Ada tiga masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai dampak dari pandemi COVID-19 ini, yaitu masalah pengamanan kesehatan penduduk, masalah perlindungan sektor usaha dan masalah kriminalitas. Diantara ketiganya masalah kriminalitas nampaknya kurang memperoleh perhatian. Padahal data dari pihak Mabes Polri menyebutkan  telah terjadi peningkatan kriminalitas sebesar 19,72 persen dari masa sebelum terjadi pandemi COVID-19 (Ridhoi,2020).

Angry youth istilah yang pernah populer tentang kenakalan pemuda di Pakistan saat kondisi ekonomi negara memburuk (APYouthNet,2014). Anak-anak muda itu mendadak menjadi beringas dan sangat mudah tersulut emosinya. Perkelahian di jalanan sangat sering berlangsung dengan menggunakan senjata yang variasi lokalnya sangat terlihat, technology locality (Zaelany, 2002). Fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia. Tawuran maupun tindakan melukai orang lain sering terjadi, bahkan tidak jarang terjadi tanpa sebab. Orang menduga-duga social jealousy menjadi alasan terpendam yang menerbitkan tindakan brutal tersebut. Namun saat sekarang, di tengah-tengah terjadinya pandemi COVID-19 di Indonesia, orang pun mulai melihat suramnya ketenagakerjaan dan perubahan rumah tangga menjadi penyebab meningkatnya kriminalitas.

Di masa pandemi COVID-19 terjadi banyak PHK (pemutusan hubungan kerja) yang tentunya akan meningkatkan drastis jumlah pengangguran dan berbagai jenis kriminalitas akan ikut merebak. Dari survei tim kolaborasi P2K, Lembaga Demografi UI dan Kemenaker (Ngadi dkk.,2020) diprediksikan 2 – 3 bulan ke depan (Agustus 2020) pengangguran  akan bertambah 25 juta orang yang terdiri dari 10 juta pekerja mandiri dan 15 juta pekerja bebas menganggur. Selain itu, salah satu hasil survei tersebut menyebutkan bahwa pekerja muda antara umur 15 sampai dengan 24 tahun yang terbanyak mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kenakalan yang menjurus ke arah tindakan kriminal yang membahayakan orang lain tersebut saat kini marak di kota-kota besar di Indonesia, diantaranya di Yogya dan di Gorontalo. Di Yogya dikenal sebagai Klitih, di Gorontalo di kenal sebagai Panah Wayer, dan Begal di berbagai daerah merupakan fenomena kriminalitas yang semakin sering kita dengar terjadi di berbagai provinsi di Indonesia (Litbang Polri, 2020).

Perubahan Keluarga

Perbuatan kriminal tersebut pelakunya sebagian besar anak muda yang masih berada di bangku sekolah menengah (SLTA), dan sebagian lagi sudah usia kerja ataupun masih mahasiswa. Kini di masa krisis sosial yang terjadi akibat pandemi global COVID-19, kejadian perilaku menyimpang seperti Klitih, Panah Wayer maupun Begal makin sering terjadi. Anak-anak muda sering kita temui bergerombol malam hari minum-minuman keras, terkadang ditemukan sedang menikmati narkotika. Umumnya para pelaku ditemukan dalam tiga kondisi bersamaan: kumpul-kumpul dengan peer group nya, minum miras (alkohol) dan kadangkala disertai dengan menikmati narkotika (Litbang Polri, 2020).

Dari anak-anak muda yang tertangkap karena melakukan kriminalitas, umumnya berasal dari keluarga yang saya sebut sebagai anomaly family (Zaelany, 2016). Orang tua si pelaku biasanya bermasalah seperti telah bercerai, pengangguran, pelaku kriminal dan temperamental. Sebagian anak muda tersebut ada juga yang perantau dari daerah lain dan tinggal serumah dengan teman-temannya. Ada yang orang tuanya bekerja sebagai TKI atau TKW di luar negeri, sehingga ia tinggal bersama kakek neneknya atau tinggal bersama pamannya. Sebagian pemuda tersebut juga sudah ada yang menikah, namun suasana rumah tangga yang tidak harmonis menggiring mereka untuk menjalani kehidupan kriminal (Litbang Polri, 2020).

Kriminalitas, Ketenagakerjaan dan Pandemi

Bessan (1995) menyebutkan bahwa anak-anak muda pada dasarnya masih labil dan mudah terjerumus ke dalam kriminal bila ada pengaruh-pengaruh buruk. Pengangguran juga merupakan pendorong besar bagi anak-anak muda untuk melakukan tindakan kriminal seperti tawuran, begal hingga membunuh sang korban. Berlangsungnya pandemi COVID-19 terbukti meningkatkan angka kriminalitas secara drastis, misalnya kasus Provinsi DKI Jakarta angka kriminalitas meningkat 10 persen dalam satu bulan setelah terjadinya pandemi COVID-19 (CNN Indonesia 27 April 2020). Pelakunya sebagian besar adalah anak-anak muda. Mereka melihat badai pengangguran di depan mata mereka. Baik mereka yang masih di bangku pendidikan  atau masih bersekolah maupun yang sudah berada di dunia kerja, ancaman pengangguran menghantui mereka dan mendorong mereka untuk melakukan tindakan kriminal seperti tawuran, begal, pencurian, minuman alkohol maupun narkotika.   

Seseorang yang bekerja akan menimbulkan harga diri dan berorientasi kepada norma kehidupan yang lebih positif. Ivaschenko (2019) menyebutkan tentang pengalaman Papua New Guinea dalam mengurangi angka kriminal yang tinggi dengan memberikan pekerjaan melalui proses pembimbingan, ternyata efektif menimbulkan kesadaran pada pelaku kriminal untuk mengubah sikap hidupnya menjadi warganegara yang baik.

Hasil survey online yang dilakukan oleh tim kolaborasi P2K LIPI, Lembaga Demografi UI dan Kemenaker (Ngadi dkk., 2020) menunjukkan bahwa anak-anak muda sangat rentan terhadap PHK (pemutusan hubungan kerja) dibandingkan kelompok umur lainnya, apalagi yang berstatus sebagai buruh kontrak atau outsourcing. Suramnya ketenagakerjaan telah mendorong mereka untuk terjun ke dunia kriminal dalam label sebagai Begal, Klitih, Panah Nyawer dan lain-lain. Upaya mengatasi lonjakan angka kriminal ini dengan bercermin dari kasus Papua New Guinnea adalah dengan menciptakan pekerjaan-pekerjaan untuk para anak muda pelaku kriminal tersebut yang disertai pembimbingan. Bila energi dan waktu mereka terserap pada dunia kerja, dorongan untuk melakukan kriminal akan mengendur.

Ditulis oleh Andy Ahmad Zaelany, Peneliti Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Daftar Pustaka

AP YouthNet (2014).  The threat of Pakistan’s angry young marchers. https://www.bbc.com/news/world-asia-28753844

Bessan, Yudith (1995). Youth, Unemployment and Crime: Policy, Work and ‘the Risk Society’. Working Paper 13. Youth Centre

CNN Indonesia (2020). Kriminalitas di Jakarta Meningkat 10 Persen Selama Corona.https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200427163324-12-497753/kriminalitas-di–jakarta-meningkat-10-persen-selama-corona

Ivaschenko, Oleksiy (2019). Reducing Youth Crime through employment ? An Example from Papua New Guinnea. Urbanet.

Litbang Polri (2020). Laporan Penelitian Tingkat  Kepercayaan Masyarakat Terhadap Kinerja Polri.

Ngadi dkk. (2020). Hasil Survey Online Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Ketenagakerjaan. Tim kolaborasi PPK LIPI, Lembaga Demografi UI dan Kemenaker.

Ridhoi, Muhammad Ahsan (2020). Kriminalitas Meningkat Selama Pandemi Corona, Sebanyak Apa ? https://katadata.co.id/berita/2020/04/22/kriminaitas-meningkat-selama-pandemi-corona-sebanyak-apa

Zaelany, Andy Ahmad (2002). “Becoming the Fish-bomb Fisherman as an Adaptation Strategy in Economy Crisis : Case Study of Pulau Karang, Indonesia”. In : The Role of Dialogue and Networking, From  A Transitional to an Industrialized Country, Proceeding of an International Symposium cum Workshop in Hanoi, Vietnam, halaman 173-199.

Zaelany, Andy Ahmad (2016). Akar Prostitusi Anak. Artikel Opini di Surat Kabar Media Indonesia.

powered by social2s

 

Wabah COVID-19 dirasakan di berbagai lapisan masyarakat termasuk mereka yang berkebutuhan khusus seperti anak-anak penyandang autisme1.  Akibat dari wabah COVID-19 terhadap anak-anak penyandang autisme perlu disikapi secara serius mengingat penyandang autisme termasuk kelompok rentan terinfeksi virus (United Nations, 2020). Selain itu, jumlah prevalensi autisme terus meningkat secara global (Elsabbagh et al., 2012; WHO, 2019). Sebagai contoh di Amerika Serikat, di tahun 2000, satu dari 150 anak didiagnosa berada dalam spektrum autisme. Kurang dari dua dekade kemudian, tahun 2016, statistik tersebut melonjak menjadi satu dari 54 anak masuk dalam spektrum autisme (Maenner, 2020). Indonesia sendiri sampai saat ini belum memiliki data statistik resmi jumlah penyandang autisme (Kementerian Kesehatan, 2016; Priherdityo, 2016). Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2008) memperkirakan ada sekitar 2,4 juta orang penyandang autisme di Indonesia dengan pertambahan penyandang baru 500 orang/tahun. Diperkirakan juga jumlah penyandang autisme di Indonesia semakin meningkat melihat bertambahnya jumlah kunjungan anak ke klinik tumbuh kembang anak setiap tahunnya (Kementerian Kesehatan, 2016).

 

Pendidikan Anak Autisme dan Dampak Perubahannya di Masa Pandemik

Perubahan format kegiatan belajar yang drastis dan dalam waktu singkat akibat wabah COVID-19 mau tidak mau membuat keluarga beradaptasi. Proses adaptasi ini tidak mudah bagi keluarga dengan anak-anak, terlebih bagi anak-anak autisme. Anak autisme umumnya membutuhkan pola rutinitas hidup yang sama setiap harinya. Mereka akan lebih nyaman menjalani hari-hari mereka jika mereka dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada hari itu secara rinci. Tentunya, hal ini sangat berlawanan dengan kondisi pandemik saat ini dan ini membawa dampak yang serius, tidak hanya bagi anak autisme, namun keluarga dan lingkungan sekitarnya.   

Dampak yang paling terasa adalah adalah perubahan tempat dan cara belajar. Di benak anak autisme, tempat belajar adalah sekolah. Pemberlakuan aturan belajar di rumah, sangat sulit bagi mereka untuk memahami mengapa mereka harus belajar di rumah dan melihat guru mereka hanya dari layar komputer. Di beberapa kasus, anak autisme tidak bisa berada dalam kondisi statis seperti duduk dalam waktu yang lama. Pada masa pra-pandemik, guru dapat mendampingi anak-anak ini dengan berjalan keliling ruang kelas atau duduk di lantai dan melakukan kegiatan belajar mengajar lain yang bukan bersifat duduk dan menulis. Namun dengan kondisi sekarang, guru hanya dapat menatap anak dari layar komputer. Orangtua mau tidak mau harus membujuk anak-anak autisme untuk tetap duduk. Usaha ini tidak selalu berhasil dan justru membuat anak-anak stress dan terjadilah tantrum atau ledakan emosi, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, bahkan ke kekerasan seperti menggigit, memukul dan menendang.

Dampak lain yang terasa adalah terbatasnya atau terhentinya kegiatan terapi selama periode tinggal di rumah. Terapi yang biasa diberikan untuk anak autisme adalah terapi sensori, okupasi, wicara dan perilaku. Di Indonesia, terapi umumnya masih dilakukan di klinik-klinik atau rumah sakit sehingga orangtua harus membawa anaknya keluar rumah. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengakibatkan kegiatan terapi pun terhambat ataupun malah terhenti. Terhentinya kegiatan terapi membuat orangtua kembali memegang peranan penting untuk menggantikan peran terapis agar program terapi yang biasanya memiliki target berkala tetap bisa dijalankan di rumah.

 

Kesiapsiagaan Keluarga di Masa Pandemik

Salah satu kunci kesuksesan dalam menghadapi pandemik ini, dan juga kondisi kritis lainnya, bagi penyandang autisme adalah kesiapsiagaan. Keluarga bisa menyusun rencana kegiatan untuk mempersiapkan jika kondisi kritis terjadi. Hal ini dimulai dengan melakukan need assessment atau peninjauan apa saja yang dibutuhkan oleh sebuah keluarga mengingat kebutuhan satu keluarga dengan keluarga yang lain akan berbeda. Ketika menyusun rencana ini, orangtua anak penyandang autisme dapat mendiskusikannya dengan tim pendukung yaitu dokter anak, dokter tumbuh kembang, terapis, guru sekolah, pendamping anak pada saat sekolah (shadow teacher), asisten rumah tangga (jika ada) dan keluarga terdekat sehingga rencana yang dibuat lebih komprehensif dan diharapkan tepat sasaran. Di dalam rencana ini, orangtua juga dapat mendaftarkan nama dan nomor telpon kontak yang mereka anggap penting mulai dari keluarga, teman, kolega, rumah sakit atau klinik terdekat, dan lain sebagainya.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, penyandang autisme sangat membutuhkan rutinitas. Walaupun dengan kondisi pandemik saat ini, kita semua diminta untuk tinggal di rumah, orangtua dapat menyiasati kegiatan anak-anak dengan mengalokasikan beberapa tempat di rumah untuk kegiatan yang berbeda. Sebagai contoh, kegiatan belajar sebaiknya berbeda dengan tempat di mana mereka bermain, makan atau tidur. Orangtua pun dapat membuat jadwal sehari -hari dengan memasukkan komponen visual karena di banyak kasus anak-anak autisme adalah “visual learner” (Raising Children Network, 2018). Dengan cara ini, anak-anak penyandang autisme secara perlahan dan bertahap dapat memahami jadwal yang baru dan akan lebih mudah beradaptasi jika jadwal tersebut memiliki pola yang sama.

Hilangnya jadwal sekolah dan terapi karena pandemik ini, salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mendukung kegiatan pendidikan anak-anak penyandang autisme adalah dengan memberikan jasa pendampingan secara virtual. Para terapis dapat mendampingi anak-anak penyandang autisme secara daring pada waktu-waktu tertentu yang dirasa paling dibutuhkan oleh si anak, misalnya pada saat membuat pekerjaan rumah, membantu mengingatkan mereka (prompting) untuk mengikuti jadwal sehari-hari mereka dan juga ikut bergabung dalam kegiatan yang sifatnya hiburan seperti mendengarkan musik atau berdansa bersama-sama. Kebanyakan dari penyandang autisme ini mungkin akan terlihat tidak acuh (tidak mau melihat layar komputer) tapi sebenarnya mereka mengetahui dan mengerti siapa yang ada di layar komputer tersebut. Hal ini dapat memberikan rasa nyaman bagi anak-anak penyandang autisme karena mereka tahu orang-orang di sekitar mereka sebenarnya tidak “hilang”.

Terakhir, melanjutkan interaksi dan sosialisasi selama pandemik sangat penting untuk anak-anak penyandang autisme. Jika memungkinkan, orangtua dapat mengajak anak-anak mereka berjalan kaki di halaman atau di sekitar rumah dengan tetap menerapkan prinsip social distancing dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Hal ini akan membawa manfaat yang signifikan bagi mereka dan membantu mereka mengatasi perasaan terisolasi.

 

Dukungan Pemerintah Bagi Keluarga Penyandang Autisme

Pemerintah tidak seharusnya menutup mata akan fakta adanya dan meningkatnya penyandang autisme di Indonesia. Terlebih di kondisi pandemik seperti sekarang ini, sikap non-diskriminatif dari pemerintah sangat berarti bagi keluarga dengan anak penyandang autisme dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. Dukungan dari pemerintah dapat diwujudkan antara lain dalam hal penyusunan petunjuk menghadapi pandemik COVID-19 bagi masyarakat berkebutuhan khusus yang merujuk kepada Center for Desease Control and Prevention (2020), penyediaan seminar-seminar daring secara gratis dan penyediaan tenaga medis dan terapis untuk pendampingan keluarga. Perhatian pemerintah terhadap anak-anak penyandang autisme memberikan nafas segar bagi anak-anak ataupun keluarga. Tanpa perhatian menyeluruh dari pemerintah, situasi pandemi dapat semakin meminggirkan anak-anak autisme dari hak-hak yang seharusnya mereka peroleh.

 

Ditulis oleh Andini Desita Ekaputri dan Anggi Afriansyah, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

1 Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang mempengaruhi kemampuan penderita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

 

Daftar Pustaka

CDC. (2020). Centers for Disease Control and Prevention. URL https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/need-extra-precautions/people-with-disabilities.html (accessed 5.23.20).

Elsabbagh, M., Divan, G., Koh, Y.-J., Kim, Y.S., Kauchali, S., Marcín, C., Montiel-Nava, C., Patel, V., Paula, C.S., Wang, C., Yasamy, M.T., Fombonne, E. (2012). Global Prevalence of Autism and Other Pervasive Developmental Disorders. Autism Res 5, 160–179. https://doi.org/10.1002/aur.239

Kementerian Kesehatan (2016). Kenali dan Deteksi Dini Individu dengan Spektrum Autisme Melalui Pendekatan Keluarga untuk Tingkatkan Kualitas Hidupnya [WWW Document]. URL http://kesga.kemkes.go.id/berita-lengkap.php?id=11- (accessed 5.14.20).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2018). Hari Peduli Autisme Sedunia: Kenali Gejalanya, Pahami Keadaannya [WWW Document]. URL https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/31/1682/hari-peduli-autisme-sedunia-kenali-gejalanya-pahami-keadaannya (accessed 5.14.20).

Maenner, M.J. (2020). Prevalence of Autism Spectrum Disorder Among Children Aged 8 Years — Autism and Developmental Disabilities Monitoring Network, 11 Sites, United States, 2016. MMWR Surveill Summ 69. https://doi.org/10.15585/mmwr.ss6904a1

Priherdityo, E. (2016). Indonesia Masih “Gelap” Tentang Autisme [WWW Document]. gaya hidup. URL https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160407160237-255-122409/indonesia-masih-gelap-tentang-autisme (accessed 5.14.20).

Raising Children Network. (2018). Thinking and learning strengths in children with autism spectrum disorder [WWW Document]. Raising Children Network. URL https://raisingchildren.net.au/autism/learning-about-asd/about-asd/learning-strengths-asd (accessed 5.23.20).

United Nations. (2020). World Autism Awareness Day - EN [WWW Document]. United Nations. URL https://www.un.org/en/observances/autism-day (accessed 5.14.20).

WHO. (2019). Autism spectrum disorders [WWW Document]. URL https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/autism-spectrum-disorders (accessed 5.14.20).

powered by social2s

 

Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial betul-betul sedang diuji dalam situasi pandemi ini. Apakah kita hanya sebatas memahami secara normatif nilai-nilai Pancasila tersebut? Atau apakah nilai-nilai tersebut sudah aktual dipraktikan dalam keseharian baik dalam hidup bermasyarakat atau berbangsa? Situasi krisis ini sedang menguji apakah Pancasila telah menjadi pedoman hidup bagi setiap elemen bangsa di negeri ini.

Situasi pandemi ini menunjukan bahwa bersatu padu untuk berhadapan dengan situasi krisis menjadi sangat penting agar negeri ini tetap kokoh. Solidaritas warga di masa pandemi COVID-19 menguat dalam beragam bentuk partisipasi publik untuk membantu tenaga medis maupun warga yang terdampak (Agustina, 2020). Nilai-nilai Pancasila terejawantahkan secara aktual di masa pandemi ketika masyarakat secara sukarela bergotong royong untuk meringankan beban saudara-saudaranya yang kesulitan.

Gotong royong antar sesama adalah salah satu hal yang sangat penting untuk dikedepankan. Meski banyak juga masyarakat yang egois dan tidak memperdulikan orang yang ada di sekitarnya, namun kelompok masyarakat yang perduli terhadap sesamanya masih mendominasi. Contoh-contoh faktual yang terjadi ketika masyarakat saling bahu membahu untuk mengatasi ragam kesulitan yang menerpa ketika pandemi terjadi. Dalam situasi ini, bahkan menjaga diri dan tetap di rumah merupakan bagian penting dari kontribusi untuk menahan laju peningkatan COVID-19.

Selain itu, inisiatif lokal di berbagai penjuru negeri juga menjadi potret baik tentang kehebatan negeri ini dalam upaya menghadapi pagebluk yang terjadi saat ini. Kapital sosial  masyarakat yang senang guyub rukun masih tercermin di banyak tempat. Tak salah jika Bung Karno menyatakan bahwa sari dari Pancasila adalah gotong royong. Dalam pidatonya Bung Karno mengatakan “Jikalau saya peras, yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya katakana dengan satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong, alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong” (Lahirnya Pancasila, edisi Penerbitan Guntur, Yogyakarta, dikutip dari Buku Karya Lengkap Driyarkara, 2006).

Pidato tersebut masih sangat relevan dengan konteks kekinian. Pandemi mengajarkan kembali kepada bangsa ini untuk terus bersatu dan bergotong royong untuk mengatasi beragam problem yang terjadi. Gotong royong merupakan budaya masyarakat Indonesia yang sudah mengakar sejak lama dan saat menjadi kekuatan melawan COVID-19 (Sharon, 2020).Di platform berbagi kitabisa.com misalnya, berbagai elemen sipil masyarakat mengajak untuk memberi donasi bagi semua pihak yang terdampak COVID-19. Donasi tersebut diperuntukkan para pekerja medis, buruh, guru ngaji, pedagang, pengemudi ojek daring hingga satwa. Ini adalah bentuk konkrit gotong royong online di era COVID-19. Kemajuan teknologi membuat ajakan untuk berkontribusi lebih luas cakupannya.

Di media sosial kampanye untuk mendonasikan apapun yang bisa diberikan bagi kelompok marjinal juga mengemuka. Seluruh elemen masyarakat berbuat apa yang mungkin dilakukan meskipun dalam beragam keterbatasan. Kelompok masyarakat yang masih memiliki keleluasaan finansial dengan berbagai mediumnya. Ada yang berupaya menggalang dana, ada yang membagikan nasi bungkus dan minuman, dan aktivitas lainnya. Niatannya satu, meringankan beban bagi mereka yang kesulitan.

Screen_Shot_2020-06-01_at_15.34.53.png

Penggalangan Donasi di kitabisa.com

 

Internalisasi Nilai-nilai Pancasila di Ruang Pendidikan

Ruang pendidikan masih merupakan arena strategis bagi penguatan nilai-nilai Pancasila. Secara normatif internalisasi nilai-nilai Pancasila diberikan melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Ruangnya terbuka lebar apalagi di setiap jenjang pendidikan bahkan sampai pendidikan tinggi pelajaran atau mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Pancasila, ataupun Pendidikan Kewarganegaraan selalu diberikan. Meskipun yang menjadi keterbatasan adalah betapa materi yang diberikan masih sangat berbasis akademik. Padahal dalam konteks internalisasi nilai-nilai Pancasila, muatan pengetahuan saja tidaklah cukup dan membutuhkan aktualisasi dalam praktik keseharian.

Pancasila dalam perbuatan, demikian Yudi Latif (2014) menyebutnya, sebagai laku yang nampak dalam hidup sehari-hari. Maka beragam strategi perlu dilakukan agar anak-anak tidak sekadar tahu dan bisa menyebutkan sila satu sampai lima. Secara akademik tentu diskursus tentang sejarah Pancasila penting, tetapi yang lebih penting adalah praktikalitas dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran bahwa negeri ini didirikan bagi, dalam istilah Bung Karno “semua untuk semua”, yang artinya tidak ekslusif bagi kelompok tertentu menjadi utama. Sehingga setiap anak bangsa memahami pentingnya saling bekerja sama, bahu membahu, dan memiliki rasa solidaritas tinggi meskipun bangsa terdiri dari ragam suku bangsa, bahasa, agama, ataupun kelas sosial.

Momen ini merupakan titik yang tepat untuk dunia pendidikan merefleksikan diri bahwa tujuan pendidikan bukan semata untuk menggapai berbagai capaian akademik. Namun yang paling penting adalah agar anak-anak dapat diajak untuk merefleksikan diri tentang pentingnya nilai-nilai, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai persatuan, nilai-nilai kerakyatan, dan nilai-nilai keadilan sosial yang merupakan hal pokok dari Pancasila. Perwujudan dari semua nilai-nilai tersebut secara aktual menjadi hal yang sangat krusial dan perlu dikokohkan semenjak dini. Strategi yang perlu dilakukan tentu sangat bergantung pada jenjang pendidikan.

Meskipun dalam pembelajaran jarak jauh yang dilakukan kurang lebih selama satu bulan penuh ini semua proses pendidikan menjadi lebih terbatas, tetapi momen refleksi menjadi relatif lebih mudah dilakukan. Anak-anak dapat melihat realitas keseharian di lingkungan sekitarnya. Mereka akan lebih mengenal lingkungan keseharian di rumahnya, karena sehari-hari ada di rumah. Ajak mereka menengok berbagai upaya apa yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat yang kesulitan atau apa yang sudah dilakukan oleh lingkungan sekitar. Upaya kolektif yang dilakukan masyarakat di sekitar mereka tentu merupakan contoh aktual dalam praktik nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya.

Ada beragam kisah aktual tentang kehebatan para siswa yang berbagi di situasi sulit saat ini. Di Kulon Progo siswa MA Alfalah mengajak para siswa untuk menyisihkan sebagian uang jajan untuk diinfakan kepada warga yang kurang beruntung (harianjogja.com, 15/5). SMA Marsudirini Muntilan juga berbagi kepada penduduk jompo (lansia) yang kesulitan selama melalui masa pandemi (Kartyadi, 2020). Di media sosial sekolah-sekolah di banyak tempat di Indonesia juga banyak diwartakan peduli sosial yang dilakukan sekolah. Anak-anak muda harapan bangsa ini membuat berbagai media visual untuk menyemangati para tenaga medis yang berjuang di garda terdepan juga mengkampanyekan pentingnya berdiam di rumah, menaati physical distancing serta memperhatikan protokol kesehatan selama pandemi berlangsung. Tanpa label Manusia Pancasilais, apa yang anak-anak lakukan tersebut adalah aktualisasi nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya. Pihak sekolah, orangtua maupun masyarakat harus mendukung upaya-upaya berbagi kasih ini, sebab hal tersebut adalah justru tujuan pendidikan yang sesungguhnya yaitu laku memanusiakan manusia lain dalam wujud sebaik-baiknya.

Ruang aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam konteks kekinian tentu sangat berbeda dengan di masa lampau. Bahkan, dalam beberapa aspek orang merasa terbebani ketika ditanya apakah yang mereka lakukan sudah sesuai dengan nilai-nilai Pancasila? Di masa lalu bahkan pemerintah secara masif melakukan internalisasi ideologi Pancasila melalui kursus-kursus Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Kritik pun diajukan karena pola tersebut dianggap tidak efektif dan lebih menjadikan Pancasila sesuatu yang doktriner, karena Pancasila ditafsirkan dalam satu tafsir (Bourchier, 2015).

Menyimak kondisi tersebut, tentu kita tidak ingin Pancasila hanya dihapal tetapi tidak terinternalisasi dalam relung budi manusia Indonesia dan terimplementasi di dalam perbuatan sehari-hari. Dalam konteks tersebut, Sukardi Rinakit (2008) menyebut, ketika orang-orang enggan menyebut dan membicarakan Pancasila, gotong royong dapat dijadikan maskot dalam revitalisasi Pancasila. Persatuan dalam keragaman itu dirawat dalam semangat kekeluargaan dengan jiwa gotong royong. Gotong royong dalam pandangan Romo Driyarkara memiliki substansi “ada bersama dengan cinta” (liebendes Mit-sein), sebagai cinta kasih pemersatu sila-sila lainnya. Pada masa revolusi kemerdekaan semangat gotong royong dipupuk oleh para tokoh lintas bangsa, etnis, agama dari kalangan sipil maupun militer (Latif, 2014). Membangun cinta kasih, rasa kemanusiaan, keperdulian terhadap sesama manusia menjadi sangat penting dibangun di tiga ruang atau trisentra dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara, yaitu di perguruan (pendidikan formal), keluarga, dan masyarakat (alam pemuda). Anak-anak muda inilah wajah Indonesia di masa yang akan datang.

Pancasila dalam Tindakan Melalui Gotong Royong menuju Indonesia maju yang menjadi tema harlah Pancasila 1 Juni 2020 merupakan momen tepat untuk merefleksikan kembali aktualisasi Pancasila dalam hidup aktual keseharian. Pada masa ini semangat gotong royong di antara berbagai kalangan adalah kunci bagi kemampuan bangsa untuk bertahan di situasi sulit dan penuh ketidakpastian.

 

Ditulis oleh Anggi Afriansyah, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Pustaka

Agustina S., Susanti. 2020. Menjaga Solidaritas Mencegah Konflik Akibat COVID-19. Sumber: https://kompas.id/baca/riset/2020/05/19/menjaga-solidaritas-mencegah-konflik-akibat-COVID-19/.

Bourchier, David. 2015. Illiberal Democracy in Indonesia: The Ideology of the Family State. New York: Routledge.

BPIP. 2020. Logo dan Tema Harlah Pancasila 1 Juni 2020. Sumber: https://bpip.go.id/bpip/publikasi/1016/647/logo-dan-tema-harlah-pancasila-1-juni-2020.html.

Driyarkara. 2006. Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya (A. Sudiarja (Editor), G. Budi Subanar (Editor), St. Sunardi (Editor), T. Sarkim (Editor)). Jakarta: PT Kompas, PT Gramedia Pustaka Utama, PT Kanisius, Ordo Serikat Jesus Indonesia.

Harianjogja.com. 2020. Ada Pandemi Corona Sekolah di Kulon Progo ini Ajarkan Siswanya Berbagi. Sumber: https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2020/05/15/514/1039220/ada-pandemi-corona-sekolah-di-kulonprogo-ini-ajarkan-siswanya-berbagi.

Kartyadi, Tuti. 2020. SMA Marsudirini Muntilan Berbagi Sembako kepada Warga Dampak COVID-19. Sumber: https://bernasnews.com/sma-marsudirini-muntilan-berbagi-sembako-kepada-warga-dampak-COVID-19/.

Latif, Yudi. 2014. Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan. Bandung: Mizan.

Rinakit, Sukardi. 2008. Tuhan Tidak Tidur (Gusti Ora Sare): Esai Kearifan Pemimpin. Jakarta: Penerbit Kompas.

Sharon, Patricia. 2020. Solidaritas Sosial Buah Manis dari Sejarah Indonesia. Sumber: https://kompas.id/baca/bebas-akses/2020/05/18/solidaritas-sosial-buah-manis-dari-sejarah-indonesia/.

powered by social2s

 

“Pancasila dalam tindakan: melalui gotong royong, menuju Indonesia maju” merupakan tema Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati pada 1 Juni 2020 ini [1]. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang digelar pada kondisi normal, helaran peringatan kali ini dilakukan dalam kondisi yang berbeda akibat pandemi COVID-19 yang melanda seluruh penduduk, tak terkecuali segenap anak bangsa Indonesia, meliputi pemerintah, masyarakat/komunitas, dan semua pihak termasuk swasta dan organisasi civil society (CSO). Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila pun yang biasanya digelar serentak dan masif di berbagai tempat di Indonesia dan perwakilan negara di berbagai penjuru dunia, tempo ini hanya dilakukan secara terbatas. Sebagai penggantinya, tanpa mengurangi esensinya, para peserta upacara upacara dari berbagai lembaga negara, kementerian/lembaga pemerintah, perwakilan negara di luar negeri, dan pemerintah daerah yang tidak mengikuti upacara di Gedung Pancasila, Jakarta dapat mengikutinya dalam jaringan online melalui salah satu aplikasi video conference [2].

Tulisan ini bertujuan menyampaikan telaah singkat terhadap tema tersebut dan refleksinya terkait tata kelola sumberdaya alam (SDA) di Indonesia. Telaaah yang dilakukan berpijak pada kajian pustaka terhadap UUD Negara Republik Indonesia 1945, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Perpres No. 18 Tahun 2020 tentang Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Garis Besar Haluan Ideologi Pancasila, dan berbagai literatur terkait lainnya.

 

Pancasila, Gotong Royong dan Indonesia Maju

Dokumen Garis Besar Haluan Ideologi Pancasila (GBHIP) menyebutkan Pancasila adalah nilai-nilai dasar tata hidup dan penghidupan bangsa Indonesia yang bersumber dari kehidupan bangsa, baik dari pengalaman fakta maupun akal [3][4]. Lebih lanjut, Pancasila dijabarkan sebagai pandangan hidup, dasar negara dan ideologi negara yang saling terkait. Pancasila memuat nilai-nilai yang menuntun tercapainya tata masyarakat adil dan makmur yang memiliki tiga sendi pokok (keadilan, kerakyatan, dan kesejahteraan) dengan berlandaskan pada tiga ciri pokok (keadilan sosial, gotong royong, dan kekeluargaan). Gotong royong menjadi semangat kemanusiaan dan cara berpikir Indonesia.

Dalam visi Presiden dan Wakil Presiden [5] yang menjadi landasan RPJMN 2020-2024 [6] disebutkan bahwa Pancasila adalah bintang pengarah, penggerak, sumber inspirasi, dan sekaligus pemersatu untuk mencapai Indonesia Maju. Indonesia Maju dimaknai sebagai kondisi yang telah sungguh-sungguh berdaulat, mandiri, dan bekepribadian yang diwujudkan dengan kerja gotong royong. Hal ini sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 [7], yaitu negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

 

Refleksi Nilai-nilai Pancasila untuk Tata Kelola Sumberdaya Alam

Untuk mewujudkan visi Indonesia Maju disusun sembilan misi yang merupakan percepatan, pengembangan, dan pemajuan Nawa Cita I serta penerapan Trisakti secara konsisten. Di antara sembilan misi tersebut, setidaknya ada dua misi yang terkait pengelolaan sumber daya alam, yaitu misi nomor 3 (pembangunan yang merata dan berkeadilan) dan nomor 4 (mencapai lingkungan hidup berkelanjutan). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tata kelola SDA untuk mewujudkan Indonesia Maju.

Kembali kepada GBHIP, dokumen tersebut juga memuat nilai-nilai konstekstual Pancasila untuk diterapkan dalam tata kelola SDA, mulai dari penyusunan kebijakan sampai tahap implementasi di lapangan [8]. Pertama, untuk nilai-nilai ketuhanan disebutkan bahwa bangsa Indonesia merasa dirinya bagian dari alam semesta ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang sesuai denhgan konsep ecosentrism. Oleh karena itu, penduduk Indonesia harus mengelola SDA secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Kedua, untuk nilai-nilai internasionalisme/kemanusiaan dicerminkan dengan posisi Indonesia sebagai bagian dari warga global yang mendiami satu planet yang sama, yaitu bumi. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk membangun kolaborasi dan partnership dengan negara-negara lain untuk menjamin keberlanjutan kehidupan dan penghidupan manusia di muka bumi. Hal ini juga sesuai dengan salah satu prinisip pembangunan berkelanjutan, yaitu partnership.

Ketiga, untuk nilai-nilai kebangsaan/persatuan disebutkan bahwa bangsa Indonesia juga muncul karena persatuan antara manusia dan tempat sehingga antara manusia dengan lingkungan alam mempunyai relasi dan interaksi yang kuat (sesuai dengan konsep social-ecological system). Ini menunjukkan apa yang terjadi pada lingkungan alam (ecosystem) akan mempengaruhi sistem sosial (manusia) dan sebaliknya.

Keempat, untuk nilai-nilai kerakyatan (permusyawaratan/perwakilan) dapat dicerminkan dalam sistem tata kelola SDA yang partisipatif dan kolaboratif. Bumi, air, dan kekayaan SDA yang dikandung di dalamnya harus dikelola secara partisipatif dan kolaboratif untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Artinya, tata kelola SDA harus melibatkan peran semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat/komunitas, swasta, dan juga CSO (sebagai jembatan). Peran komunitas lokal yang selama ini cenderung terabaikan atau bahkan diabaikan harus diperkuat lagi, termasuk mengawinkan kearifan lokal masyarakat adat dengan sains modern. Berbagai bukti empiris pengelolaan SDA kolaboratif (co-management) di berbagai tapak dan landscape menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding rezim tata kelola lainnya [9][10].

Kelima, untuk nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan direfleksikan dengan pentingnya mewujudkan kemakmuran yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat; tidak boleh ada seorang pun yang ditinggalkan. Hal ini sesuai dengan prinsip pembangunan dan penghidupan berkelanjutan [11][12][13].

Analisis terhadap konten UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup [14] menunjukkan sebagian besar nilai-nilai Pancasila tersebut sudah tercermin cukup baik. Di bagian Pertimbangan, misalnya, disebutkan bahwa (a) lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana diamanatkan Pasal 26h UUD 1945; dan (b) pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan UUD 1945 diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Empat belas asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam Pasal 2, yaitu (1) tanggung jawab negara;  (2) kelestarian dan keberlanjutan;  (3) keserasian dan keseimbangan; (4) keterpaduan; (5) manfaat; (6) kehati-hatian; (7) keadilan; (8) ekoregion; (9) keanekaragaman hayati; (10) pencemar membayar; (11) partisipatif; (12) kearifan lokal; (13) tata kelola pemerintahan yang baik; dan (14) otonomi daerah, juga dirasakan cukup mengakomodasi nilai-nilai Pancasila. Begitu pun dengan pasal-pasal lainnya yang memuat tujuan serta pentingnya peran masyarakat dalam berbagai rangkaian kolaborasi pengelolaan SDA sudah mencerminkan nilai-nilai Pancasila tersebut.

 

Penutup

Pancasila sebagai bintang pengarah, penggerak, sumber inspirasi, dan sekaligus pemersatu memiliki nilai-nilai yang kontekstual untuk tata kelola SDA demi mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Nilai-nilai tersebut harus menjadi ruh dan pandu dalam tata kelola SDA di Indonesia, mulai dari kebijakan/regulasinya sampai dengan implementasinya, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

 

Ditulis oleh Ali Yansyah Abdurrahim - Peneliti Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Referensi

[1] Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020. https://bpip.go.id/bpip/publikasi/1016/647/logo-dan-tema-harlah-pancasila-1-juni-2020.html

[2] Revisi Undangan Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2020. https://bpip.go.id/bpip/publikasi/1016/648/revisi-undangan-peringatan-hari-lahir-pancasila-tahun-2020.html

[3] BPIP. 2019. Garis Besar Haluan Ideologi Pancasila (GBHIP). Jakarta: BPIP https://bpip.go.id/bpip/publikasi/1059/617/ringkasan-garis-besar-haluan-ideologi-pancasila-gbhip.html

[4] BPIP 2019b. Kedudukan Hukum dan Materi Pokok Garis Besar Haluan Ideologi Pancasila (GBHIP). Jakarta: BPIP. https://bpip.go.id/bpip/publikasi/1059/587/pointer-garis-besar-haluan-ideologi-pancasila-gbhip.html

[5] Joko Widodo dan Maruf Amin. 2018. Meneruskan Jalan Perubahan untuk Indonesia Maju: Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong. https://www5.jetro.go.jp/newsletter/jkt/2018/VISI%20MISI%20FINAL%2022%20SEPT%202018.pdf

[6] Perpres No 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024. https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/131386/perpres-no-18-tahun-2020

[7] UUD Negara Republik Indonesia 1945

[8] Abdurrahim AY dkk. 2020. Desain Prioritas Riset Nasional Penguatan Tata Kelola SDA untuk Mendukung Pencapaian Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): Peningkatan Peran Komunitas dalam Kolaborasi Pengelolaan Ekosistem. Jakarta: Kedeputian Bidang IPSK, LIPI.

[9] Ross H, Adhuri DS, Abdurrahim AY, Penrang A, Rismayani A, Ismainna A 2018 FishCollab: a toolkit to support community and government collaboration in coastal management Capturing Coral Reef and Related Ecosystem Services Project www.ccres.net.

[10] Ross H, Adhuri D, Abdurrahim AY, Phelan A 2019 Opportunities in community-government cooperation to maintain marine ecosystem services in the Asia-Pacific and Oceania Ecosystem Services 38 (2019) 100969

[11] Scoones I 2009 Livelihoods Perspectives and Rural Development. The Journal of Peasant Studies 36 (1): 171-196.

[12] Ellis F 2000 Household Strategies and Diversity in Developing Countries (Oxford: Oxford University Press)

[13] Abdurrahim AY, Dharmawan AH, Sunito S, Sudiana IM 2014 Ecological vulnerability and strategies of agricultural livelihoods in rainfed paddy village, Pantura Indramayu Jurnal Kependudukan Indonesia 9 (1): 25-44

[14] UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

powered by social2s

Penuaan penduduk di Indonesia merupakan salah satu megatren kependudukan di abad ke-21 (Arifin dan Ananta, 2013). Hingga tahun 1960an, tingkat kelahiran di Indonesia mencapai 5,67 per perempuan usia subur yang artinya setiap perempuan pada masa itu rata-rata memiliki anak 5-6 orang. Saat itu Indonesia berada pada era penambahan jumlah bayi yang luar biasa, yang dikenal dengan baby boom. Penduduk baby boomer saat ini menua dan memperlebar piramida kelompok penduduk tua.  Peningkatan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) ini terjadi karena adaya perbaikan ketersediaan sumber pangan dan peningkatan status kesehatan berhasil mengurangi risiko penyakit dan penurunan angka kematian sehingga memperpanjang angka harapan hidup penduduk. Kondisi penduduk yang menua ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga tahun 2050 dengan jumlah lansia di seluruh dunia mencapai 2,1 milyar (United Nations, 2017).

WHO menetapkan klasifikasi negara berdasarkan proporsi penduduk lansia menjadi empat kelompok (Arifin, 2019). Kelompok pertama, negara dengan penuaan penduduk sangat muda jika proporsi penduduk lansianya sebesar 6 persen dari total populasi. Kelompok kedua, negara dengan penuaan penduduk muda jika proporsi penduduk lansianya  6 – 7,9 persen dari total populasi. Kelompok ketiga, negara dengan penuaan penduduk tahap transisi jika proporsi penduduk lansianya sebesar 8 – 11,9 persen dari total populasi. Dan yang terakhir adalah kelompok negara dengan penuaan penduduk tua yaitu jika proporsia penduduk lansianya 12 persen atau lebih dari total populasi (Arifin, 2019) .

Lalu bagaimana dengan  struktur penduduk di Indonesia? Berdasarkan data BPS tahun 2019, persentase lansia di Indonesai mencapai 9,60 persen atau sekitar 25,64 juta orang. Hal ini memempatkan Indonesia masuk dalam kategori negara penuaan tahap transisi (8 – 11,9 persen). Kondisi ini semacam alarm bagi pemerintah untuk mulai lebih fokus untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi jumlah kelompok penduduk  lansia yang semakin meningkat.

 

Lansia Bukan Hanya Beban

Kebanyakan studi-studi, penelitian dan literatur kelanjutusiaan selama ini umumnya menganalisa bagaimana lansia seharusnya diperlakukan dan dilayani, baik bagi lansia yang masih aktif maupun lansia yang menderita penyakit tertentu. Tidak ada yang salah dengan itu, karena memang faktanya lansia mengalami penurunan fungsi fisiologis yang berdampak pada penuruan kondisi ekonomi, psikologi dan sosial. Hal ini membentuk paradigma masyarakat bahwa menjadi lansia identik dengan tidak produktif, pesakitan, beban keluarga, dan kelompok yang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap orang lain. Namun tidak banyak yang menyinggung dari sisi sebaliknya, bagaimana kontribusi lansia bagi kehidupan sekitarnya. Kontribusi lansia terhadap rumah tangga misalnya, seakan luput dari bahasan karena selah-olah semuanya memang seharusnya demikian (take it for granted). Ada baiknya kita melihat dari perspektif positivisme berdasarkan data berikut ini.

BPS mencatat per Maret 2019, 87,96 persen lansia tinggal dengan keluarganya yaitu bisa saja terdiri dari pasangannya, atau anggota keluarga lainnya seperti anak dan cucu (tiga generasi) atau keluarga lainnya. Lalu bagaimana posisi lansia dalam keluarga? Sebanyak 61,75 persen penduduk lansia berstatus sebagai Kepala Rumah Tangga (KRT). Tingginya persentase lansia sebagai KRT dalam perspektif ekonomi merefleksikan tanggung jawab lansia yang cukup besar dan penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup anggota keluarga. Hasil penelitian tim studi lansia Pusat Penelitian Kependudukan – LIPI menguatkan bahwa cukup banyak lansia yang masih membiayai kebutuhan hidup anak-anaknya meski mereka sudah menikah (Harfina dan Vibriyanti, 2017). Namun jika dilihat dari perspektif budaya, temuan lapangan menunjukkan masih banyak lansia yang berperan sebagai KRT berkaitan dengan sudut pandang sosial masyarakat tradisional, dimana penduduk lansia menduduki kelas sosial yang tinggi sehingga harus dihormati oleh masyarakat yang usianya lebih muda. Dan sistem budaya patrilineal yang masih sangat melekat di masyarakat Indonesia mengakibatkan masih tingginya lansia laki-laki yang menjadi KRT (91,25 persen).

Apabila dilihat produktifitasnya, lansia di Indonesia menunjukkan angka yang tidak bisa dikatakan rendah. Data persentase lansia berdasar jenis kegiatan seminggu terakhir tahun 2019 mencatat hampir 50 persen lansia berstatus bekerja, atau artinya 1 dari 2 orang lansia masih bekerja. Sebanyak 32,28 persen lansia mengurus rumah tangga, 17,62 persen lainnya dan hanya 0,33 persen yang berstatus pengangguran.

Dari seluruh lansia yang bekerja, sekitar separuhnya bekerja di lapangan usaha pertanian (52,86 persen). Di negara berkembang seperti Indonesia, lapangan usaha pertanian merupakan sektor yang menyerap banyak tenaga kerja karena tidak memerlukan kualifikasi yang terlalu tinggi dan keahlian yang spesifik sehingga wajar bila pekerja lansia paling banyak terserap dalam lapangan usaha ini. Sementara itu untuk lansia yang berkegiatan mengurus rumah tangga, sebenarnya kita dapat memberi nilai pada kegiatan mengurus rumah tangga, artinya mengurus rumah tangga kita golongkan sebagai kegiatan bekerja yang menghasilkan produktifitas. Mengurus rumah tangga  bisa kita konversikan dengan rupiah karena terdapat profesi yang pekerjaannya juga mengurus rumah tangga. Hanya saja lansia tidak dibayar untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Salah satu contoh peran lansia yang sangat krusial dalam rumah tangga yaitu sebagai grandchild caregiver atau pengasuh cucu dari anaknya yang bekerja. Pekerjaan mengasuh cucu juga memiliki nilai konversi rupiah yang cukup tinggi karena gaji untuk seorang yang berprofesi sebagai pengasuh anak relatif tinggi juga, apalagi pengasuh yang bersertifikat resmi. Padahal di kondisi ini lansia juga tidak dibayar untuk melakukan peran sebagai pengasuh karena ikatan darah yang kuat. Bahkan dalam kondisi yang lebih kontekstual di masa pandemi ini, dimana kebijakan Work From Home  (WFH) diberlakukan bagi para karyawan maka bukan tidak mungkin bantuan lansia menjaga cucu menjadi support yang membantu karyawan perempuan beberapa saat untuk dapat mengerjakan pekerjaan kantor tanpa gangguan dari anak-anak. Begitu juga dengan kasus anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI), dimana pengasuhan anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri banyak yang diserahkan kepada nenek/kakeknya (Aswatini dkk, 2013). Tentu saja tidak ada perasaan yang lebih aman meninggalkan anak di bawah pengawasan nenek atau kakeknya sendiri dibanding dengan orang lain.  Kehadiran lansia secara tidak langsung bisa dianggap sebagai safetynet atau jaring pengaman bagi kelangsungan hidup keluarga-keluarga muda baik di kota-kota besar maupun keluarga pekerja migran di perdesaan (Khadijah dkk, 2016).

Jika melihat dinamika di tingkat keluarga, lansia justru memiliki peran yang sangat potensial. Salah satunya yaitu sebagai sumber pertimbangan dalam penyelesaian masalah dalam keluarga karena lansia dianggap sosok yang memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak, lebih bijaksana, memiliki pemikiran yang matang dan memiliki pengetahuan agama yang relatif lebih baik. Tidak jarang lansia dijadikan sosok suri tauladan bagi generasi yang lebih muda. Dengan karakteristik lansia yang demikian maka masih banyak ditemukan di lingkungan sosial dan lingkungan pekerjaan di mana lansia menduduki posisi-posisi terhormat seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, kepala kampung atau di dunia kerja sebagai penasihat, CEO atau pembina menjadi jabatan yang sering dipercayakan kepada lansia. Bahkan dalam dalam dunia politik pun juga terbukti dari 575 anggota DPR RI masa jabatan 2019-2024, terdapat 98 orang yang berusia di atas 61 tahun (Farisa, 2019). Jumlah ini tentunya menunjukkan bahwa lansia masih dipercayai sebagai sosok yang tangguh dan dapat dipercaya serta memiliki kredibilitas yang tidak kalah dengan kelompok usia yang lebih muda.

Untuk itu pemerintah telah memberi perhatian terkait kesempatan kerja bagi lansia melalui UU No. 13 Tahun 1998 Pasal 5 yang menyatakan bahwa sebagai penghormatan dan penghargaan kepada lanjut usia diberikan hak untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, salah satunya adalah pelayanan kesempatan kerja. Pelayanan kesempatan kerja bagi lansia potensial dimaksudkan memberi peluang untuk mendayagunakan pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, dan pengalaman yang dimilikinya.

 

Menjaga Aset Bangsa

Terlepas dari potensi lansia yang masih dapat dioptimalkan, tentu saja keterbatasan-keterbatasan fisik akibat proses penuaan tidak dapat begitu saja dipungkiri. Secara biologis lansia akan mengalami penurunan daya tahan fisik yang dapat menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap penyakit tertentu.  Oleh karena itu lansia perlu perhatian yang lebih dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Terlebih lagi data menunjukkan bahwa angka kesakitan penduduk lansia tahun 2019 sebesar 26,20 persen. Artinya, terdapat 26 sampai 27 lansia yang sakit dari 100 lansia, sementara satu dari tiga penduduk lansia tidak memiliki jaminan kesehatan  (Statistik Lanjut Usia, 2019).

Walaupun pemerintah telah memberikan perhatian kepada kesejahteraan lansia melalui program-program perlindungan dan bantuan sosial,  serta program peningkatan kesehatan namun tentunya keterbatasan dan kendala tetap saja ada sehingga masih banyak lansia-lansia yang tidak terakses. Untuk itu keluarga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lansia memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan fisik, ekonomi, psikologis, dan sosial. Studi tim Lansia Pusat Penelitian Kependudukan tahun 2017 membuktikan bahwa selain dukungan ekonomi, hubungan antar generasi yang baik seperti saling berkomunisasi (baik melalui telepon atau pun secara langsung) dan berinteraksi/berkegiatan bersama secara konsisten menjadi faktor penentu yang kuat dalam meningkatkan kualitas hidup lansia (Harfina dan Vibriyanti, 2017). Lansia butuh didengar, dihormati dan dilibatkan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Khususnya di saat sekarang ini, di masa pandemi yang merebak luas, pendampingan dan penjelasan kepada lansia tentang bahaya COVID-19 dan protokol kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan. Jauhkan lansia dari kecemasan dan berita-berita yang memicu kepanikan. Tetap menjaga kesehatan lansia dengan asupan bergizi, aktifitas olah raga ringan dan tetap produktif melakukan kegiatan-kegiatan yang disenangi lansia.

Menciptakan penduduk lansia yang sehat, mandiri, aktif dan produktif merupakan pekerjaan seumur hidup, karena menjadi lansia dengan karakteristik tersebut di atas adalah hasil dari proses selama kehidupan (life cycle process). Lansia yang sehat, aktif dan produktif adalah manusia yang sehat, aktif, dan produktif di masa mudanya. Lansia masa depan adalah penduduk usia produktif saat ini yang relatif berpendidikan lebih tinggi, melek teknologi, dan status kesehatan yang lebih baik. Keunggulan-keunggulan penduduk usia muda saat ini diharapkan melahirkan lansia masa depan yang lebih baik.  Mari menjadikan lansia sejahtera lahir dan batin karena mereka adalah aset bukan beban. Menjadi lansia adalah kita di masa depan.

 

Selamat Hari Lanjut Usia Nasional 2020.

 

Ditulis oleh Deshinta Vibriyanti, Peneliti Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Daftar Pustaka

Arifin dan Ananta. (2013). Three Mega-demographic Trends in Indonesia. Social development issues 35(3):109-124

Arifin, Evi Nurvidya (2019) Presentasi Keragaman Antar Provinsi Penuaan Penduduk Indonesia dalam Diskusi Persiapan Daerah dalam mengahdapai Agieng Population di BKKBN bulan September 2019

Aswatini, Mita Noveria, Haning Romdiati, Meirina Ayumi Malamassam Fitranita, Inayah Hidayati. (2013). Indonesian labor migration: Social cost and family left. Valuing the social cost of migration: An Exploratory study behind. United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women

BPS. (2019). Statistik Lanjut Usia Tahun 2019. Badan Pusat Statistik. Jakarta

Farisa, Fitria Chusna. (2009, 4 September). Anggota DPR Terpilih Terdiri dari 50,26 Persen "Wajah Lama", 80,52 Persen Laki-laki. kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2019/09/04/15462151/anggota-dpr-terpilih-terdiri-dari-5026 persen-wajah-lama-8052-persen-laki.

Harfina dan Vibriyanti. (2017). Determinan Kualitas Hidup Lansia di Kota Medan. Laporan Penelitian. LIPI. Jakarta

United Nations. (2017, 21 Juni). World Population Prospects: The 2017 Revision. www.un.org. https://www.un.org/development/desa/publications/world-population-prospects-the-2017-revision.htmlAswatini, Mita Noveria, Haning Romdiati, Meirina Ayumi Malamassam Fitranita, Inayah Hidayati. (2013). Indonesian labor migration: Social cost and family left. Valuing the social cost of migration: An Exploratory study behind. United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women

Khadijah Alavi, Doris Dagang & Jamiah Manap. (2016) Grandparents raising grandchildren: Contributing factors and challenges in caregiving. Jurnal of Soscial Sciences and Humanities. Vol 11 no 1 (2016) 125-136.

powered by social2s
Go to top