Opini Media Indonesia

Karakter Kepemimpinan Jakarta

Oleh Andy Ahmad Zaelany*

 

KETIKA memulai penelitian di Jakarta Jerome Tadie (2009) sempat terperangah. Apa patsal ? Inilah daerah yang paling berlumur kekerasan dan peran preman yang signifikan. Ibu Kota Jakarta yang menjadi sentral pengembangan ekonomi Indonesia, pusat dinamika politik, pusat kemajuan dalam segala hal, memiliki wilayah kekerasan begitu banyak. Ali Sadikin barangkali  Gubernur DKI Jakarta yang dinilai paling berhasil hingga kini dalam mengelola provinsi dengan begitu banyak wilayah kekerasan.

Sebagai seorang marinir, dia orang yang dikenal berani berkelahi semenjak kanak-kanak, tidak hanya membenamkan diri di sekolah, tapi juga tersosialisasikan dengan budaya jalanan (street culture), bersuara keras, dan kurang mengikuti protokol.

Ketika Presiden Soeharto sedang berceramah di depan banyak orang, dialah satu-satunya orang yang berani menginterupsinya. Ketika lalu lintas Jakarta macet, dia turun dari mobilnya dan langsung mengatur lalu lintas. Dia juga berani mengobrak-abrik kuburan untuk keperluan pembangunan.

Dia juga membangun Taman Ismail Marzuki, mengembangkan kesenian, dan menyelenggarakan berbagai acara yang di dalamnya dia tidak segan-segan turun berjoget. Tentunya yang paling sensasional, dialah orang pertama yang melakukan lokalisasi pelacuran dan juga hendak melakukan lokalisasi perjudian.

 

Menangani problem Jakarta

Problem pembangunan Kota Jakarta yang begitu berat membutuhkan pemimpin yang tangguh. Jakarta ialah suatu melting pot ketika masyarakat dari beragam suku, berbagai agama, berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mengadu nasib di Ibu Kota. Dia seharusnya bukan typical leader bagi suatu kelompok masyarakat tertentu (monomorphic).

Pemimpin yang dibutuhkan Jakarta seyogianya seorang manajer yang mampu mengelola berbagai keragaman yang ada di Jakarta sehingga dia seharusnya seorang polymorphic manager (Denis L.Wilcox, 2001) yang mampu mengelola berbagai keragaman dengan ciri-ciri mudah menyesuaikan diri dengan masyarakat dan kompeten.

Masalah paling utama pembangunan di Jakarta tentulah kependudukan. Kota yang begitu padat dengan migrasi masuk tertinggi di Indonesia. Kota yang jumlah penduduk di waktu siang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan malam hari. Orang berduyun-duyun ke Ibu Kota karena di sinilah pusat kegiatan ekonomi Indonesia dan di sinilah pusat kemajuan dalam berbagai hal. Kemacetan lalu lintas dan pembangunan infrastruktur yang selalu tertinggal pastilah akan memusingkan siapa pun yang menjadi gubernurnya.

Masalah kedua tentulah mengatasi kesenjangan ekonomi yang melahirkan begitu banyak jumlah slum area (daerah kumuh), kriminalitas, kerusuhan, dan kemiskinan. Masalah ketiga, bagaimana mengelola sekaligus berbagai kegiatan kesenian dan pendidikan, riuhnya politik, gegap gempita pelbagai kegiatan bisnis yang menjadi kiblat negeri ini, merupakan takdir yang sungguh menjadi beban bagi siapa pun yang terpilih menjadi gubernur.

 

Karakter kepemimpinan

Ketegasan dan keberanian Ali Sadikin telah membawa Jakarta ke arah kemajuan yang luar biasa dan menjadi fondasi pembangunan Jakarta hingga saat sekarang walau tidak jarang harus menabrak hal-hal tabu secara adat masyarakat maupun agama. Dia dianggap brintik dengan semua perilaku, tindakan dan kebijakannya, tapi tak seorang pun menyangkal kehebatannya dalam membangun Ibu Kota. Kenapa brintik?

Legenda Ciung Wanara selalu dikaitkan dengan ayam aduannya, si jelug bulunya brintik, bulunya warna-warni, dan tak terkalahkan dalam bertarung. Kemudian menyebar keyakinan kalau ayam yang dipilih bertarung untuk fighting cock (adu ayam) sebaiknya bukanlah ayam yang single colour bulunya, misalnya, hanya berbulu putih atau berbulu hitam. Ada kepercayaan ayam seperti itu dianggap kurang punya daya tahan yang bagus. Ringkasnya, sekali kena patuk lawan, dia akan segera keok dan menyerah. Berbeda dengan ayam yang brintik dianggap kiyeng (tangguh, bahasa Jawa) dan gigih dalam bertarung. Oleh sebab itu, ayam jagoan umumnya ialah brintik.

Perjalanan bangsa ini menunjukkan banyak juga pemimpin-pemimpin masyarakat yang muncul dan bahkan melegenda ialah orang yang brintik, seperti bandit, perompak, anak jalanan. Orang brintik ini bisa diartikan sebagai pribadi yang keabu-abuan (grayish). Dia bukan orang saleh sepenuhnya. Hidupnya ditempa dengan berbagai kekerasan dan kesulitan yang mewujudkan pribadi yang pemberani, tegas, dan piawai dalam menyelesaikan masalah kemasyarakatan.

Kisah Ken Arok yang semula terkenal sebagai begal dengan julukan Hantu Padang Karautan menapak dengan pasti menjadi salah satu Raja Singasari yang terkenal. Mahapatih Gadjah Mada tokoh termasyhur dari Kerajaan Majapahit bukanlah keturunan bangsawan. Asal usulnya tidak diketahui walau diduga dari Sumatra, bahkan masa lalunya hingga kini masih samar. Keberanian, kegagahan, dan kemampuannya menyusun strategi perang telah melebarkan wilayah Kerajaan Majapahit hingga merambah wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia Timur.

Adapun orang yang sangat dikenal hingga kalangan bawah tidak pelak lagi ialah Sunan Kalijaga yang semasa mudanya distigma sebagai begal, perampok, dan pemerkosa. Dia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya, tapi keprihatinannya terhadap nasib rakyat jelata telah mendorongnya berperilaku yang menimbulkan citra yang buruk bagi dirinya. Perjalanan hidupnya yang penuh warna: kekerasan, perjuangan nasib masyarakat, dan upaya mendekatkan diri pada yang Mahapencipta telah mengangkat dirinya sebagai salah satu dari Wali Sanga yang terdepan. Pribadinya yang brintik itu telah menjelmakan dirinya menjadi pemimpin masyarakat yang dikagumi sepanjang masa.

Sering kali orang-orang seperti itu yang dipilih masyarakat menjadi pemimpin. Pemimpin masyarakat seperti itu dianggap tangguh dan taktis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat. Saya teringat dengan para Punggawa di Sulawesi Selatan (Pelras, 2000; Zaelany, 2007) yang menjadi pimpinan dalam masyarakat nelayan. Mereka tersosialisasikan dengan budaya laut, bukan hanya menjadi anak sekolahan, sehingga mereka umumnya berani berkelahi, tegas dalam menentukan sikap, dan piawai menyelesaikan masalah. Siapakah gerangan tokoh brintik yang seharusnya seorang polymorphic manager yang akan dipercaya masyarakat untuk memanggul sengkarut beban pembangunan Ibu Kota ini ? Kita tunggu saja !

 

*Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Dimuat di Media Indonesia, Sabtu, 22 October 2016 13:56 WIB

http://www.mediaindonesia.com/news/read/73505/karakter-kepemimpinan-jakarta/2016-10-22

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait