“When announced lockdown, none of us rushed to buy gold, land, car, or expensive phone. But all of us rushed to buy rice, wheat, milk and vegetables”

 

Rangkaian kata-kata tersebut membanjiri berbagai status media sosial sejak COVID-19 ditetapkan menjadi bencana pandemi dunia. Kata - kata tersebut juga menyadarkan kita betapa krusialnya peran petani kecil (smallholder farmers) dalam penyediaan pangan dan komoditas utama rumah tangga.

Indonesia mendefinisikan petani kecil sebagai petani yang memiliki luas lahan tidak lebih dari 25 hektar per rumah tangga (Kementerian Pertanian, 2013). Organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) melaporkan secara umum petani kecil Indonesia memiliki penguasaan lahan sekitar 0.6 hektar per rumah tangga (FAO, 2018). Hal ini terlihat khususnya di sektor pertanian pangan, dimana petani kecil diidentikkan dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar (Sayogyo, 1977). Sedangkan di sektor perkebunan khususnya sawit, luas rata-rata penguasaan lahan petani kecil sedikit lebih besar, yaitu sekitar 2 ha per rumah tangga (Glenday and Paoli, 2015).

Di tengah keterbatasan penguasaan lahan, sektor pertanian tetap menjadi tumpuan lapangan pekerjaan bagi 29% penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun keatas (Sakernas, 2019). Bahkan di tingkat global, 70 - 80% pangan di dunia juga diproduksi oleh petani skala kecil (Ricciardi et al., 2018). Pada tahun 2017 petani kecil di perkebunan sawit menguasai 53% dari total perkebunan sawit di Indonesia dengan luas lahan setidaknya 3.1 juta hektar. Begitu juga dengan pertanian pangan, 48% rumah tangga pertanian memiliki pekerjaan utama di sektor ini dengan jumlah rumah tangga sebanyak 30 juta (Sutas, 2018). Sama halnya dengan sektor lainnya, pandemi COVID-19 juga berpengaruh terhadap kehidupan petani kebun dan pangan. Untuk dapat bertahan, petani melakukan berbagai strategi di tengah segala keterbatasannya sebagai petani kecil.

 

Cerita Kehidupan Petani Sawit di Kalimantan Timur

Petani sawit memiliki kontribusi yang signifikan karena sebagian produksi sawit nasional dihasilkan oleh petani kecil. Saat ini, Indonesia adalah produsen sawit nomor satu dunia sehingga peran petani kecil sawit pun menjadi menjadi semakin krusial. Dalam situasi pandemi COVID-19, petani kecil menjadi salah satu pihak yang tidak luput terkena dampak besar. Tidak hanya berdampak pada terganggunya pasokan sawit nasional namun juga dapat mengancam kesejahteraan petani.

Areal perkebunan sawit yang cukup luas saat ini terpusat di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai  Kartanegara, Kalimantan Timur. Petani kecil yang tinggal di desa sekitar perkebunan sawit ini sudah menyadari adanya pandemi COVID-19 sejak awal tahun 2020. Mereka umumnya mendapatkan berita dari media sosial seperti Facebook dan Whatsapp yang diakses melalui telepon seluler mereka. Kemudian berita berlanjut melalui percakapan dari orang ke orang di desa dan menyebar ke desa lain yang tidak memiliki jaringan komunikasi seluler yang memadai. Sebagai contoh, informasi akan adanya seorang warga desa Long Mesangat yang terinfeksi virus korona awal Maret lalu dapat menyebar hanya dalam waktu satu hari. Tidak lama sekitar akhir Maret dan awal April 2020, para petani kecil ini menceritakan bahwa wilayah desa mereka sudah melakukan lockdown.

Meskipun begitu, para petani sawit masih tetap berproduksi seperti biasa dan perusahaan-perusahaan sawit pun masih tetap beroperasi untuk memproduksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Salah satu perusahaan sawit di Kutai Kartanegara sudah membuat kesepakatan dengan petani sawit untuk terus menerima buah sawit atau tandan buah segar (TBS) dari para petani kecil selama mereka mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan oleh perusahaan. Supir angkutan sawit dari para petani ini harus menerapkan social distancing atau tidak berkerumun ketika masuk wilayah pabrik sawit perusahaan. Selain itu para supir diwajibkan untuk menggunakan masker dan menyiapkan sabun untuk mencuci tangan di dalam kendaraan.

 

Cerita dari Petani Hortikultura di Lereng Gunung Welirang

Begitu juga dengan cerita pertanian pangan organik di desa Claket Kecamatan Pacet Mojokerto, Jawa Timur. Pertanian ini digagas oleh seorang perempuan muda yang bukan berasal dari keluarga petani dan tidak memiliki latar belakang ilmu pertanian. Namun demikian, ideologinya untuk mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan mendorongnya untuk membangun pertanian hortikultura organik di bawah Kaki Gunung Welirang. Saat ini tercatat sudah ada 20 petani yang membudidayakan tanaman hortikultura secara organik. Mereka menanam 50 jenis sayur dan berbagai jenis buah seperti strawberry, raspberry dan blackberry. Selain itu, ada beberapa petani yang menanam khusus bawang-bawang dan paprika. Luas lahan yang dikelola setiap kelompok sebesar 2,5 – 3 hektar, jika dirata-rata setiap petani hanya menggarap 0,25 hektar.

Di tengah kondisi pandemi ini, Sebagian besar media cetak dan elektronik menyoroti mengenai keprihatinan para petani karena berkurangnya permintaan panen mereka, para petani kecil hortikultura di lereng gunung ini justru mendapatkan pesanan yang lebih banyak dibandingkan sebelum adanya pandemi. Cara menjual hasil panen yang langsung ke konsumen rumah tangga tanpa melalui pedagang perantara menjadi strategi jitu untuk tetap bertahan. Upaya ini menyebabkan petani tidak mengalami kesulitan memasarkan hasil panen ketika dihadapkan pada aturan PSBB. Mereka juga tidak tergantung pada tengkulak ataupun tidak tergantung pada jam buka pasar yang terbatas selama pandemi ini. Bahkan para petani ini tidak mengalami penurunan harga jual seperti yang dialami oleh banyak petani selama masa pandemi.

Kepercayaan antara petani dan konsumen ini menjadi kunci dari keberlangsungan pertanian mereka. Sebelum masa pandemi, kelompok tani ini mengajak konsumen untuk melihat langsung proses budidayanya dan selalu mengupdate setiap bibit yang akan ditanam kepada konsumen, sehingga petani mampu meyakinkan konsumen tentang budidaya organik yang mereka lakukan tanpa harus membayar mahal biaya penjaminan organik yang dikeluarkan oleh badan sertifikasi. Kini pemasaran mereka telah mencapai kota besar di Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, dan Malang. Konsumen mereka memilih untuk memesan langsung kepada kelompok tani ini melalui aplikasi Whatsapp kemudian produk dapat dikirim langsung oleh petani ke rumah tinggal mereka.

Untuk menjaga petani dan penduduk desa terhindar dari risiko penyebaran COVID-19, Ketua kelompok tani berupaya untuk mensosialisasikan pola hidup bersih seperti mencuci tangan dan menggunakan masker. Selain itu, penduduk juga menjaga desa mereka dengan cara selektif menerima tamu yang berkunjung atau masuk ke wilayah mereka.

 

Strategi Petani Kecil Tetap Bertahan

Kasus-kasus diatas memberikan gambaran bahwa perkebunan dan pertanian tetap menjadi sektor yang mampu bertahan dari berbagai tekanan. Sebagai komoditas utama di tingkat global, petani sawit tetap memiliki permintaan di dunia meskipun di tengah tekanan pandemik. Kepatuhan petani untuk bekerja sesuai dengan protokol kesehatan sangat penting dalam menjaga kesehatan dan kepercayaan perusahaan dalam bekerja sama dengan petani sawit, sehingga kegiatan produksi baik di tingkat petani maupun perusahaan tetap berjalan dengan baik.

Begitu juga dengan sektor pangan, faktor yang membuat petani kecil holtikultura tetap bertahan adalah kemampuannya untuk menciptakan strategi kemandirian baik dari aspek produksi maupun pemasaran. Kemandirian petani untuk melakukan produksi sendiri tanpa bergantung pada penyediaan input produksi yang dijual di pasar, membuat petani ini tetap dapat menyediakan bibit dan pupuk untuk berproduksi, tanpa terganggu dengan kenaikan harga input produksi di pasar. Selain itu, kemampuan petani untuk memotong mata rantai distribusi yang panjang membuat petani tidak tergantung pada pembatasan mobilitas yang ditetapkan oleh pemerintah. Strategi kemandirian ini merupakan cara utama petani untuk bisa bertahan di tengah berbagai tekanan (van der Ploeg, 2018).

 

Ditulis oleh Andini Desita Ekaputri dan Vanda Ningrum, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

 

Daftar Pustaka

FAO, 2018. Small Family Farming in Indonesia - a country specific outlook  | FAO [WWW Document]. URL http://www.fao.org/family-farming/detail/en/c/1111082/ (accessed 6.1.20).

Glenday, S., Paoli, G.D., 2015. Overview of Indonesian Oil Palm Smallholder Farmers. Daemeter Consulting, Bogor, Indonesia.

Kementerian Pertanian, 2013. PERMENTAN-98-2013-PERIZINAN-USAHA-PERKEBUNAN.pdf.

Ricciardi, V., Ramankutty, N., Mehrabi, Z., Jarvis, L., Chookolingo, B., 2018. How much of the world’s food do smallholders produce? Global Food Security 17, 64–72. https://doi.org/10.1016/j.gfs.2018.05.002

van der Ploeg, J.D., 2018. Differentiation: old controversies, new insights. The Journal of Peasant Studies 45, 489–524. https://doi.org/10.1080/03066150.2017.1337748

Sajogyo. (1977). Golongan Miskin dan Partisipasi dalam Pembangunan. Prisma, VI(3), 10–17.

Sakernas. (2019). Survey Angkatan Kerja Nasional. Badan Pusat Statistik.

Sutas. (2018). Survey Pertanian Antar Sensus. Badan Pusat Statistik.

powered by social2s