Opini

Lowongan CPNS sebagai Juru Selamat Pengangguran

 Triyono*

 

Setelah tiga tahun tidak dibuka karena ada program moratorium, akhirnya lowongan CPNS kembali dibuka tahun ini. Dibukanya lowongan CPNS bagai oase di gurun pasir bagi pencari kerja. Seleksi CPNS tahun ini terbagi dalam dua gelombang yaitu gelombang pertama melibatkan dua instansi yaitu Kementerian Hukum dan HAM dan Mahkamah Agung (MA) dan gelombang kedua melibatkan lebih dari 61 Kementerian/Lembaga dan satu Pemerintahan Daerah (Pemda).

Pada gelombang pertama menyediakan total 19.210 formasi. Kemudian gelombang II sebanyak 17.928 formasi. Oleh karena itu jika ditotal pada tahun ini pemerintah membuka lowongan CPNS sebanyak 37.138 formasi.

Juru Selamat

Hiruk pikuk penerimaan CPNS semakin kencang setelah gelombang kedua dibuka. Hal ini tidak terlepas dari berbagai sudut pandang mengenai profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN). Setidaknya ada dua perspektif yang melatarbelakangi mengapa pembukaan CPNS selalu ramai dan sangat laku peminat.

Perspektif pertama karena tingkat pengangguran di negara kita yang masih cukup tinggi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan data BPS pada Februari 2017 tercatat 5,33 persen atau 7,01 juta orang dari total angkatan kerja sebanyak 131,55 juta orang.

Dari jumlah pengangguran terbuka 7.01 orang juta itu sebagian besar berpendidikan SMA ke atas, dengan jumlah 3.792.560 orang atau 54,1 persen. Besarnya jumlah pengangguran tingkat pendidikan menengah ke atas tersebut menjadikan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat.

Oleh karena itu tidak mengherankan ketika ada pembukaan lapangan pekerjaan berupa CNPS langsung menjadi tujuan utama para penganggur, dan sekaligus pekerja yang menginginkan status pekerja tetap.

Ketatnya persaingan dalam seleksi CPNS tidak dapat terhindarkan. Hal tersebut dapat terlihat dari rilis data BKN pada 31 Agustus 2017 bahwa rekapitulasi akhir pelamar CPNS di Kemenkumham dan MA tercatat 1.137.731 pendaftar. Itu baru gelombang pertama yang meliputi dua instansi.

Bagaimana dengan gelombang kedua yang dibuka meliputi 61 Kementerian/Lembaga dan satu instansi Pemda yang secara keseluruhan menawarkan formasi yang lebih lengkap dengan berbagai jenis jurusan keilmuan pelamar? Prediksi pelamar pun akan lebih besar karena dalam hal ini bukan hanya pengangguran saja yang melamar, namun juga yang telah memiliki pekerjaan tetap atau setengah menganggur.

Kemudian perspektif kedua yang menyebabkan CPNS semakin menarik adalah status sebagai pekerja tetap. Hal ini tentunya dipengaruhi juga dengan kondisi pasar kerja nasional di mana masih ditemui pekerjaan yang bersifat kontrak dan outsourcing.

Tentunya pelamar akan memilih yang jenis pekerjaan tetap dan tentunya memilih untuk mendapatkan pensiun dan gaji yang pasti. PNS sebagai salah satu profesi yang memberikan hal tersebut sehingga masih menyihir berbagai lapisan masyarakat untuk tetap berusaha menjadi PNS meskipun berkali-kali mengikuti tes.

PNS ibaratnya prestisius dalam kelas sosial yang melekat dan belum hilang, meskipun saat ini pemerintah telah mengubah dengan adanya reformasi birokrasi. Salah satunya dengan hadirnya Undang-undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Kegagalan Pendidikan

Tingginya minat terhadap CPNS menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita belum mampu menyiapkan anak didik untuk berwirausaha dan masih sangat bergantung dengan lowongan CPNS. Dunia pendidikan bagai pabrik pencetak untuk lulusan siap kerja bukan pembuat kerja mandiri.

Akibatnya, ketika lulus telah dilalui hanya seminggu saja para lulusan tersebut gembira. Setelahnya mereka akan pusing karena bingung mau apa yang dikerjakan.

Adanya fenomena CPNS ini menjadi pelajaran yang sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Diperlukan kebijakan pemerintah dalam menyongsong berbagai tantangan khususnya dalam penyiapan anak didik untuk menjadi pengusaha. Dengan demikian para lulusan tidak menambah jumlah pengangguran, namun justru menjadi penyelamat bagi perekonomian negara.

Lebih lanjut adanya lowongan CPNS ini tidak menjadi juru selamat, satu-satunya jalan dalam mengurangi angka pengangguran. Karena bagaimanapun jumlah pelamar dengan formasi yang diterima sangat jauh proporsinya. Jika hal ini tidak dilakukan maka siap-siap saja jumlah pengangguran akan meningkat.

Sisi lain yang mengkhawatirkan, jika pengangguran tersebut adalah pengangguran terdidik maka menimbulkan disharmonis sosial dan politik.

 

*) Peneliti Ketenagakerjaan pada Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Dimuat di Kolom Detik News, Senin, 18 September 2017

https://news.detik.com/kolom/3647767/lowongan-cpns-sebagai-juru-selamat-pengangguran

Terpopuler

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait