Menjaga Independensi Serikat Buruh

 Triyono*

 

DARI peringatan May Day 1 Mei lalu, tampak jelas bila intensitas gerakan buruh terasa mulai menurun dibandingkan ketika awal reformasi. Menurunnya gerakan buruh diakibatkan berbagai persoalan yang menghinggapi mulai dari kesejahteraan hingga adanya kemajuan teknologi informasi. Selain persoalan tersebut kondisi buruh saat ini juga dihadapkan dengan perubahan tata politik yang pada akhirnya melahirkan perubahanperubahan kebijakan terhadap buruh di antaranya kebijakan pengupahan dan kebebasan berserikat.

Meskipun 1 Mei sudah menjadi hari libur nasional bukan berarti akhir perjuangan buruh. Karena di sisi lain masalah yang krusial adalah perkembangan kapitalisme global yang semakin menggurita melalui perjanjian-perjanjian internasional seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Perjanjian-perjanjian internasional jika tidak disikapi dengan bijaksana maka akan berdampak luar biasa yaitu tersingkirnya buruh lokal.

Basis Industri

Berbagai kepentingan ekonomi internasional pada akhirnya akan melahirkan reproduksi cengkeraman terhadap penguasaan ekonomi termasuk dalam hubungan industrial. Adanya berbagai tantangan tersebut pada akhirnya berdampak luas terhadap gerakan buruh. Perubahan tersebut dari segi kualitas maupun kuantitas juga dari segi independensi gerakan buruh sendiri.

Di sisi lain gerakan buruh ini semestinya bisa berkembang dengan jumlah basis massa yang besar dan kuat karena telah didukung undangundang. Namun yang terjadi justru organisasi serikat buruh berkembang pesat namun dari segi jumlah buruh yang terlibat tidak berkembang dan luas. Dapat dikatakan bahwa gerakan buruh hanya berkembang di basis kawasan industri saja seperti Batam, Karawang dan Bekasi. Akibatnya advokasi terhadap hak-hak normatif buruh tidak merata.

Gerakan buruh telah terlindungi dengan ke luarnya Undang-undang No 21 Tahun 2000 Tentang Serikat Pekerja/Buruh. Di dalam Undangundang No 21 Tahun 2000 Pasal 1 Ayat (1) disebutkan serikat pekerja atau buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan. Bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja dan buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.

Godaan Parpol

Selain itu godaan dari partai politik juga membayangi gerakan buruh saat ini. Jika gerakan buruh berselingkuh dengan partai politik maka gerakan yang dibawa sudah tidak murni lagi karena adanya berbagai kepentingan. Karena itu independensi perjuangan serikat buruh sebagai organisasi yang loyal terhadap perjuangan buruh harus dijaga.

Masuknya buruh dalam partai politik bukan hal yang baru dalam sejarah perpolitikan nasional. Disinilah jebakan ke luarnya Undang-undang Kebebasan Berserikat No 21 Tahun 2000. Bagi buruh ke luarnya undang-undang tersebut sebagai kemerdekaan dalam berserikat. Namun di sisi lain dengan mudahnya buruh membuat organisasi serikat buruh pada akhirnya melemahkan buruh sendiri. Kelemahan tersebut dapat terlihat ketika dalam perwakilan Tripartite Nasional khususnya dalam membahas upah. Pemerintah dan pengusaha susah untuk menentukan perwakilan buruh. Hal ini karena menjamurnya serikat buruh.

Padahal hadirnya serikat buruh seharusnya menjadi barometer tingkat kedewasaan demokrasi sekaligus kesejahteraan buruh. Jangan sampai hadirnya serikat buruh hanya menyejahterakan pengurus-pengurusnya saja. Namun juga anggota buruh secara menyeluruh. Untuk itu serikat buruh harus memiliki paradigma bahwa suara buruh harus mampu bersatu. Tidak terpecah-pecah karena beda pendapat bahkan beda pendapatan. Kalau hal ini yang terjadi maka menunggu waktu gerakan buruh akan selalu dihindari oleh kalangan buruh sendiri bahkan masyarakat secara luas.

Menjaga serikat buruh untuk independen dalam perjuangan sangat dinantikan. Jika mau terjun ke politik maka seharusnya membuat wadah tersendiri tanpa harus terikat dengan afiliasi politik tertentu.

*) Peneliti Ketenagakerjaan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 3 Mei 2017

http://krjogja.com/web/news/read/31764/Menjaga_Independensi_Serikat_Buruh

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait