Kemunculan virus Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang menyebar begitu cepat telah mengguncang hampir seluruh negara di dunia, termasuk di Indonesia. Pandemi COVID-19 telah memberi imbas pada hampir semua sektor kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang selama ini diakui sebagai “kehidupan normal” telah terporak-porandakan, tidak hanya pada sektor kesehatan dan ekonomi secara global, namun juga termasuk perubahan cara hidup. Lalu benarkah keberadaan virus ini terhubung dengan kerusakan lingkungan hidup dan sumber daya alam? Apakah kehadiran virus ini juga terhubung dengan krisis iklim yang hingga saat ini terus menjadi perhatian para ahli dan pemerhati lingkungan?

COVID-19 merupakan patogen ganas yang menyerang tanpa mengenal suku, agama, ras, golongan, usia, kelas sosial, jenis kelamin, bahkan negara maju maupun berkembang terpapar tanpa ampun. Meskipun pandemi di sebagian wilayah telah menunjukkan penurunan bahkan nol kasus baru, namun secara umum masih memperlihatkan perkembangan yang memprihatinkan. Angka infeksi di sejumlah negara masih terus mengalami lonjakan. Berdasarkan data yang dilansir langsung dari Center for Systems Science and Engineering (CSSE) pada Johns Hopkins University, hingga Kamis, 12 Juni 2020 pukul 02:33, total jumlah kasus positif corona di dunia telah mencapai 7.297.059 orang. Dari sejumlah kasus positif terkonfirmasi tersebut, angka kematian pasien positif corona di dunia saat ini sudah mencapai 413,237 orang (Johns Hopkins University. 2020).

Sejak kemunculan pertamanya di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019, penularan virus SARS-CoV-2 begitu cepat dan nyaris tidak ada satu negara pun yang dapat menghindarinya (Prem K. et all., 2020). Banyak virus corona terkait SARS-CoV ditemukan pada kelelawar, bahkan investigasi sebelumnya telah menunjukkan bahwa beberapa kelelawar SARS-CoV mungkin dapat menginfeksi manusia (Soufi, G.J. et all., 2020). Dalam penelitiannya, Wenti Dwi Febriani, et all. (2020) telah mendokumentasikan bahwa kelelawar diketahui membawa virus corona ke beberapa negara, Hasil penelitiannya membuktikan bahwa dari 95 sampel kelelawar, 24 di antaranya sebagai dugaan positif untuk virus corona (Bat CoV). Selanjutnya delapan dari 24 sampel dianalisis dengan sequencing nukleotida dan dikonfirmasi sebagai Bat CoV. Penelitiannya juga menunjukkan bahwa kelelawar adalah reservoir untuk virus yang dimiliki berpotensi zoonosis dan berpotensi menjadi patogen berbahaya bagi kesehatan manusia. Berdasarkan kondisi tersebut maka penanganan virus ini tidak bisa dilakukan secara serampangan. Tidak hanya ditopang dengan fasilitas medis, sosialisasi, dan edukasi yang masif, bahkan hingga melakukan rekayasa sosial, akan tetapi juga termasuk melakukan pembenahan di bidang lingkungan hidup.

Penularan penyakit dari satwa liar kepada manusia memang bukan hal yang baru. Mulai dari AIDS, ebola, SARS, MERS, hingga kini SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 dan menjadi pandemi global. Semua penyakit itu mulanya berasal dari hewan (zoonosis). Satwa liar telah menjadi sumber penyakit menular yang baru. Dalam sebuah diskusi online bertajuk “Covid-19 and Our Relationship with Wildlife”, (Kompas.com, 22/4) Direktur Kantor Lingkungan Hidup USAID Indonesia, Matthew Burton menyebutkan 60 persen Emerging Infectious Disease (EID) berasal dari hewan dan 70 persen EID berasal dari satwa liar. Matthew mencontohkan HIV diketahui berasal dari simpanse. Deforestasi sangat berkaitan dengan virus Ebola, karena kontak manusia yang semakin dekat dengan satwa liar. Di hutan Amazon, deforestasi meningkatkan prevalensi penyakit malaria karena hutan gundul menjadi habitat ideal untuk nyamuk. Ini artinya perlakuan manusia terhadap lingkungan sangat berkaitan dengan respon dari alam (Nursastri, 2020).

 

Hubungan Lingkungan Hidup dengan Munculnya Penyakit Menular

Saat ini masih banyak masyarakat yang belum paham bahwa lingkungan memiliki korelasi yang kuat terhadap munculnya berbagai penyakit. Sebagai contoh, COVID-19 masih dianggap sebagai pandemi yang berdiri sendiri di luar dari efek perusakan lingkungan hidup dan sumber daya alam. Padahal korelasi antara munculnya COVID-19, krisis iklim, dan kerusakan keragaman hayati sangat terkait dan nyata terjadi. Ketika manusia bergerak semakin jauh ke habitat hewan liar untuk menebangi hutan, berburu, memeliharanya sebagai hewan ternak, dan mengambil sumber daya alam lainnya, maka manusia akan semakin cepat terpapar patogen (Deutsche Welle, 2020). Pada dasarnya patogen tidak bergerak meninggalkan tempat-tempat dimana mereka selama ini hidup. Namun semakin dekat manusia dengan habitat hewan liar maka semakin besar potensi manusia terpapar virus yang bersumber dari hewan-hewan liar tersebut. Transmisi dan penyebaran COVID-19 begitu cepat pada manusia, salah satunya karena ekspansi dan ekploitasi manusia terhadap ekosistem dan sumber daya alam yang terlampau jauh masuk ke dalam kehidupan liar (Shaleh, 2020).

Kehidupan liar yang terekspose oleh manusia menyebabkan retaknya metabolisme alam sekaligus menyebabkan kerentanan kehidupan sosial ekologi antarsesama mahluk hidup Oleh karena itu, pandemi ini adalah momentum yang tepat untuk mengubah cara kita melihat hubungan kita dengan alam dan lingkungan. Kemunculan wabah yang tiba-tiba ini diharapkan dapat menyadarkan semua pihak bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya pada hewan-hewan yang kehilangan habitatnya, akan tetapi juga dapat berdampak bencana yang menimpa manusia. Mutasi virus-virus yang selama ini hanya terjadi pada binatang di balik lebatnya hutan, kini merambah menuju manusia. Perubahan habitat memaksa hewan dan patogennya untuk pergi ke daerah lain, termasuk ke daerah yang dihuni manusia (Mubarok, 2020).

Kita harus mulai menghitung bahwa biaya kerugian yang muncul akibat penyakit limpahan dari satwa liar akan jauh lebih tinggi dibandingkan manfaat ekonomi dari eksploitasi terhadap lingkungan. sebagaimana disampaikan Yonariza, ahli ekonomi lingkungan dalam kumparan.com (22/4), menyatakan bahwa kebijakan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhitungkan aspek lainnya, sudah tidak relevan. Manusia adalah bagian dari alam, di mana kesehatan manusia terkait dengan kesehatan satwa liar, kesehatan binatang ternak, dan kesehatan lingkungan, sehingga kita perlu menemukan cara yang lebih baik untuk hidup bersama alam dengan aman.

 

Dampak Perubahan Iklim dan Penyakit Menular

Perubahan iklim mencakup pergantian dalam satu atau lebih variasi iklim termasuk suhu, curah hujan, angin, dan sinar matahari. Perubahan ini dapat berdampak pada kelangsungan hidup, reproduksi, atau distribusi penyakit sehingga patogen dan inang bertransmisi sesuai dengan ketersediaan sarana lingkungan mereka. Dr. Richard Williams menyatakan, memang belum ada bukti yang jelas bahwa perubahan iklim mempengaruhi frekuensi virus secara langsung, namun terdapat bukti yang kuat bahwa kombinasi dari perubahan iklim dan aktivitas manusia lainnya mengganggu stabilitas ekologi kelelawar, dan inang penyakit lainnya (Derby, 2020).

McMichael, et all., (2003) dalam bukunya yang berjudul Climate Change and Human Health: Risk and Responses menyebutkan bahwa sejak sejak akhir abad kesembilan belas, sesungguhnya manusia telah menyadari bahwa perubahan iklim mempengaruhi munculnya penyakit pandemi, bahkan sebelum agen infeksinya ditemukan. Sejarah mencatat bahwa setiap musim panas bangsawan Romawi mundur ke bukit resor untuk menghindari malaria. Orang Asia Selatan belajar sejak dini untuk mengurangi makanan kari di saat musim panas yang tinggi, meskipun saat itu itu belum diketahui pasti bahwa kari dapat menyebabkan diare. Secara keseluruhan, kondisi iklim geografis mendorong distribusi penyakit menular musiman. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pemanasan iklim jangka panjang cenderung mendukung ekspansi geografis beberapa penyakit menular (Epstein et al., 1998; Ostfeld dan Brunner, 2015; Rodó et al., 2013). Peristiwa cuaca ekstrem dapat membantu menciptakan peluang lebih besar untuk munculnya wabah penyakit (Haines, et all. 2000).

Penelitian telah menunjukkan bahwa perubahan iklim menggeser siklus kehidupan spesies, baik yang hidup di darat maupun di laut. Perubahan iklim memungkinkan untuk memperpanjang musim penularan dari penyakit-penyakit yang ditularkan melalui vektor dan mengubah jangkauan geografisnya. Jika, di masa depan, kita melihat spesies bergerak ke daerah di mana manusia lazim tinggal, namun sekarang kita bisa melihat peluang baru untuk pandemi berkembang. Hal ini terjadi, karena ketika suhu meningkat dan tingkat curah hujan berubah, beberapa spesies dipaksa untuk mencari daerah baru dengan kondisi iklim yang dapat mereka toleransi, sementara spesies yang tidak dapat beradaptasi akan punah. Prof. Hans-Otto Poertner, Kepala Biosains di Alfred Wegener Institute (AWI) dan Ketua Bersama dari IPCC (Dunne, 2020)  menyampaikan bahwa perubahan iklim jelas menjadi salah satu faktor yag mempengaruhi hubungan manusia dan satwa. Setiap penyakit bawaan hewan dapat disebabkan oleh: 1) interaksi antara manusia dengan satwa liar, 2) kemungkinan perubahan iklim dan 3) gangguan keanekaragaman hayati. Peristiwa-peristiwa tersebut berperan menentukan frekuensi, lama waktu, dan lokasi terjangkitnya penyakit. Sejalan dengan itu, Prof. Birgitta Evengard, seorang peneliti senior penyakit menular di Universitas Umea, Swedia mengungkapkan bahwa sangat mungkin pergerakan spesies akan memiliki konsekuensi bagi kesehatan manusia. Menurutnya, ketika hewan darat bergerak, mereka membawa serta virus mereka, dan mereka akan menyebarkannya.

 

Menyelamatkan Masa Depan dari Pandemi Melalui Pendidikan Lingkungan

Wabah penyakit menular dari hewan ke manusia mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir (Cunningham, 2020). Kemunculan wabah tak lepas dari kerusakan alam yang masif di berbagai belahan dunia. Alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan monokultur, industri, dan tambang, tak cuma berdampak pada hilangnya habitat satwa liar, tapi juga pada ketersediaan air bersih, kebersihan udara, dan kemampuan daya dukung tanah. Sementara itu, hewan-hewan liar yang membawa patogen yang sebelumnya terlindungi, kini menjadi semakin terekspos manusia, bahkan berinteraksi secara langsung.

Walaupun kemunculan dan penyebaran COVID-19 ini tidak dapat diprediksi secara cepat, akan tetapi sudah dapat dipastikan bahwa kemunculan virus lain dari satwa liar sangat mungkin terjadi. Terlebih lagi jika manusia tidak mengubah perlakuannya terhadap lingkungan alam. Kondisi ini tentunya menjadi ancaman kesehatan bagi manusia di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu  memunculkan kesadaran pada setiap individu untuk mulai memperbaiki hubungan antara dirinya dengan lingkungan, adalah persoalan yang mendesak.

COVID-19 telah mengajarkan kita dampak pandemi dan mengingat kondisi lingkungan dunia saat ini, perlu kiranya memperluas pendidikan lingkungan guna menemukan strategi yang tepat untuk memperbaiki dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Mengenalkan pendidikan lingkungan terhadap anak-anak sedini mungkin diharapkan dapat menciptakan agent of change di masa yang akan datang. Hadirnya lingkungan yang baik akan membuat kita memiliki lebih banyak sumber daya untuk membangun strategi mitigasi dan adaptasi terhadap munculnya wabah di masa yang akan datang.

Pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses untuk membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk bekerja sama, baik secara individu maupun secara kolektif, untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, dan mencegah timbulnya masalah baru. (UNESCO, Deklarasi Tbilisi, 1977). Telah banyak bentuk kegiatan yang dilakukan sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan hidup, serta peningkatan keterampilan dalam mengelola lingkungan hidup, baik secara formal maupun nonformal. Sejak tahun 1986 hingga sekarang, pendidikan lingkungan hidup dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan formal yang dalam pembelajarannya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah dasar dan menengah. Tujuannya adalah untuk pembinaan dan pengembangan pendidikan lingkungan hidup sejak dini untuk hidup yang berkelanjutan. Sosialisasi tentang pentingnya menjaga lingkungan, baik dalam bentuk kampanye maupun gerakan nyata telah banyak dilakukan oleh berbagai lembaga nasional dan internasional, antara lain Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, WALHI, Greenface, WWF, dan lembaga-lembaga lainnya. Semuanya bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup demi masa depan yang lebih baik. Satu hal yang pasti, lingkungan hidup adalah milik kita bersama, maka melestarikannya pun merupakan tanggung jawab bersama.

 

Ditulis oleh Sanusi, Peneliti Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

 

Daftar Pustaka

Dunne, D. (2020, 15 Mei). Q&A: Could climate change and biodiversity loss raise the risk of pandemics?. Carbonbrief.org https://www.carbonbrief.org/q-and-a-could-climate-change-and-biodiversity-loss-raise-the-risk-of-pandemics

Febriani, W.D., Saepuloh, U. , Ayuningsih, E.D., Saputra, R.S., Purbatrapsila, A., Nangoy, M.J., Ransaleh, T.D., Wahyuni, I., Dako, S., Noviana, R., (2018). Bat Coronavirus of Pteropus alecto from Gorontalo Province, Indonesia.  The International Journal of Tropical Veterinary and Biomedical Research. 2018, Vol. 3 (2): 36-42. doi.:10.21157/ijtvbr.v3i2.12359

Haines, A., McMichael, A. J., & Epstein, P. R. (2000). Environment and health: 2. Global climate change and health. CMAJ : Canadian Medical Association journal = journal de l'Association medicale canadienne163(6), 729–734.

Johns Hopkins University. (2020, 11 Juni). COVID-19 Dashboard by the Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University (JHU). Arcgis.com https://www.arcgis.com/apps/opsdash-board/index.html#/bda7594740fd40299423467b48e9ecf6

McMichael, E.A.J. Lendrum, D.H.C., Corvalän, C.F., Ebi, K.L., Githeko, A.K., Scheraga, J.D., & Woodward, A. (2003). Climate change and human health : Risk and Responses.  Geneva. World Health Organization, ISBN 92 4 156248 X.

Mubarok, F. (2020, 14 Maret). Pandemi COVID-19, Peringatan untuk Manusia Hidup Berdampingan dengan Satwa Liar. Mongabay.co.id. https://www.mongabay.co.id/2020/03/14/pandemi-covid-19-peringatan-untuk-manusia-hidup-berdampingan-dengan-satwa-liar/

Nursastri, S.A.  (2020, 22 April). Bukan Kebetulan, Virus Corona Muncul Akibat Ulah Manusia. Kompas.com. https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/22/200200523/bukan-kebetulan-virus-corona-muncul-akibat-ulah-manusia

Prem, K., Liu, Y., Russell, T.W., Kucharski, A.J., Eggo, R.M., Davies, N., Jit, M., Klepac, P. & Centre for the Mathematical Modelling of Infectious Diseases COVID-19 Working Group. (2020). The effect of control strategies to reduce social mixing on outcomes of the COVID-19 epidemic in Wuhan, China: a modelling study. Lancet Public Health 2020; 5: e261–70. doi.:10.1016/S2468-2667(20)30073-6

Ramirez, L. (2020, 8 Mei). The importance of climate education in a COVID-19 world. weforum.org  https://www.weforum.org/agenda/2020/05/the-importance-of-climate-education-in-a-covid-19-world/

Saleh, M.R. (2020, 19 April). EKOSIDA dan Pandemic COVID 19. Mongabay.co.id. https://www.mongabay.co.id/2020/04/28/pandemi-corona-dan-ekosida/

Soufi, G.J., Hekmatnia, A. McMichael, E.A.J. Lendrum, D.H.C., Corvalän, C.F., Ebi, K.L., Githeko, A.K., Scheraga, J.D., & Woodward, A. (2003). Climate change and human health : Risk and Responses.  Geneva. World Health Organization, ISBN 92 4 156248 X.

Shafiei, N., Sajjadi, M., Iravani, P., Fallah, S., Iravani, S., Varma, R.S., (2020). SARS-CoV-2 (COVID-19): New Discoveries and Current Challenges. Applied Sciences 2020, 10, 3641. doi.:10.3390/app10103641

University of Derby. (2020, 6 Juni). Is COVID-19 caused by climate change?.Fenews.com.  https://www.fenews.co.uk/press-releases/48888-is-covid-19-caused-by-climate-change.

Welle, Deutsche (2020, 16 April). Coronavirus Pandemic Linked to Destruction of Wildlife and World's Ecosystems. Ecowatch.com. https://www.ecowatch.com/coronavirus-wildlife--ecosystem-destruction-2645713976.html

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait