Apakah pandemi COVID-19 saat ini dapat diartikan sebagai positive check dari pemahaman teori Malthus? Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya bahwa COVID-19 tidak dapat dikatakan sebagai krisis Malthusian, tetapi merupakan peringatan bahwa positive checks mungkin saja dapat terjadi di dunia di masa yang akan datang. Selengkapnya tulisan Aswatini Raharto, Profesor Riset Bidang Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, dengan judul ‘PENANGGULANGAN COVID-19 DALAM KERANGKA TEORI KEPENDUDUKAN MALTHUS’ dapat dibaca pada Edisi Khusus Jurnal Kependudukan Indonesia - 2020.

https://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id/index.php/jki/article/view/583/pdf

#LIPI #Kependudukan #MencatatCOVID19 #JurnalKependudukanIndonesia

_____________________

How to cite:

Raharto, A. (2020). PENANGGULANGAN COVID-19 DALAM KERANGKA TEORI KEPENDUDUKAN MALTHUS. Jurnal Kependudukan Indonesia, 1-6.

Abstrak

PENANGGULANGAN COVID-19 DALAM KERANGKA TEORI KEPENDUDUKAN MALTHUS

Aswatini Raharto

This paper was not necessarily discussing COVID-19 as Malthus' positive check, but it examines the current efforts to overcome and control the COVID-19 pandemic as a preventive and positive check. COVID-19 gives credence to the Malthusian Theory of Population.  The key features of this model are that the preventive checks that should be carried out by men are not only limited to controlling the population through family planning but also to control the pressure on the existing resources. The two forces will act to restore equilibrium: preventive check and positive check. From the Malthusian theory, herd immunity in the time of COVID-19 regarded as a positive check. As Indonesia's home to more than 270 million population, the mortality rate likely uncontrollable. Thus herd immunity should not be chosen as a policy option.

Keywords: COVID-19; herd immunity; malthusian theory; preventive and positive check

117307853_2642031216035308_8141427580755690070_n.jpg

powered by social2s

Sindrom pernafasan virus corona (COVID-19) menjangkiti beragam kelompor umur penduduk. Meskipun demikian, warga berusia lanjut (lansia) lebih berisiko apabila tertular virus tersebut. Sistem imun yang sudah melemah ditambah adanya penyakit kronis dapat meningkatkan, baik risiko terjadinya infeksi virus Corona maupun risiko virus ini untuk menimbulkan gangguan yang parah, bahkan kematian (Kemenkes RI, 2020). Negara yang mengalami penuaan penduduk (ageing population) cenderung memiliki risiko penyebaran virus yang relatif cepat dan angka kematian yang lebih tinggi.

Di Italia, dimana terdapat 23% populasi lansia menunjukkan tren risiko penularan dan angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan negara lain dengan angka penduduk lansia lebih rendah (Onder dkk., 2020). Studi terhadap beberapa pasien penderita COVID-19 di China (Liu dkk., 2020; Leung, 2020; Niu, 2020) menunjukkan fakta bahwa tingkat risiko penularan dan kematian (fatality rates) pada pasien lansia lebih tinggi dibandingkan dengan pasien pada kategori usia muda. Dengan kata lain, bertambahnya usia seorang berpengaruh signifikan terhadap risiko kesehatan.

Sementara itu, di Indonesia tingkat kematian akibat COVID-19 pada lansia menempati posisi teratas sebagaimana terdapat pada Tabel 1 di bawah.

Screen_Shot_2020-08-05_at_15.00.39.png

Data di atas menunjukkan jumlah pasien positif terbanyak ditempati oleh warga dalam rentang umur 31-45 tahun (dewasa awal-akhir) dengan persentase 29,40 %, dan kematian 12,10%. Pada posisi terbesar kedua pada rentang umur 46-59 tahun dengan persentase positif 27,20%, dan kematian 39,70%. Persentase pasien positif kelompok remaja akhir dan dewasa awal (18-30 tahun) menempati posisi ketiga, yaitu 20,70% dengan persentase kematian 3%. Rentang umur pasien anak-anak dan remaja (6-17 tahun) pasien positif menunjukkan 5,50% sementara persentase meninggal 0,60% yang menunjukkan tingkat kematian terendah. Kategori balita (0-5 tahun) pun tak luput terkena transmisi COVID-19,  pasien positif 2,30%, dan kematian 0,90%.

Dalam hal kategori pasien positif, kelompok lansia menempati posisi keempat dengan persentase 14%. Meskipun demikian, persentase yang sembuh lebih rendah dibandingkan kategori dewasa awal-akhir yaitu 14,30%, dan persentase kematian 43,60% dari total jumlah kematian sebesar 1.801 jiwa. Dari data tersebut diketahui bahwa meskipun jumlah total pasien lansia positif COVID-19 menunjukkan persentase yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien kategori umur warga lebih muda, tetapi dalam hal kasus kematian (case fatality rates) menunjukkan lansia adalah kategori umur berisiko tinggi. Dengan demikian, pasien lansia adalah kelompok yang paling rentan terkena dampak penyebaran COVID-19.

 

Kerentanan lansia di kala pandemi

Dalam kaitannya dengan masalah pandemi COVID-19, kerentanan lansia disebabkan oleh dua faktor, yaitu medis dan non-medis. Pada sisi medis, melemahnya fungsi imun dan adanya penyakit penyerta (comorbid) meningkatkan risiko kematian pada lansia (Leung, 2020). Hal ini juga diperburuk oleh layanan kesehatan bagi lansia masih kurang memadai. Di seluruh dunia, ketika seluruh fasilitas kesehatan tampak kewalahan menghadapi lonjakan pasien COVID-19, kelompok lansia sering kali berada pada antrean terakhir untuk mendapatkan tindakan dokter (Turana, 2020). Kombinasi masalah fisiologis dan layanan kesehatan yang buruk memperparah risiko kematian pada lansia.

Pada sisi non-medis, informasi tingkat kematian lansia akibat COVID-19 juga menimbulkan kecemasan atau stres pada lansia. Hasil studi Qiu dkk (2020) menunjukkan bahwa informasi mengenai tingkat kematian tinggi pada lansia berdampak pada psikologis mereka. Lebih lanjut, kebijakan lockdown atau social distancing--pembatasan interaksi sosial secara fisik berpengaruh pada kesehatan mental yang dipicu stres karena isolasi/pembatasan ruang gerak (Plagg dkk., 2020). Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa dengan adanya pembatasan sosial, lansia yang menderita demensia atau kepikunan terganggu mobilitasnya sehingga berdampak pada kendala berkomunikasi untuk menyampaikan keluhan penyakitnya sehingga mempersulit mitigasi risiko (PBB, Mei 2020).

Faktor non-medis lain adalah masalah sosio-ekonomi. Kegiatan perekonomian yang terhambat karena pembatasan interaksi fisik, mengakibatkan kemunduran ekonomi. Dampak ini menjadi lebih berat bagi para lansia. Studi Howell dkk.(2020) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lansia dengan status sosio-ekonomi rendah karena kesempatan berusaha berkurang, dan minimnya uang pensiun atau bahkan tidak memiliki, sehingga berdampak pada akses layanan kesehatan.

Fenomena serupa pun terjadi di Indonesia, dimana sebanyak 1.400 lansia yang tidak memiliki Kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Selain itu terdapat 518.000 rumah tangga dengan anggota keluarga lansia yang kehilangan bantuan Program Keluarga Harapan setelah pemerintah meningkatkan batas usia untuk penerima manfaat lansia dari 60 menjadi 70 pada Desember 2019. Bahkan  lebih dari 80% lansia di Indonesia tidak memiliki jaminan pendapatan, dengan hanya sekitar 12 persen dari sekitar 24 juta warga yang ditanggung melalui program dana pensiun (Iswara, April 2020).

 

Resiliensi lansia

Krisis kesehatan publik global ini berkaitan erat dengan masalah kerentanan lansia, dimana dibutuhkan resiliensi atau daya lenting dalam proses pemulihan secara gradual (Chen, 2020a). Menurut Zautra dkk (2010) resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dalam merespon suatu kondisi perubahan dalam konteks bencana atau kemalangan yang ditandai dengan kecepatan pemulihan (recovery), dan kemampuan melanjutkan hidup (sustainability) di tengah kondisi sosial dan lingkungan yang berisiko.

Resiliensi lansia adalah kapasitas dan potensi untuk beradaptasi dalam mengatasi kendala atau kesulitan sehingga mendapatkan kualitas hidup lebih baik (Shen dan Zheng, 2010). Kapasitas dan potensi ini ditandai dengan kesehatan fisik dan mental, serta kemampauan kognitif yang baik (Jeste dkk., 2013). Dalam kaitannya dengan isu kesehatan publik, resiliensi dapat terjaga apabila terdapat kesejahteraan dan perbaikan kualitas hidup lansia (Cosco dkk., 2017). Dengan kata lain, resiliensi lansia dapat terjaga apabila didukung kondisi kesejahteraan dan kualitas hidup yang baik, dimana lansia yang sehat, baik secara fisik, psikis, dan sosial menjadi faktor determinan.

Untuk menjaga resiliensi lansia tidak semata-mata timbul dari usaha mandiri internal seorang lansia. Dibutuhkan intervensi pihak eksternal sehingga tercipta kondisi tersebut (Macleod dkk., 2016). Intervensi tersebut dapat berasal dari lingkungan, yakni keluarga dan masyarakat pada tataran mikro, dan negara pada tataran makro. Berkenaan dengan pandemi COVID-19, keluarga berperan dalam menyediakan perlindungan kesehatan dasar berupa perawatan fisik, menyediakan akses terhadap makanan bergizi, obat-obatan, menciptakan komunikasi—diimbuhi penyampaian informasi seputar COVID-19 sebagai langkah preventif—sehingga  terbangun hubungan emosional yang kohesif antara lansia dengan keluarganya, dan memberikan ruang beraktivitas untuk menepis kepenatan, misalnya menyalurkan hobi di rumah.

Masyarakat juga memegang peran penting dalam menjaga resiliensi lansia. Peran aktif masyarakat ini merupakan pengejawantahan modal sosial. Modal sosial yang dimaksud di sini adalah setiap hubungan yang terjadi dan diikat oleh suatu kesalingpercayaan (trust), kesepahaman (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat aksi kolektif dapat dilakukan secara efisien dan efektif (Cohen dan Prusak, 2001). Dalam konteks ke-Indonesia-an, modal sosial direpresentasikan dengan nilai gotong royong. Gotong royong  atau  tolong  menolong bukan saja terdorong oleh keinginan spontan  untuk  berbakti  kepada  sesama,  tetapi dasar  tolong menolong  adalah  perasaan  saling membutuhkan yang ada dalam jiwa masyarakat (Koentjaraningrat, 2002). Di masa pandemi ini, aktualisasi nilai gotong royong tersebut tergambar dari aksi kolektif pengumpulan donasi oleh beberapa komunitas, baik secara luring maupun daring melalui platform digital kitabisa, benihbaik, atapkita, dan lain-lain. Aktualisasi nilai gotong royong juga dapat melalui keterlibatan komunitas-komunitas, atau para praktisi kesehatan, untuk mengedukasi perihal risiko COVID-19 dan penanganannya melalui kanal digital (Suleha, April 2020). Selain tentunya dengan tetap menjaga jarak, dan berperilaku hidup sehat.

Pada tataran makro, aktor terpenting dalam menjaga resiliensi adalah negara atau pemerintah. Terdapat tiga langkah kebijakan utama yang wajib diambil pemerintah. Pertama, meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Rasio ketersediaan fasilitas kesehatan pada rumah sakit berbanding terbalik dengan jumlah pasien dan minimnya jumlah dokter yakni empat dokter bertanggung jawab menangani 10.000 penduduk (4: 10.000), membutuhkan transformasi fungsi moda layanan kesehatan Puskesmas mulai dari tindakan promotif, preventif, kuratif sampai rehabilitatif (Sitohang dan Adianto, Juli 2020). Puskesmas yang selama ini tugas utamanya adalah kuratif, dapat mengedepankan fungsi promotif dengan menggandeng masyarakat untuk mempromosikan bahaya COVID-19 dan penangaannya.

Kedua, aspek sosio-ekonomi juga wajib diperhatikan di kala pandemi. SMERU Institute (April 2020) memproyeksikan bahwa COVID-19 berkontribusi pada rendahnya pertumbuhan ekonomi sehingga berimplikasi untuk meningkatkan angka kemiskinan hingga 12,4%, dan dapat menjadikan 8,5 juta warga menjadi kelompok miskin baru. Lansia pun mengalami hal tersebut (Hakim, 2020). Isu ini seyogianya direspon dengan mengintensifkan sistem perlindungan sosial (Yumna dkk., 2020). Pendekatan yang diaplikasikan idealnya bersifat holistis, yakni mulai dari penentuan sasaran bantuan, penyusunan mekanisme pendataan sasaran, hingga penyaluran bantuan.

Ketiga, mencegah timbulnya kepanikan masyarakat dan bias kognitif karena misinformasi atau disinformasi COVID-19. Kepanikan di masyarakat mengenai risiko COVID-19 salah satunya diakibatkan misinformasi yang justru datang dari pemerintah, terlebih pada kasus-kasus awal (Yahya, Maret 2020). Bias kognitif adalah adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang mempengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memberikan penilaian (Cherry, Mei 2020). Untuk mencegahnya adalah dengan menerapkan cara berpikir perlahan dan mengevaluasi sumber informasi (Fung dan Heng, 2020). Peran pemerintah adalah menyediakan sumber informasi resmi yang valid dan teruji sehingga dapat dijadikan preferensi masyarakat dalam menghadapi COVID-19.

Pandemi ini telah membawa tantangan besar kepada umat manusia, dan terlebih pada lansia. Kelompok penduduk tersebut yang paling rentan terdampak. Terdapat ancaman terhadap kehidupan dan kualitas hidup mereka. Sehingga sangat penting untuk menjaga resiliensi, dan meminimalkan risiko dengan mengatasi kebutuhan lansia di kala pandemi.

 

Ditulis oleh Angga Wijaya Holman Fasa

(Analis Kebijakan Muda pada Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat-LIPI)

 

Referensi

Chen, Liang-Kung (2020), “Older adults and COVID-19 pandemic: Resilience matters”, Archives of Gerontology and Geriatrics 89, doi:10.1016/j.archger.2020.104124.

Cherry, Kendra. (2020).”What Is Cognitive Bias?”. May.

https://www.verywellmind.com/what-is-a-cognitive-bias-2794963 (diakses 13 Juli 2020).

Cohen, S., dan Prusak L. (2001). In Good Company: How Social Capital Makes Organization Work. London: Harvard Business Press.

Cosco, T.D., K. Howse, dan C. Brayne (2017), “Healthy Ageing, Resilience and Wellbeing”, Epidemiology and Psychiatric Sciences (2017), 26, doi:10.1017/S2045796017000324.

Fung, Fun Man dan Ching Wei Hang.(2020).“Cara menghadapi bias kognitif yang hadir selama pandemi COVID-19, https://theconversation.com/cara-menghadapi-bias-kognitif-yang-hadir-selama-pandemi-covid-19-141606 (diakses 13 Juli 2020).

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (2020), "Peta Sebaran COVID-19 di Indonesia", https://covid19.go.id/peta-sebaran, 06 Juni 2020 (diakses tanggal 6 Juni 2020).

Hakim, Lukmanul.(2020).”Pelindungan Lanjut Usia Pada Masa Pandemi COVID-19”. Info Singkat-Bidang Kesejahteraan Sosial. Vol. XII, No. 10/II/Puslit/Mei/2020.

Iswara, Made Thony.(2020).”Seniors left to face COVID-19 without social security”. thejakartapost.com/news/2020/04/26/seniors-left-to-face-covid-19-without-social-security.html (diakses 13 Juli 2020).

Jeste, D. V., Savla, G. N., Thompson, W. K., Vahia, I. V., Glorioso, D. K., Martin, A. S., Palmer, B. W., Rock, D., Golshan, S., Kraemer, H. C., & Depp, C. A. (2013). “Association between older age and more successful aging: critical role of resilience and depression”. The American journal of psychiatry, 170(2), 188–196. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2012.12030386.

Kai Liu, Ying Chen, Ruzheng Lin, Kunyuan Han (2020),"Clinical features of COVID-19 in Elderly Patients: A comparison with young and middle-aged patients", Journal of Infection 80, doi: 10.1016/j.jinf.2020.03.005.

Kementerian Kesehatan RI (2020), “Hindari Lansia dari COVID-19“, padk.kemkes.go.id/article/read/2020/04/23/21/hindari-lansia-dari-covid-19.html (diakses 12 Juli 2020).

Koentjaraningrat (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Leung, Char (2020), "Risk factors for predicting mortality in elderly patients with COVID-19: A review of clinical data in China", Mechanisms of Ageing and Development 188, doi: 10.1016/j.mad.2020.111255.

MacLeod, Stephani, Shirley Musich, Kevin Hawkins, Kathleen Alsgaard, Ellen R. Wicker. (2016)."The impact of resilience among older adults". Geriatric Nursing 37 (2016) 266e272. http://dx.doi.org/10.1016/j.gerinurse.2016.02.014.

Morrow-Howell, Nancy, Natalie Galucia, dan Emma Swinford.(2020)."Recovering from the COVID-19 Pandemic: A Focus on Older Adults".Journal of Aging & Social Policy, 32:4-5, 526-535, DOI: 10.1080/08959420.2020.1759758.

Niu, Shengmei, Sijia Tian, Jing Lou, Xuqin Kang, Luxi Zhang, Huixin Lian, Jinjun Zhang (2020), Clinical Characteristics of Older Patients Infected with COVID-19: A Descriptive Study”, Archives of Gerontology and Geriatrics, 89, doi: 10.1016/j.archger.2020.104058.

Onder, Graziano, Giovanni Rezza, Silvio Brusaferro (2020), "Case-Fatality Rate and Characteristics of Patients Dying in Relation to COVID-19 in Italy", Journal of the American Medical Association (JAMA), Vol. 323, No. 18, doi:10.1001/jama.2020.4683.

Perserikatan Bangsa-Bangsa.(2020).”Policy Brief: The Impact of COVID-19 on older persons”, May 2020.

Plagg, Barbara, Adolf Engl, Giuliano Picccoliori, Klaus Einsendle (2020), “Prolonged Social Isolation of the Elderly during COVID-19: Between Benefit and Damage”, Archives of Gerontology and Geriatrics 89, May, doi: 10.1016/j.archger.2020.104806.

Qiu, Jianyin, Bin Shen, Min Zhao, Zhen Wang, Bin Xie, Yifeng Xu. (2020),"A nationwide survey of psychological distress among Chinese people in the COVID-19 epidemic: implications and policy recommendations”,General Psychiatry 2020;33:e100213. doi:10.1136/gpsych-2020-100213.

Shen, Ke dan Yi Zheng. (2010).“The association between resilience and survival among Chinese elderly”, Demogr Res. 2010 Jul 16; 23(5): 105–116. doi: 10.4054/DemRes.2010.23.5.

Sitohang, Marya Yenita, dan Hadiyanto.(2010).”Menghadapi normal baru, Puskesmas sebenarnya bisa lebih perkasa memberdayakan masyarakat. https://theconversation.com/menghadapi-normal-baru-puskesmas-sebenarnya-bisa-lebih-perkasa-memberdayakan-masyarakat-140709 (diakses 13 Juli 2020).

Suleha,Yani.(2020).”Kontribusi Positif dalam Pandemi Covid-19”, https://www.medcom.id/rona/kesehatan/yKXADB4N-kontribusi-positif-dalam-pandemi-covid-19 (diakses 13 Juli 2020).

Suryahadi, Asep, Ridho Al Izzati, dan Daniel Suryadharma.(2020).”The Impact of COVID-19 Outbreak on Poverty: An Estimation for Indonesia”, SMERU Working Paper.

Turana, Turana. (2020).”Risiko kematian lansia dengan COVID-19 tinggi tapi pelayanan kesehatan belum berpihak pada mereka: apa yang harus dilakukan”, theconversation.com/risiko-kematian-lansia-dengan-covid-19-tinggi-tapi-pelayanan-kesehatan-belum-berpihak-pada-mereka-apa-yang-harus-dilakukan-138107 (diakses 12 Juli 2020).

Yahya, Achmad Nasrudin. "Kepanikan Masyarakat soal Virus Corona akibat Informasi yang Kurang Jelas dari Pemerintah", https://nasional.kompas.com/read/2020/03/05/07263001/kepanikan-masyarakat-soal-virus-corona-akibat-informasi-yang-kurang-jelas?page=all#page2. (diakses 13 Juli 2020).

Yumna, Athia, Bagus Hafiz Arfyanto, Luhur Bima, dan Palmira Permata Bachtiar.(2020)."Program Jaring Pengaman Sosial Dalam Krisis Covid-19: Apa yang Saat Ini Perlu Dilakukan oleh Pemerintah?". SMERU Catatan Kebijakan No.  3/Mar/2020.

Zautra, Alex J., John Stuart Hall, dan Kate E. Murray (2010), Resilience: A New Definition of Health for People and Communities, dalam John W. Reich, Alex J. Zautra, and John Stuart Hall (Ed.) (2010), Handbook of Resilience, New York: The Guilford Press.

powered by social2s

Pada 31 Desember 2019, kasus pertama Covid-19 terekam di Cina (Kompas, 2020), dan pada 4 Juni 2020 telah tercatat 6,4 juta kasus terkonfirmasi Covid-19 dengan tingkat kematian 5,97 persen yang tersebar di seluruh dunia. Meskipun COVID-19 menyerang seluruh wilayah dan penduduk, namun setiap penduduk memberikan respon yang berbeda. Karakteristik penduduk, seperti umur dan jenis kelamin, memberikan gambaran adanya perbedaan kerentanan dalam menghadapi virus SARS-CoV-2 (Begley, 2020) yang secara umum berkaitan dengan adanya kesenjangan akses pelayanan kesehatan antar kelompok penduduk.

Hasil penelitian di Amerika (Fitzpatrick et al., 2004) dan Jepang (Murata et al., 2010) menunjukkan bahwa penduduk usia tua cenderung mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan. Padahal, penduduk usia tua memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk usia muda sehingga membutuhkan akses kesehatan yang lebih baik. Permasalahan utama yang dihadapi oleh penduduk usia tua dalam mengakses kesehatan adalah permasalahan biaya kesehatan (Fitzpatrick et al., 2004; Murata et al., 2010; Yamada et al., 2015). Padahal dengan kondisi kesehatan penduduk usia tua, kebutuhan pengeluaran untuk biaya kesehatan menjadi lebih tinggi (WHO, 2011, p. 18).

Gender juga membawa pengaruh yang cukup signifikan terkait dengan pelayanan kesehatan, dimana laki-laki dan perempuan memiliki perilaku yang berbeda dalam mengakses layanan kesehatan. Meskipun secara sistemik perempuan mengalami masalah struktural dalam pelayanan kesehatan (Nash Ojanuga & Gilbert, 1992), namun persentase perempuan yang mengakses fasilitas kesehatan lebih tinggi dibandingkan laki-laki (Banks & Baker, 2013). Hal ini dikarenakan penduduk laki-laki memiliki kecenderungan untuk mengabaikan masalah kesehatan dan menghindari pelayanan kesehatan. Ditambah dengan struktur sosial laki-laki yang dikaitkan dengan maskulinitas yang membuat laki-laki merasa kuat dan bisa melakukan pengobatan sendiri (Banks & Baker, 2013; Courtenay, 2000; Tudiver & Talbot, 1999).

Kesenjangan kemampuan penduduk untuk mengakses pelayanan kesehatan kemudian menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi situasi kesehatan penduduk (Gushulak & MacPherson, 2006). Dimana, kesenjangan akses pelayanan kesehatan dapat menjadi faktor pendorong dalam penyebaran penyakit pada penduduk karena tindakan preventif pada penyebaran penyakit menjadi kurang (Gushulak & MacPherson, 2006; Kullgren, 2003). Kondisi ini yang kemudian dapat memberikan tantangan yang cukup berarti pada penyebaran kasus COVID-19. Sehingga kelompok penduduk tertentu akan lebih rentan terpapar Covid-19 dibandingkan kelompok penduduk lainnya (Begley, 2020; Webb Hooper et al., 2020). Oleh karena itu, penelitian singkat ini disusun untuk mendapatkan gambaran mengenai karakteristik kelompok penduduk yang rentan terhadap COVID-19 di Indonesia.

 

Penggunaan Layanan Kesehatan Berdasarkan Umur Dan Jenis Kelamin

Seperti kondisi di negara-negara lainnya, virus SARS-CoV-2 di Indonesia menyebar dengan cepat dengan tingkat kematian yang tinggi. Pada 2 Maret 2020, Indonesia pertama kalinya mengumumkan dua kasus terkonfirmasi COVID-19 (Kompas.com, 2020). Hingga 4 Juni 2020 telah tercatat 28.818 kasus positif COVID-19 di Indonesia (Gugus Tugas COVID-19, 2020). Meski dalam periode Maret hingga Juni telah ada penurunan tingkat kematian, dari 8,90 persen menjadi 5,97 persen (Gugus Tugas COVID-19, 2020), namun angka tersebut masih cukup tinggi mengingat untuk setiap 100 kasus positif COVID-19 terdapat 6 kematian.

Angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia didominasi oleh penduduk usia tua (diatas 60 tahun) yang memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibanding dengan kelompok umur lainnya, yaitu sebesar 43,9 persen. Pada dasarnya, penduduk usia tua sudah rentan terhadap penyakit, dan COVID-19 memperparah kondisi mereka. Sebelum pandemik COVID-19 menyerang, BPS (2019b, p. 38) mencatat sebanyak 51,08 persen penduduk usia tua memiliki keluhan kesehatan. Namun, hanya setengah dari mereka yang mengakses layanan kesehatan (Badan Pusat Statistik, 2019b, p. 43), dan 3,12 persen penduduk yang sakit tidak mendatangi fasilitas kesehatan dikarenakan ketiadaan biaya (Badan Pusat Statistik, 2019b, p. 45). Hasil penelitian di Jawa Timur juga menunjukkan biaya kesehatan menjadi penghalang penduduk usia tua untuk mendatangi puskesmas (Wulandari & Laksono, 2019).

Selain itu, perubahan tatanan dalam keluarga dimana penduduk usia tua tidak lagi dapat berperan sebagai pemimpin dalam keluarganya sendiri tetapi menjadi anggota dalam keluarga lain, menyebabkan mereka tidak memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri (Sleap, 2018). Ditambah berkurangnya pendapatan, para penduduk usia tua menjadi sangat bergantung pada anggota keluarga lain, sehingga mereka tidak dapat memutuskan sendiri terkait pilihan akses mereka terhadap layanan kesehatan (Sleap, 2018). Situasi inilah yang mungkin menjadi salah satu penyebab dimana penduduk usia tua pada akhirnya lebih memilih untuk melakukan pengobatan sendiri dibandingkan pergi ke fasilitas kesehatan jika sakit yang dialami belum mengganggu aktivitas mereka (Badan Pusat Statistik, 2019b, p. 45). Keterbatasan biaya dan keterbatasan dalam mengambil keputusan sendiri yang dialami penduduk usia tua inilah yang dikhawatirkan menjadi faktor pendorong meningkatnya resiko tingkat kematian akibat COVID-19 pada penduduk usia tua (Lloyd-Sherlock et al., 2020).

Dari sisi gender, kecenderungan laki-laki mengabaikan gangguan kesehatan yang dialami berpotensi mengakibatkan keterlambatan dalam memeriksakan diri ke sarana kesehatan ketika mereka memiliki penyakit (Global Health 50/50, 2020), yang pada akhirnya berkontribusi pada resiko kematian yang lebih besar akibat keterlambatan diagnosa (Zhou et al., 2020). Pada kasus pandemik COVID-19, tingkat kematian pada penduduk laki-laki (62,3 persen) lebih tinggi dibandingkan perempuan (37,7 persen) (Gugus Tugas COVID-19, 2020). Hal ini dikarenakan rendahnya penggunaan sarana kesehatan oleh penduduk laki-laki dibanding perempuan (Badan Pusat Statistik, 2019a, p. 99) akibat keengganan dalam memeriksakan dirinya ketika mengalami keluhan kesehatan. Padahal laki-laki cenderung lebih memiliki perilaku berisiko seperti merokok dan minum minuman beralkohol dibanding perempuan yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit kronis yang terbukti mempengaruhi tingkat keparahan penyakit akibat COVID-19 (Global Health 50/50, 2020). Hal inilah yang mungkin menjadi penyebab tingginya kasus kematian pada penduduk laki-laki. Terlebih ketika mempertimbangkan bahwa pada kondisi pandemik ini, laki-laki tetap bepergian dan melakukan pekerjaannya sehingga rentan terhadap paparan virus SARS-CoV-2 ini (Begley, 2020).

 

Kerentanan COVID-19 Pada Kelompok Usia Tua dan Penduduk Laki-Laki

Meskipun virus ini berpotensi menyerang seluruh penduduk tanpa melihat karakteristik apapun, namun setiap penduduk memberikan respon yang berbeda. Hal ini yang kemudian menjadi penyebab kerentanan akibat COVID-19 pada kelompok penduduk tertentu. Pada karakteristik penduduk yang paling mendasar, yaitu umur dan gender, terdapat perbedaan tingkat kematian yang cukup signifikan.

Kasus kematian COVID-19 di Indonesia banyak ditemukan pada kelompok penduduk usia tua dan penduduk laki-laki. Pada penduduk usia tua, hal ini disebabkan oleh keterbatasan biaya serta lemahnya relasi kuasa yang mengakibatkan rendahnya akses ke fasilitas kesehatan. Sementara itu, pada penduduk laki-laki, tingginya angka kematian disebabkan oleh kondisi penduduk laki-laki yang tetap bekerja sehingga beresiko untuk terpapar virus SARS-CoV-2. Rendahnya kesadaran untuk mengakses layanan kesehatan kemudian memperparah situasi sehingga menyebabkan tingginya angka kematian pada penduduk kelompok ini.

Rekomendasi kebijakan yang dapat diambil adalah dengan meningkatkan kebermanfaatan BPJS kesehatan sebagai bentuk implementasi universal health coverage (UHC) di Indonesia. Selain itu, penting dilakukannya pemberlakuan deteksi dan diagnosa dini yang masif dan berkelanjutan terhadap seluruh elemen penduduk terkait kasus pandemik Covid-19.

 

Ditulis oleh Intan Selfina N. Sinaga1, Ikfina Chairani2, Deny Armelia2

1Badan Pusat Statistik Provinsi Papua

2Badan Pusat Statistik Kota Solok

 

 

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2019a). Statistik Kesejahteraan Rakyat 2019. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/publication/2019/11/22/1dfd4ad6cb598cd011b500f7/statistik-kesejahteraan-rakyat-2019.html

Badan Pusat Statistik. (2019b). Statistik Penduduk Lanjut Usia 2019.

Banks, I., & Baker, P. (2013). Men and primary care: improving access and outcomes. Trends in Urology & Men’s Health, 4(5), 39–41. https://doi.org/10.1002/tre.357

Begley, S. (2020). Which Groups Are Most at Risk from the Coronavirus? Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/which-groups-are-most-at-risk-from-the-coronavirus/

Courtenay, W. H. (2000). Constructions of masculinity and their influence on men’s well-being: A theory of gender and health. Social Science and Medicine, 50(10), 1385–1401. https://doi.org/10.1016/S0277-9536(99)00390-1

Fitzpatrick, A. L., Powe, N. R., Cooper, L. S., Ives, D. G., & Robbins, J. A. (2004). Barriers to Health Care Access Among the Elderly and Who Perceives Them. American Journal of Public Health, 94(10), 1788–1794. https://doi.org/10.2105/AJPH.94.10.1788

Global Health 50/50. (2020). COVID-19: overview and resources. https://globalhealth5050.org/covid19/

Gugus Tugas COVID-19. (2020). Peta Sebaran | Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. https://covid19.go.id/peta-sebaran

Gushulak, B. D., & MacPherson, D. W. (2006). The basic principles of migration health: Population mobility and gaps in disease prevalence. In Emerging Themes in Epidemiology (Vol. 3). https://doi.org/10.1186/1742-7622-3-3

Kompas.com. (2020). BREAKING NEWS: Jokowi Umumkan Dua Orang di Indonesia Positif Corona. https://nasional.kompas.com/read/2020/03/02/11265921/breaking-news-jokowi-umumkan-dua-orang-di-indonesia-positif-corona

Kompas. (2020). Rangkaian Peristiwa Pertama Covid-19. https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/04/18/rangkaian-peristiwa-pertama-covid-19/

Kullgren, J. T. (2003). Restrictions on Undocumented Immigrants’ Access to Health Services: The Public Health Implications of Welfare Reform. In American Journal of Public Health (Vol. 93, Issue 10, pp. 1630–1633). American Public Health Association Inc. https://doi.org/10.2105/AJPH.93.10.1630

Lloyd-Sherlock, P., Ebrahim, S., Geffen, L., & McKee, M. (2020). Bearing the brunt of covid-19: Older people in low and middle income countries. In The BMJ (Vol. 368). https://doi.org/10.1136/bmj.m1052

Murata, C., Yamada, T., Chen, C.-C., Ojima, T., Hirai, H., & Kondo, K. (2010). Barriers to Health Care among the Elderly in Japan. International Journal of Environmental Research and Public Health, 7(4), 1330–1341. https://doi.org/10.3390/ijerph7041330

Nash Ojanuga, D., & Gilbert, C. (1992). Women’s access to health care in developing countries. Social Science and Medicine, 35(4), 613–617. https://doi.org/10.1016/0277-9536(92)90355-T

Sleap, B. (2018). The freedom to decide: what older people say about their rights to autonomy and independence. HelpAge International. https://www.helpage.org/blogs/bridget-sleap-24/the-freedom-to-decide-what-older-people-say-about-their-rights-to-autonomy-and-independence-1059/

Tudiver, F., & Talbot, Y. (1999). Why don’t men seek help? Family physicians’ perspectives on help-seeking behavior in men. The Journal of Family Practice, 48(1), 47–52. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9934383/

Webb Hooper, M., Nápoles, A. M., & Pérez-Stable, E. J. (2020). COVID-19 and Racial/Ethnic Disparities. In JAMA - Journal of the American Medical Association (Vol. 323, Issue 24, pp. 2466–2467). American Medical Association. https://doi.org/10.1001/jama.2020.8598

WHO. (2011). Global Health and Aging. https://www.who.int/ageing/publications/global_health.pdf

Wulandari, R. D., & Laksono, A. D. (2019). URBAN-RURAL DISPARITY: THE UTILIZATION OF PRIMARY HEALTHCARE CENTERS AMONG ELDERLY IN EAST JAVA, INDONESIA. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 7(2), 147. https://doi.org/10.20473/jaki.v7i2.2019.147-154

Yamada, T., Chen, C. C., Murata, C., Hirai, H., Ojima, T., Kondo, K., & Harris, J. R. (2015). Access disparity and health inequality of the elderly: Unmet needs and delayed healthcare. International Journal of Environmental Research and Public Health, 12(2), 1745–1772. https://doi.org/10.3390/ijerph120201745

Zhou, F., Yu, T., Du, R., Fan, G., Liu, Y., Liu, Z., Xiang, J., Wang, Y., Song, B., Gu, X., Guan, L., Wei, Y., Li, H., Wu, X., Xu, J., Tu, S., Zhang, Y., Chen, H., & Cao, B. (2020). Clinical course and risk factors for mortality of adult inpatients with COVID-19 in Wuhan, China: a retrospective cohort study. The Lancet, 395(10229), 1054–1062. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30566-3

powered by social2s

Penyebaran sindrom pernafasan virus corona (COVID-19) menjadi tantangan mutakhir bagi kesehatan publik di seluruh dunia. Sejak ditemukan pada bulan Desember 2019 di Wuhan, China, data COVID-19 mutakhir menunjukkan telah terkonfirmasi lebih dari 6 juta kasus dan angka kematian hampir mendekati 400 ribu orang (WHO, 6 Juni 2020). Pada perkembangannya, risiko penularan dan kematian berkorelasi dengan struktur umur penduduk. Beberapa studi (Bonanad dkk., 2020; Niu dkk., 2020; Liu dkk., 2020; Li dkk., 2020; Leung, 2020; Shahib dkk., 2020; Zhou dkk., 2020) menjabarkan bahwa terdapat korelasi antara faktor umur dengan tingkat penularan dan risiko kematian (fatality rates), dimana pada pasien lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun menunjukkan angka yang cukup tinggi, terlebih lagi pada pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, gangguan pernafasan, dan kardiovaskular. Dengan kata lain, kaum lansia lebih rentan tertular COVID-19 dan berisiko lebih tinggi dibandingkan penduduk dengan kategori umur lainnya.

 

Kaitan struktur umur dan dampak COVID-19

Berkenaan dengan pandemi COVID-19, komposisi penduduk, khususnya struktur umur memegang peranan penting untuk mengetahui intensitas dampak COVID-19. Terlebih untuk memahami kelompok masyarakat yang berisiko paling tinggi, dan menjelaskan penyebaran COVID-19 (Dowd dkk, 2020). Pada beberapa kasus, kontak fisik antarwarga yang berbeda umur memiliki kecenderungan dalam eskalasi transmisi COVID-19 dimana para warga pada kelompok usia tertentu rentan untuk tertular (Liu dkk., 2020; Singh dan Adhikari, 2020). Dengan kata lain, dengan mengetahui struktur umur pada masyarakat, maka dapat membantu menjelaskan kelompok masyarakat yang rentan tertular di kala pandemi.

Secara global, berkaitan dengan struktur umur, peningkatan dampak risiko penularan COVID-19 berbanding lurus dengan peningkatan umur. Hasil studi Davies dkk. (2020) menunjukkan bahwa persentase pasien pada usia 10 tahun kebawah/anak-anak sebesar 20% berbanding terbalik dengan pasien usia dewasa (diatas usia 70 tahun) yang mencapai angka 70%. Dampak COVID-19 menunjukkan bahwa tingkat penularan pada kelompok usia dewasa/tua secara persentase lebih tinggi dibandingkan kelompok usia muda/anak-anak. Terdapat kecenderungan bahwa semakin bertambahnya usia seseorang berkorelasi positif dengan risiko tertular COVID-19.

Selain itu, kategori umur menjadi tolok ukur dalam melihat tingkat kematian akibat COVID-19. Tingkat kematian (fatality rates) yang terkait dengan COVID-19 bervariasi secara substansial, baik lintas negara maupun di dalam negara seiring berjalannya waktu, namun strukur umur pada suatu populasi mengindikasikan kualitas kesehatan yang memburuk dimana tingkat kematian cenderung naik seiring dengan bertambahnya pasien pada kelompok umur tertentu (Dudel dkk., 2020). Pada banyak kasus, kelompok umur lansia menempati proporsi terbesar pasien dan dengan tingkat kematian tertinggi.

Di Indonesia, faktor umur juga berkorelasi pada tingkat kematian akibat COVID-19. Pada Tabel 1. tergambar bahwa perbandingan pasien COVID-19 berdasarkan rentang umur dan kategori status positif, dirawat, sembuh, dan meninggal, kelompok pasien berusia 60 tahun keatas menunjukkan angka kematian tertinggi, yaitu sebesar 43,60% (Gugus Tugas COVID-19, 2020).

 

Tabel 1. Pasien COVID-19 di Indonesia berdasarkan umur (per 6 Juni 2020)

Screen_Shot_2020-08-02_at_08.51.28.png

Sumber: diolah dari covid19.go.id/peta-sebaran (2020)

 

Data diatas menerangkan bahwa kelompok umur lansia termasuk kategori yang berakibat pada kematian di Indonesia. Tingkat kematian atau case fatality rate pada usia lansia tercatat cukup tinggi. Untuk lansia kelompok umur 50 hingga 69 tahun berada pada 0,31-1%, 70 hingga 79 tahun berada pada angka 2,95% dan terus meningkat di kelompok umur 80-89 tahun yaitu 4,47% (FKM UI, Juni 2020).  Populasi lansia, terutama yang berusia di atas 70 tahun, merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penyakit COVID-19. Daya tahan tubuh yang melemah dan adanya penyakit kronis (comorbid) dapat meningkatkan risiko lansia terkena COVID-19 serta mengalami gejala yang lebih parah dan bisa berakibat fatal (Alodokter.com, Juni 2020). Dengan demikian, terdapat korelasi yang kuat antara umur pasien dengan tingkat kematian akibat COVID-19 di Indonesia.

Sementara itu, Dowd dkk., (2020) memperlihatkan bahwa struktur umur penduduk, dengan mengambil sampel di beberapa negara, berpengaruh terhadap tingkat kematian—case fatality rate (CFR) akibat COVID-19. Pada Gambar 1, piramida penduduk mengilustrasikan bahwa prevalensi pasien COVID-19 lansia di suatu negara berkorelasi pada kemungkinan risiko kematian, dimana di Italia penduduk lansia-nya lebih tinggi, angka ekspektasi kematian sebesar 302.530 dibandingkan dengan Korea Selatan sebesar 177.822, dan begitu pula yang terjadi di Brazil dengan Nigeria.

 

Gambar 1. Komposisi penduduk berdasarkan struktur umur dan tingkat ekspektasi kematian di negara Italia, Korea Selatan, Brazil, dan Nigeria

Screen_Shot_2020-08-02_at_08.52.04.png

Sumber: Dowd, dkk. (2020)

 

Risiko kematian akibat COVID-19

Karakteristik risiko kematian (morbidity) suatu populasi berkaitan secara langsung dan tidak langsung dengan struktur demografis populasi tersebut. Di satu sisi, susunan demografis populasi adalah penentu utama dari jenis masalah kesehatan yang ditunjukkan oleh populasi itu. Namun di sisi lain, profil morbiditas suatu populasi mempengaruhi struktur demografis populasi tersebut (Thomas, 2018). Dalam halnya dengan kasus pandemi COVID-19, masalah kesehatan dan risiko kematian yang ditimbulkan berkorelasi dengan distribusi umur pada suatu populasi. Dengan kata lain, struktur umur populasi cenderung berkelindan dengan dampak risiko kematian.

Lebih lanjut, pola risiko kematian berdasarkan umur akibat COVID-19 secara global menyerupai pola untuk semua penyebab kematian, pola kematian dari COVID-19 mirip dengan pola kematian pada umumnya. Virus ini berakibat fatal terutama terhadap kelompok warga yang sudah memiliki risiko kematian tertinggi, yaitu orang tua dan mereka yang memiliki penyakit penyerta atau comorbid (Demombynes, 2020). Pada perkembangannya, risiko kematian akibat COVID-19 pada kelompok lansia menunjukkan tingkat yang lebih tinggi (Jordan, 2020). Sehingga tinggi rendahnya risiko kematian pasien berkorelasi dengan faktor umur.

Korelasi antara komposisi penduduk lansia dengan tingkat kematian (fatality rate) juga terdeskripsikan dalam studi Onder dkk.(2020), dimana pada kelompok umur lansia yang mencapai 23%, berusia 65 tahun keatas, dari total penduduk di Italia berpengaruh pada fatality rate. Pada Tabel 2. terdapat perbandingan tingkat kematian antara penduduk di Italia dengan case fatality rates sebesar 7,2% dan China sebesar 2,3%, dimana distribusi kasus pada kelompok usia dan kepadatan populasi, berbanding lurus dengan tingkat kematian. Semakin banyak jumlah penduduk pada rentang umur tersebut, semakin berisiko terjangkit COVID-19.

 

Tabel 2. Tingkat Kasus-Kematian berdasarkan Kelompok Umur di Italia dan China

Screen_Shot_2020-08-02_at_08.52.27.png

Sumber: Onder dkk. (2020)

 

Menurut Siegel (2012), struktur umur penduduk memiliki pengaruh penting terhadap tingkat kesehatan dan kematian, serta karakteristik pasien dan jenis penyakit yang menimpa suatu populasi. Pada titik ini, persoalan pandemi COVID-19, menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara struktur umur penduduk dengan kencenderungan risiko penularan dan tingkat kematian (fatality rate). Potret di beberapa negara, dimana kelompok umur lansia rentan tertular dan berisiko kematian, menunjukkan korelasi tersebut. Meskipun demikian, dibutuhkan penelitian yang lebih komprehensif dan mendalam, serta kaya data, untuk mengetahui lebih lanjut kontribusi struktur umur terhadap tingkat kematian yang berkaitan dengan COVID-19.

 

Penutup

Secara demografis, masalah pandemi COVID-19 tidak secara signifikan berbeda dengan pola masalah kesehatan pada umumnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya korelasi antara struktur umur dengan dampak yang ditimbulkan, baik yang berkaitan dengan masalah penularan dan risiko kematian pasien. Dampak penularan dan tingkat risiko kematian menunjukkan kecenderungan persentase yang lebih tinggi pada kategori umur lansia dibandingkan usia muda dan pada wilayah dimana terdapat populasi lansia dengan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi usia muda.

 

Ditulis oleh Angga Wijaya Holman Fasa - Analis Kebijakan Muda pada Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat LIPI

 

 

Referensi

Alodokter, “COVID-19 Lebih Berbahaya bagi Lansia di Atas 70 Tahun”, https://www.alodokter.com/covid-19-lebih-berbahaya-bagi-lansia-di-atas-70-tahun (diakses 08 Juli 2020).

Bonanad, Clara, Sergio Garcia-Blas, Francisco Tarazona-Santabalbina, Juan Sanchis, Vincente Bertomeu-Gonzalez, Lorenzo Facila, Albert Ariza, Julio Nunez, Alberto Codero (2020), “The Effect of Age on Mortality in Patients with Covid-19: A Metanalysis with 611.583 Subjects”, Journal of the American Medical Directors Association, doi: 10.1016/j.jamda.2020.05.045.

Dowd, Jennifer Beam, Liliana Andrianoa, David M. Brazela, Valentina Rotondia, Per Blocka, Xuejie Dinga, Yan Liua, and Melinda C. Millsa (2020),  "Demographic science aids in understanding the spread and fatality rates of COVID-19",   Vol. 117,  No. 18, Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), doi: 10.1073/pnas.2004911117.

Demombynes, Gabriel (2020), "COVID-19 Age-Mortality Curves Are Flatter in Developing Countries", Policy Research Working Paper No. 9313, World Bank Human Development Global Practice.

Dudel, Christian, Tim Riffe, Enrique Acosta, Alyson A. van Raalte, dan Mikko Myrskylä (2020)., “Monitoring trends and differences in COVID-19 case fatality rates using decomposition methods: Contributions of age structure and age-specific fatality”, medRxiv preprint doi: https://doi.org/10.1101/2020.03.31.20048397.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, “Webinar Seri 5 FKM UI: Kesiagaan Lansia di Era COVID-19, Manajemen Pandemi COVID-19 dan Peran Masyarakat, serta Pengembangan Teknologi Penjernih Ruang Terkontaminasi Virus Corona”, fkm.ui.ac.id/webinar-seri-5-fkm-ui-kesiagaan-lansia-di-era-covid-19-manajemen-pandemi-covid-19-dan-peran-masyarakat-serta-pengembangan-teknologi-penjernih-ruang-terkontaminasi-virus-corona/ (diakses pada 08 Juli 2020).

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (2020), "Peta Sebaran COVID-19 di Indonesia", https://covid19.go.id/peta-sebaran (diakses tanggal 6 Juni 2020).

Jordan, Rachel E. (2020). “Covid-19: risk factors for severe disease and death”, BMJ 2020;368:m1198 doi: 10.1136/bmj.m1198.

Kai Liu, Ying Chen, Ruzheng Lin, Kunyuan Han (2020),"Clinical features of COVID-19 in Elderly Patients: A comparison with young and middle-aged patients", Journal of Infection 80, doi: 10.1016/j.jinf.2020.03.005.

Leung, Char (2020), "Risk factors for predicting mortality in elderly patients with COVID-19: A review of clinical data in China", Mechanisms of Ageing and Development 188, doi: 10.1016/j.mad.2020.111255.

Niu, Shengmei, Sijia Tian, Jing Lou, Xuqin Kang, Luxi Zhang, Huixin Lian, Jinjun Zhang (2020), Clinical Characteristics of Older Patients Infected with COVID-19: A Descriptive Study”, Archives of Gerontology and Geriatrics, 89, doi: 10.1016/j.archger.2020.104058.

Onder, Graziano, Giovanni Rezza, Silvio Brusaferro (2020), "Case-Fatality Rate and Characteristics of Patients Dying in Relation to COVID-19 in Italy", Journal of the American Medical Association (JAMA), Vol. 323, No. 18, doi:10.1001/jama.2020.4683.

Ping Li, Lulu Chen, Zheming Liu, Jinghui Pan, Dingyi Zhou, Hui Wang, Hongyun Gong, Zhenmin Fu, Qibin Song, Qian Min, Shasha Ruan, Tangpeng Xu, Fan Cheng, Xiangpan Li (2020), "Clinical Features and Short-term Outcomes of Elderly Patients with COVID-19", International Journal of Infectious Diseases, doi: 10.1016/j.ijid.2020.05.107.

Shahid, Zainab , Ricci Kalayanamitra, Brendan McClafferty, Douglas Kepko, Devyani Ramgobin, Ravi Patel, Chander Shekher Aggarwal, Ramarao Vunnam, Nitasa Sahu, Dhirisha Bhatt, Kirk Jones, Reshma Golamari, dan Rohit Jain (2020), "COVID-19 and Older Adults: What We Know", Journal of The American Geriatrics Society 68, doi: 10.1111/jgs.16472.

Siegel, Jacob S. (2012), The Demography and Epidemiology of Health and Aging, North Bethesda, USA: Springer, Dordrecht.

Singh, Rajesh dan R. Adhikari (2020), “Age-structured impact of social distancing on the COVID-19 epidemic in India”, arXiv:2003.12055v1 [q-bio.PE] 26 Mar 2020.

Thomas, Richard K. (2018). Concepts, Methods and Practical Applications in Applied Demography. Cham, Swiss: Springer International Publishing AG.

World Health Organization (2020), “WHO Coronavirus Disease (COVID-19) Dashboard”, covid19.who.int (diakses 6 Juni 2020).

Zhou, Fei, Ting Yu, Ronghui Du, Guohui Fan, Ying Liu, Zhibo Liu, Jie Xiang, Yeming Wang, Bin Song, Xiaoying sGu, Lulu Guan, Yuan Wei, Hui Li, Xudong Wu, Jiuyang Xu, Shengjin Tu, Yi Zhang, Hua Chen, Bin Cao (2020), "Clinical course and risk factors for mortality of adult inpatients with COVID-19 in Wuhan, China: a retrospective cohort study", Lancet 395, doi: 10.1016/S0140-6736(20)30566-3.

powered by social2s

Berasal dari Wuhan, China, COVID-19 terus menyebar luas secara universal termasuk di Jakarta, Indonesia semenjak 2 Maret 2020 (Kurniandari, 2020). Sejak abad ke 19 pandemik yang menyebabkan kematian seperti cacar (Amerika dan Afrika tahun 1800-an), kolera (Eropa 1851),  flu Spanyol (Spanyol, 1918), SARS (China, 2003), COVID-19 (China, 2019) secara alamiah mempengaruhi beragam  sektor terkait seperti sistem perawatan kesehatan; sektor tenaga kerja dan aksesibilitas (Cheng, Li, & Yang, 2020; Cinelli et al., 2020; Page & Hamzelou, 2020; United Nations, 2020; White, 2020). COVID-19 merupakan pandemik yang mengguncang dunia dan mengganggu keberlangsungan berbagai sektor global dengan tingkat penyebaran yang tinggi dan vaksin yang belum ditemukan (Cinelli et al., 2020; WHO, 2020). Pemerintah Indonesia menetapkan 11 regulasi yang meminimalisir aktivitas masyarakat secara berkelompok baru semenjak 4 Februari hingga 24 Maret 2020 untuk mengurangi penyebaran pandemi tersebut di Indonesia. Kebijakan yang ditetapkan seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PSBL (Pembatasan Sosial Berskala Lokal), social distancing, pembatasan kapasitas transportasi umum, pemberlakuan WFH (Work From Home), himbauan untuk tidak mudik, dan penerapan kegiatan edukasi secara daring (Agmasati, 2020; Azanella, 2020; Chick et al., 2020; Idris, 2020; Sari, 2020b; Sudjatma et al., 2020; United Nations, 2020; Winahyu, 2020).

Pemberlakuan kebijakan atau himbauan yang bersifat multidimensional serta dilaksanakan secara beruntun di mulai dari DKI Jakarta (14 Maret 2020), Jawa Barat (6 Mei 2020), Jawa Timur (12 Mei 2020) serta wilayah lainnya diseluruh Indonesia menciptakan gejolak negatif pada berbagai sektor, seperti terhambatnya aksesibilitas dan mobilitas tenaga kerja (Azanella, 2020; Purba, 2020; Ramadhan & Galih, 2020). Jika pemberlakuan ini diterapkan lebih lama, tentu akan menimbulkan preseden negatif yang berimbas pada peningkatan pengangguran, resiko kesehatan, dan penurunan produktivitas khususnya bagi pekerja informal dan profesi tertentu yang tidak bisa dikerjakan dari rumah seperti tenaga kerja kesehatan, pekerja bangunan, dan pengendara transportasi online (ILO, 2020b; Sudjatma et al., 2020). Sumner et al., (2020) mengestimasikan total potensi orang miskin baru karena dampak COVID-19 pada tingkat pendapatan U$ 3.2 / hari sebanyak lebih 130 juta orang dan pada tingkat pendapatan U$ 5.5 / hari sebanyak 124 juta orang didunia. Sri Mulyani (Menteri Keuangan) memperkirakan pengangguran di Indonesia akan meningkat sebanyak 3,78 juta orang akibat COVID-19 (Fauzia & Sukmana, 2020). Hal ini buktikan oleh DKI Jakarta yang menerapkan PSBB semenjak 7 April 2020 menciptakan pengangguran sebanyak 227.722 orang dimana sektor perdagangan, hotel, dan restoran adalah sektor yang melakukan PHK terbanyak (BPS Jakarta, 2020; Putri, 2020).

 

Lockdown Generation

Lockdown generation merupakan pengangguran yang tercipta pada masa pandemi COVID-19, generasi ini dari para fresh graduate / pengangguran terdidik dengan rata-rata tingkat pendidikan sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi pada rentang usia 15-24 tahun. “Decent Jobs for Youth” dalam penelitiannya menyebutkan 1 dari 6 anak muda didunia ter PHK saat COVID-19 dengan rentang usia 18-29 tahun, sedangkan di Indonesia 6 dari 10 masyarakat dirumahkan pada masa COVID-19 (BPS, 2020a; Decent Jobs for Youth, 2020). Tenaga kerja wanita merupakan tenaga kerja terbanyak yang menganggur, dirumahkan, dan ter-PHK dimasa pandemik karena sebagian besar bekerja di sektor dengan resiko tinggi PHK seperti UMKM, transportasi dan akomodasi, kondisi yang sama juga ditemukan namun justru didominasi oleh pria pada sektor yang sama (Badan Pusat Statistik, 2020a; ILO, 2020a; Marthalina, 2018; Rahayu, 2018). Kondisi ini akan menyulitkan para lockdown generation dalam pasar tenaga kerja setelah masa pandemik berakhir karena tingginya persaingan kerja yang disebabkan oleh melonjaknya permintaan lapangan pekerjaan berkualitas dengan tingkat pendapatan yang baik (UMR) tanpa diikuti dengan jumlah penawaran tenaga kerja yang seimbang (ILO, 2020a).

 

Strategi Bertahan Pada Masa Pandemi

Lockdown generation mengatasi kondisi non produktif selama pandemi melalui beragam cara, seperti meningkatkan kemampuan mereka dengan mengikuti beragam pelatihan online seperti program rakerja atau melalui platform online lain seperti Youtube, Pinterest, Instagram, dan Tiktok. Data Twitter menyebutkan semenjak 25 Mei 2020 terdapat 1.961 pembicaraan (tweet) terkait kartu prakerja (beda ID dan username) yang menujukkan bahwa pelatihan dari program prakerja secara efektif dapat mengurangi tingkat pengangguran Indonesia selama pandemi. BPS (2020) juga menyatakan terjadi peningkatan produktivitas dalam bidang kuliner atau kosmetik semenjak Januari 2020 hingga April 2020. Setelah menerima pelatihan online dari program prakerja, lockdown generation memulai untuk meningkatkan produktivitas mereka dari rumah dengan membuka usaha online seperti kuliner atau distributor kosmetik, atau menjadi pekerja lepas (freelance) dan vlogger dengan tema aktivitas yang dapat di lakukan di rumah seperti memasak, mengulas makanan, dan membuat tutorial kecantikan. Vlogger merupakan jenis pekerjaan yang popular saat pandemi, berdasarkan data Twitter 25 Mei – 8 Juni 2020 terdapat tweet terkait vlog sebanyak 1.054 dari 5.189 tweet yang merujuk pada beragam media sosial lain yang digunakan sebagai media sosial utama untuk vlogging seperti Youtube, Instagram, dan Tiktok. Sementara, tweet terkait freelance hanya berjumlah 93 tweet, sebab freelancer merupakan istilah yang jarang digunakan dan masih banyaknya anggapan bahwa freelancer harus memiliki keterampilan khusus seperti menulis (content writing, copy writing, translate) ataupun programing.

Kebijakan penanggulangan COVID-19 yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia masih dinilai tidak maksimal oleh warga Indonesia melalui media sosial, sebab adanya perbedaan antara penerapan regulasi yang diharapkan oleh pemerintah dengan yang dilakukan oleh masyarakat  (Galih, 2020; Handi & Hantoro, 2020; Iwd, 2020). Seperti lemahnya infrastruktur terkait teknologi pada daerah yang terletak jauh dari pusat kota akan meningkatkan hambatan masyarakat kawasan tersebut untuk bekerja (seperti sektor pendidikan dengan sistem daring) (ILO, 2020a; Saubani, 2020). Selain itu PSBB dan PSBL yang kurang ditaati oleh masyarakat menjadikan banyak daerah yang memperpanjang waktu karantina dan memperlambat aktivitas produktif pada daerah yang seharusnya bisa melaksanakan regulasi new normal (Azmi, 2020; Persada, 2020; Purba, 2020; Sari, 2020a). Penerbitan kartu prakerja oleh pemerintah Indonesia semenjak 28 Februari 2020 hanyalah solusi sementara untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan yang tercipta saat pandemi. Pemilik kartu prakerja berhak mendapatkan intensif sebanyak Rp.600.000 selama 3-4 bulan, dengan prioritas penerima kartu prakerja adalah masyarakat yang dirumahkan saat COVID-19 terjadi di Indonesia. Sebagai solusi sementara, kartu prakerja ini diharapkan mampu memotivasi masyarakat Indonesia untuk terus meningkatkan keterampilan / bakat pribadi melalui pelatihan yang telah disediakan dan mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensi yang dimiliki (Peraturan Presiden Republik Indonesia No 36 Tahun 2020).

 

Upaya Pemerintah

COVID-19 merupakan pandemik mematikan dengan tingkat penyebaran tinggi yang mempengaruhi sektor ketenagakerjaan Indonesia Tingginya tingkat pengangguran terdidik pada usia (15-29 tahun) didominasi oleh pekerja pria pada sektor yang memiliki resiko PHK tinggi di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah membuat kebijakan baru yaitu program kartu prakerja sebagai solusi sementara untuk meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat yang menganggur pada sektor tertentu. Selain itu program prakerja juga digunakan sebagai  salah satu sarana pemberian insentif bagi masyarakat yang terkena dampak negatif karena penyebaran COVID-19 di Indonesia, seperti ter PHK atau tidak mendapatkan pekerjaan. Tujuannya setelah masa pandemik selesai masyarakat yang menganggur bisa mencari dan mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha sesuai dengan keterampilan yang didapatkannya melalui program kerja.

 

Ditulis oleh Joshi Maharani Wibowo, Lulusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

 

 

Referensi

Agmasati, S. (2020, March 23). 19 Perjalanan KA Jarak Jauh Keberangkatan Jakarta Dibatalkan, Simak Daftar Lengkapnya. Kompas, p. 1. Retrieved from https://travel.kompas.com/read/2020/03/23/143340427/19-perjalanan-ka-jarak-jauh-keberangkatan-jakarta-dibatalkan-simak-daftar?page=all

Azanella, L. A. (2020, April 7). Kasus Covid-19 di DKI Jakarta dan Penerapan PSBB yang Telah Disetujui Menkes... Kompas, p. 3. Retrieved from https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/07/114643065/kasus-covid-19-di-dki-jakarta-dan-penerapan-psbb-yang-telah-disetujui?page=2

Azmi, F. (2020, June 8). Ini Sikap Sidoarjo Setelah PSBB Jilid 3: Ingin Transisi New Norma. Detik, p. 1. Retrieved from https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5045108/ini-sikap-sidoarjo-setelah-psbb-jilid-3-ingin-transisi-new-normal

BPS Jakarta. (2020). Penduduk Provinsi DKI Jakarta Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2018 - 2019. Retrieved from https://jakarta.bps.go.id/dynamictable/2019/09/18/65/3-2-8-penduduk-provinsi-dki-jakarta-berumur-15-tahun-ke-atas-yang-bekerja-selama-seminggu-yang-lalu-menurut-lapangan-pekerjaan-utama-dan-pendidikan-tertinggi-yang-ditamatkan-2018---2019.html

BPS. (2020a). Hasil Survei Sosial Demografi Dampak COVID-19. Jakarta.

BPS. (2020b). Tinjauan Big Data Terhadap Dampak COVID-19. Jakarta.

Cheng, H. Y., Li, S. Y., & Yang, C. H. (2020). Initial rapid and proactive response for the COVID-19 outbreak — Taiwan’s experience. Journal of the Formosan Medical Association, (xxxx), 4–6. https://doi.org/10.1016/j.jfma.2020.03.007

Chick, R. C., Clifton, G. T., Peace, K. M., Propper, B. W., Hale, D. F., Alseidi, A. A., & Vreeland, T. J. (2020). ARTICLE IN PRESS Using Technology to Maintain the Education of Residents During the COVID-19 Pandemic. Journal of Surgical Education. https://doi.org/10.1016/j.jsurg.2020.03.018

Cinelli, M., Quattrociocchi, W., Galeazzi, A., Valensise, C. M., Brugnoli, E., Schmidt, A. L., … Scala, A. (2020). The COVID-19 Social Media Infodemic. 1–18. Retrieved from http://arxiv.org/abs/2003.05004

Decent Jobs for Youth. (2020). Let’s act to prevent long-term youth labour market exclusion and scarring. Retrieved June 8, 2020, from Decent Jobs for Youth website: https://www.decentjobsforyouth.org/resource-details/643

Fauzia, M., & Sukmana, Y. (2020, March 14). Dampak Corona, Angka Kemiskinan Bisa Meningkat 3,78 Juta Orang. Kompas, p. 1. Retrieved from https://money.kompas.com/read/2020/04/14/141348026/dampak-corona-angka-kemiskinan-bisa-meningkat-378-juta-orang

Galih, B. (2020, March 16). Jokowi Larang Pemerintah Daerah Lakukan Lockdown Terkait Covid-19. Kompas, p. 2. Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2020/03/16/15420291/jokowi-larang-pemerintah-daerah-lakukan-lockdown-terkait-covid-19?page=2

Handi, I., & Hantoro, J. (2020, April 8). PSBB Diterapkan, Begini Pembatasan Angkutan Pribadi dan Umum. Tempo, p. 2. Retrieved from https://metro.tempo.co/read/1329427/psbb-diterapkan-begini-pembatasan-angkutan-pribadi-dan-umum/full&view=ok

Idris, M. (2020, April 3). Simpang Siur Larangan Mudik Lebaran 2020 Akhirnya Terjawab. Kompas, p. 1. Retrieved from https://money.kompas.com/read/2020/04/03/105550826/simpang-siur-larangan-mudik-lebaran-2020-akhirnya-terjawab?page=all

ILO. (2020a). ILO Monitor: COVID-19 and the world of work. Third edition Updated estimates and analysis. Retrieved from https://gisanddata.maps.arcgis.com/apps/opsdashboard/index.html#/bda7594740fd40299423467b48e9ecf6

ILO. (2020b). The effects of COVID‑19 on trade and global supply chains. The Lancet. Infectious Diseases, 20(2), 1–6. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(20)30015-3

Iwd. (2020). Kebijakan “Lockdown” Kota Malang yang Akhirnya Dianulir dan Direvisi. Detik, p. 1. Retrieved from https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4941992/kebijakan-lockdown-kota-malang-yang-akhirnya-dianulir-dan-direvisi

Kurniandari, R. (2020, April 1). Diumumkan Pertama 2 Maret 2020, Ini Rekap Kasus Corona di Indonesia Sepanjang Maret, 1.528 Positif Diumumkan Pertama 2 Maret 2020, Ini Rekap Kasus Corona di Indonesia Sepanjang Maret, 1.528 Positif. Kompas, p. 1. Retrieved from https://www.tribunnews.com/corona/2020/04/01/diumumkan-pertama-2-maret-2020-ini-rekap-kasus-corona-di-indonesia-sepanjang-maret-1528-positif

Marthalina. (2018). Pemberdayaan perempuan dalam mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (umkm) di indonesia. (Jurnal Pembangunan Pemberdayaan Pemerintahan, 3(juni), 59–76.

Peraturan Presiden Republik Indonesia No 36 Tahun 2020 Tentang Pengembangan Komptensi Kerja Melalui Program Kartu Prakerja

Persada, A. S. (2020, June 7). Khofifah: Malang Raya Belum Bisa New Normal, PSBB Dilanjutkan. Tempo, p. 1. Retrieved from https://nasional.tempo.co/read/1350777/khofifah-malang-raya-belum-bisa-new-normal-psbb-dilanjutkan/full&view=ok

Purba, D. O. (2020). PSBB Surabaya Raya Diperpanjang hingga 8 Juni. Kompas, p. 1. Retrieved from https://surabaya.kompas.com/read/2020/05/25/22121411/psbb-surabaya-raya-diperpanjang-hingga-8-juni

Putri, C. A. (2020, April 10). PSBB Berlaku per Hari Ini, Apa Dampaknya ke Ekonomi Jakarta? CNBCIndonesia, p. 1. Retrieved from https://www.cnbcindonesia.com/news/20200410061039-4-151038/psbb-berlaku-per-hari-ini-apa-dampaknya-ke-ekonomi-jakarta/1

Rahayu, A. T. (2018). Gambaran Keberdayaan Perempuan di Desa Wisata Pentingsari berdasarkan Resident Empowerment through Tourism Scale ( RETS ). Gadjah Mada Journal of Tourism Studies, 1(1), 1–11.

Ramadhan, A., & Galih, B. (2020). Ridwan Kamil Sebut Hasil PSBB Se-Jawa Barat Menggembirakan Artikel. Kompas, p. 1. Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2020/05/16/17024841/ridwan-kamil-sebut-hasil-psbb

Sari, N. (2020a). Anies Kembali Perpanjang PSBB Jakarta sampai 4 Juni 2020. Kompas, p. 1. Retrieved from https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/19/17291841/anies-kembali-perpanjang-psbb-jakarta-sampai-4-juni-2020

Sari, N. (2020b). PSBL, Cara Jakarta Kunci RW Zona Merah Covid-19. Kompas, p. 1. Retrieved from https://megapolitan.kompas.com/read/2020/06/04/11212451/psbl-cara-jakarta-kunci-rw-zona-merah-covid-19

Saubani, A. (2020, March 20). Gagap Pembelajaran Daring di Tengah Wabah Corona. Republika, p. 1. Retrieved from https://republika.co.id/berita/q7i0xj409/gagap-pembelajaran-daring-di-tengah-wabah-corona

Sudjatma, A., Indrawan, M., Sinapoy, M. S., Rafliana, I., Djalante, S., Gunawan, L. A., … Surtiari, I. G. A. (2020). Review and analysis of current responses to COVID-19 in Indonesia: Period of January to march 2020. Progress in Disaster Science, (march), 1–37. https://doi.org/10.1016/j.pdisas.2020.100091

Sumner, A., Hoy, C., & Ortiz-Juarez, E. (2020). Estimates of the Impact of COVID-19 on Global Poverty. WIDER, 43(April), 1–14. https://doi.org/10.35188/UNU-WIDER/2020/800-9

United Nations. (2020). SHARED RESPONSIBILITY , GLOBAL SOLIDARITY : Responding to the socio-economic impacts of COVID-19.

White, A. I. R. (2020). Historical linkages: epidemic threat, economic risk, and xenophobia. The Lancet, 6736(20), 1–2. https://doi.org/10.1016/s0140-6736(20)30737-6

WHO. (2020). Coronavirus. Retrieved April 8, 2020, from https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1

Winahyu, A. I. (2020, March 15). Cegah COVID-19, Kemendikbud Sediakan Aplikasi Belajar Daring. MediaIndonesia, p. 1. Retrieved from https://mediaindonesia.com/read/detail/296771-cegah-covid-19-kemendikbud-sediakan-aplikasi-belajar-daring

powered by social2s
Go to top