuk menyusun Pancasila.

Yudi Latif (2011) menyebut dalam Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila bahwa setiap fase konseptualisasi Pancasila melibatkan partisipasi berbagai unsur dan golongan. Oleh karena itu menurutnya Pancasila merupakan karya bersama milik bangsa. Pilihan Pancasila sebagai dasar negara adalah melalui proses yang begitu matang.

Bung Karno misalnya sebelum berpidato pada 1 Juni 1945 untuk menyampaikan pandangannya tentang dasar negara bermunajat memohon petunjuk kepada Sang Mahakuasa agar diberi jawaban tepat atas pertanyaan mengenai dasar negara Indonesia Merdeka. Soekarno berdoa, "Ya Allah ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku. Berikanlah petunjuk kepadaku apa yang besok pagi akan kukatakan, sebab Engkaulah ya Tuhanku, mengerti bahwa apa yang ditanyakan kepadaku oleh Ketua Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itu bukan barang yang remeh, yaitu dasar daripada Indonesia merdeka" (Latif, 2011).

Ini menjadi salah satu bukti bahwa upaya merumuskan Pancasila betul-betul dijiwai oleh melibatkan laku spiritual dan semangat yang begitu hebat. Sebab itu, tidak elok rasanya jika ada yang kemudian menghina, dan mengajak untuk meragukan dan menggugat dasar negara yang sudah menjadi kesepakatan bersama para pendiri bangsa. Atau, bahkan berusaha mengganti dasar negara ini. Sangat menyedihkan ketika di media sosial kita masih menyaksikan banyak kelompok yang secara jelas berusaha untuk menebal-nebalkan kebencian dengan menghasut, memprovokasi, dan menfitnah.

Dari Ruang Pendidikan

Anak-anak harus diajak untuk mencintai Pancasila. Ini jelas bukan soal menghapalkan kelima sila Pancasila, dan membacakannya secara lantang. Mencintai Pancasila berarti mengajak mereka menghayati kelima sila tersebut lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan. Menjaga Pancasila berarti mempraktikan sila-sila tersebut dalam laku keseharian.

Pada tingkatan Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama yang paling penting bukan pada penguasaan sejarah lahirnya Pancasila, tapi harus lebih memprioritaskan pada praktik-praktik nilai-nilai Pancasila. Bukan pada hapalan yang bersifat kognitif, melainkan lebih pada praktik nyata di kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka mempraktikan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan dalam interaksi keseharian mereka di sekolah, keluarga, maupun masyarakat itulah yang utama.

Pada jenjang Sekolah Menengah Atas, anak harus sudah diajak untuk menyelami secara kritis mengenai sejarah lahirnya Pancasila. Mereka sudah diajak untuk menganalisis, mengapa misalnya, dasar negara yang dipilih oleh para pendiri bangsa adalah Pancasila? Pada Pelajaran PPKn, anak-anak didik harus diajak untuk membaca teks-teks yang berkaitan dengan Pancasila, kewarganegaraan, dan kebangsaan dengan cara yang lebih kritis.

Teks-teks terkait sejarah Pancasila harus dihadirkan oleh guru di ruang kelas. Anak-anak diminta secara seksama membaca teks-teks tersebut. Kemudian dengan pendekatan pendidikan kritis ala Freire (1999), guru dapat memandu peserta didik untuk berusaha menemukan kembali (reinventing), menciptakan kembali (recreating), dan menuliskan ulang (rewriting) Pancasila sesuai dengan konteks kekinian. Dalam proses itulah diskusi terjadi. Anak-anak akan memahami betul mengapa para pendiri bangsa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Mereka akan memahami secara historis maupun faktual, juga merelasikannya dengan kehidupan saat ini.

Peserta didik harus diberi ruang besar untuk menafsirkan Pancasila dengan bahasa yang lebih mereka pahami. Pancasila dalam bahasa dan laku yang lebih gaul, konteks yang lebih kekinian. Elaborasi dalam hal-hal tersebutlah yang perlu terus digali. Selain itu, tugas-tugas yang diberikan juga harus mendekatkan mereka dengan realitas Indonesia yang beragam. Berikan tugas agar para siswa dapat bergaul dan berdiskusi dengan individu maupun kelompok yang berbeda latar belakang baik dari segi suku, agama, bahasa, dan kelas sosial dengan mereka. Tugas yang membuat mereka bersinggungan dan berjumpa dengan ragam kelompok.

Proses pendidikan sudah semestinya menjadi corong dan penjaga kebangsaan. Proses yang menurut Ki Hadjar Dewantara harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar anak memiliki rasa cinta bangsa (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962). Sebab itu, dari ruang pendidikanlah kecintaan terhadap bangsa dan negara patut dikuatkan. Proses pendidikan harus menjadikan rasa cinta anak terhadap bangsa ini. Jika itu tidak dilakukan, sudah pasti proses pendidikan sudah melenceng dari cita-cita para pendiri bangsa.

Sehingga, menguatkan Pancasila dalam pemahaman maupun praktik di dunia pendidikan menjadi amat penting. Harapannya, ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain, menghargai kemanusiaan, mengedepankan persatuan, senang bermusyawarah dan berdialog, juga berusaha mewujudkan keadilan sosial akan dapat diimplementasikan tak sebatas dalam kata, namun juga dalam perbuatan. Semoga.


Anggi Afriansyah peneliti Pusat Sosiologi Pendidikan-Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Pernah menjadi Guru PPKn di SMAI Al Izhar

Artikel ini ditayangkan di https://news.detik.com/kolom/d-4047010/menguatkan-pancasila-dari-ruang-pendidikan

Go to top

Artikel terkait