Ki Hadjar Dewantara adalah pemikir besar pendidikan Indonesia, Bapak Pendidikan Nasional. Sayangnya gagasan besarnya tidak dipelajari secara saksama, juga dipraktikan di ruang-ruang pendidikan di Nusantara secara memadai. Sebagian besar kita mungkin hanya mengenal istilahtut wuri handayaniyang digunakan dalam logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Juga mengenalnya karena setiap 2 Mei, hari kelahirannya, dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Namanya diingat, namun hanya dalam upacara dan ceramah-ceramah pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara merupakan bagian dari tiga serangkai, bersama Tjipto Mangunkusumo dan Soetomo, yang membuat kegemparan di zaman kolonial. Ia menulisAls ikeen nederlander was(Andaikan Aku Seorang Belanda) dengan gagah, yang memprotes perayaan ulang tahun Ratu Belanda secara berlebihan. Savitri Scherer (1985) mencatat Suwardi --nama muda Ki Hadjar-- sebagai sosok pertama yang menyatakan ketidakwajaran situasi ketika itu, melawan kolonial dengan tulisannya. Ia begitu keras mengkritik pemerintah kolonial melalui pena.

Meminjam istilah yang digunakan Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983, Ki Hadjar Dewantara tergolong sebagai pemikir jenius, tekun, gigih, imajinatif, dan visioner yang mampu berpikir serta berbuat jauh mendahului sesuatu yang umum berlaku pada zamannya (St Sularto, 2016). Sebagian besar dari kita, rasanya tidak membaca ide-ide besar Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan secara memadai. Bahkan di kampus-kampus yang menyiapkan guru masa depan atau LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), wacana dan praktik pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara tidak menjadi diskursus dominan.

Demikian pula di jagad pemikiran pendidikan di Indonesia. Praktik pendidikan ala Ki Hadjar juga tidak beroperasi optimal di ruang-ruang pendidikan formal. Ide-ide besarnya justru lebih banyak beroperasi di ruang-ruang pendidikan alternatif, pendidikan yang digagas oleh komunitas yang bergerak mandiri. Pikiran dan gagasannya didiskusikan serta dipraktikan oleh beragam komunitas dalam upaya memberdayakan masyarakat.


Jika meminjam istilah Foucault adadiscontinuity, keterputusan gagasan maupun praktik pendidikan yang dahulu dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara hingga saat ini. Sehingga menilik, memeriksa ulang, mendiskusikan, dan merefleksikan gagasan Ki Hadjar Dewantara agar sesuai dengan konteks kekinian menjadi salah satu bagian penting yang perlu dilakukan. Apalagi tantangan bagi dunia pendidikan semakin kompleks.

Inti dari semangat perjuangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah pada penguatan kapasitas rakyat. Ia menyebut bahwa mendidik anak adalah mendidik rakyat. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara untuk memperkuat rakyat adalah melalui arena pendidikan. Pada Kongres Permufakatan Persatuan Pergerakan Kebangsaan Indonesia (PPKI) ke I pada 31 Agustus 1928 di Surabaya Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa segala daya upaya untuk menjunjung derajat bangsa tak akan berhasil kalau tidak dimulai dari bawah.

Menurutnya, rakyat yang sudah kua, akan pandai melakukan segala usaha yang perlu atau berguna untuk kemakmuran negeri (Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1972). Apa yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara melalui Taman Siswa merupakan aplikasi terbaik dalam upaya mendidik rakyat. Ketika itu konteksnya tentu saja dalam melawan pemerintah kolonial. Sehingga tak heran jika Taman Siswa ketika itu dianggap sebagai sekolah liar (wilder schoolen).


Pengajaran, menurut Ki Hadjar Dewantara harus ditujukan ke arah kecerdikan murid, selalu bertambahnya ilmu yang berfaedah, membiasakannya mencari pengetahuan sendiri, mempergunakan pengetahuannya untuk keperluan umum. Apa yang disampaikannya puluhan tahun tersebut relevan dengan kondisi kekinian di mana anak-anak diharapkan lebih mandiri dalam mencari beragam keilmuan melalui pembelajaranactive learning.Bahwa pengetahuannya harus bermanfaat bagi kemasalahan sesamanya.

Kita tentu bersepakat dengan apa yang dinyatakan oleh Bapak Pendidikan Nasional tersebut. Pendidikan memberikan harapan bagi anak bangsa yang menempuhnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, mendapatkan pencerahan dan pencerdasan, pekerjaan yang lebih baik juga kehidupan yang lebih baik.

Hal teramat penting dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah pada pengejawantahan pendidikan yang begitu humanis. Pendidikan harus memerdekakan, ujarnya. Maka pendidikan harus mengedepankan proses yang berupaya untuk mengkreasi anak-anak yang mampu berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri. Selain itu pengajaran yang selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa (Majelis Luhur Pesatuan Tamansiswa, 2013).

Ajaran dan anjuran Ki Hadjar amat relevan dengan kondisi kekinian, di saat kita dihadapkan dengan problem kebangsaan seperti kekerasan di dunia pendidikan, radikalisme, politik yang penuh kebencian, dan pengabaian pada pentingnya penguatan karakter. Sebab itu, kontekstualisasi ajaran Ki Hadjar Dewantara di zaman kini menjadi amat penting.

Ajaran dan ujaran Ki Hadjar Dewantara tidak boleh hanya menjadi monumen yang eksis diziarahi sesekali pada momen Hari Pendidikan Nasional saja. Hari Pendidikan Nasional menjadi momen yang tepat untuk kembali mempelajari gagasan dan praktik pendidikan ala Ki Hadjar, dan mempertautkannya dengan kondisi kekinian. Sudah semestinya pemikiran dan sikap merdeka sang Bapak Pendidikan Nasional menjadi teladan bagi pendidikan di Indonesia.

Oleh Anggi Afriansyah

Dimuat dalam https://news.detik.com/kolom/d-4000699/ki-hadjar-dewantara-dan-pendidikan-kini

Go to top

Artikel terkait