Opini

Mewarnai Anak Bangsa

Oleh: Anggi Afriansyah*

APA ilmu pengetahuan dari sekolah hanya selaput tipis kering yang mudah tanggal, atau benar-benar berakar (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia). Kata-kata itu diambil dari salah satu dialog Minke dengan Miriam de la Croix di buku Bumi Manusia karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer. Kata-kata yang tetap relevan untuk menjadi bahan pertanyaan dan renungan bagi kita bersama. Apakah pengetahuan yang didapat di sekolah akan dilupakan atau diingat sepanjang masa?

Beberapa akademisi sudah mengkritik dan menggugat lembaga sekolah sejak lama seperti Everett Reimer (School Is Dead, 1971), Illich (Deschooling Society, 1973), dan Roem Topatimasang (Sekolah itu Candu, 1998). Salah satu kritik yang paling sering diungkapkan ialah betapa sekolah mencerabut anak didik dari realitas kesehariannya. Kondisi yang masih menggejala sampai hari ini.

Kita tahu, betapapun banyaknya kritik terhadap proses persekolahan, hingga kini sekolah masih tetap dianggap memegang peran penting dalam mewarnai anak bangsa di negeri ini meskipun kita tentu prihatin ketika proses pendidikan di sekolah masih jauh dari janji pencerahan dan percerdasan bagi anak bangsa. Tak jarang pendidikan hanya berkisar pada penguatan kompetensi semata dan justru menumpulkan kreativitas anak bangsa.

Sudah sepatutnya seluruh elemen pendidikan menyadari sekolah bukanlah pabrik yang hanya berfungsi memproduksi para pekerja siap pakai bagi dunia industri. Pendidikan tak menjadi boleh tereduksi hanya sebagai medium penyiapan tenaga kerja belaka. Pembelajaran di sekolah harus memberikan penguatan kepada para peserta didik agar tak selalu berpikir dan bercita-cita untuk bekerja di dunia industri saja.

Keberhasilan seseorang tidak sekadar didasarkan pada kompetensi yang mumpuni di bidang pekerjaannya saja. Banyak variabel lain yang begitu berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang. Mulai mentalitas, semangat juang, jiwa kepemimpinan, kreativitas, hingga daya kritis menjadi bagian yang sangat penting. Internalisasi nilai-nilai tersebut mesti diperkuat dunia pendidikan kita. Pendidikan di sekolah tentu saja harus memberikan ruang untuk mengembangkan imajinasi juga menjadi medium untuk memantapkan sikap dan karakter peserta didik. Keberhasilan mendidik bergantung pada kemampuan sekolah secara efektif untuk mengondisikan lingkungan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak bangsa dan menciptakan habitus yang memungkinkan mereka menjadi lebih kreatif, perduli sesama, mandiri, dan memiliki semangat kebangsaan.

Program yang dirancang harus asyik dan menyenangkan. Jika tidak, anak akan semakin merasa terpenjara pada rutinitas keseharian di sekolah yang justru akan menumpulkan kreativitas. Sekolah akan jadi sangat menyenangkan jika guru-guru di sekolah menjadikan setiap peserta didik dapat bercerita tanpa rasa ragu dan malu. Menjadikan para peserta didik menjadi dirinya sendiri dan dengan berani mengungkapkan impian di masa depan tanpa canggung dan khawatir ditertawakan.

Sekolah akan sangat menyenangkan jika guru-guru di kelas tidak mudah menghakimi seorang anak berdasarkan kecerdasan kognitif semata. Membagi anak kepada kelas-kelas tertentu berdasarkan tes kecerdasannya. Sekolah akan sangat mengasyikkan jika anak didik diperlakukan secara setara, sebab mereka sama-sama anak bangsa yang berhak mendapatkan pendidikan.


Sekolah akan bermakna jika ruang-ruang kelas mampu menghadirkan proses pendidikan yang memampukan anak-anak menjadi individu yang cerdas, kreatif, mandiri, komunikatif, inovatif, adaptif, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat. Menjadikan proses pendidikan yang kemudian menciptakan anak-anak yang dapat berkolaborasi dengan sesamanya juga dapat mampu menyelesaikan beragam persoalan bangsa. Di masa depan, merekalah yang akan bekerja keras untuk memajukan bangsa ini.

Gagasan Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan yang memerdekakan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat, juga bersifat kebangsaan masih sangat relevan ditinjau ulang. Pembentukan akal budi, penguatan karakter, pencerdasan pikiran, penguatan nalar, kemampuan untuk toleran merupakan kata kunci agar pendidikan berhasil mengkreasi manusia-manusia yang bermanfaat bagi sesama dan mengabdi pada kemanusiaan.

Pengajaran bagi peserta didik dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara harus meningkatkan kecerdasan, memperoleh ilmu yang bermanfaat, memampukan untuk belajar secara otonom, dan menggunakan ilmu untuk masyarakat. Selain itu, pendidikan harus selaras dengan kehidupan anak, sesuai dengan zaman dan tempat, dan memungkinkan terjadinya percampuran antarbangsa.
Pendidikan tidak boleh memisahkan anak-anak dari kondisi sosial budaya kesehariannya. Pendidikan harus mendekatkan mereka dengan realitas keseharian karena mereka akan hidup dan berjuang dengan masyarakat. Keluarga, masyarakat, dan sekolah ialah elemen kunci keberhasilan pendidikan. Selain itu, pendidikan yang diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat juga belum mendapat perhatian memadai.

Kita tentu berharap dunia pendidikan dapat berkontribusi melahirkan anak-anak bangsa yang tak hanya cerdas dan produktif, tetapi juga secara bebas menentukan nasibnya sendiri. Anak bangsa yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan adaptif tentu akan mampu untuk menentukan pilihan-pilihan hidup di masa datang secara merdeka. Mereka akan memiliki kedaulatan penuh dalam memilih masa depan. Mereka yang akan mewarnai Indonesia dengan semarak di masa-masa mendatang.

 

*) Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait