Setiap tanggal 8 Juni, melalui perayaan Hari Lautan Sedunia, kita diberikan kesempatan untuk mengingat betapa besarnya anugerah sumber daya alam (SDA) yang disediakan oleh lautan—hamparan perairan ‘biru’ yang menutupi 70 persen dari permukaan planet ‘biru’ tempat kita hidup [1][2].  Lautan adalah paru-paru dari sistem sosial-ekologi bumi kita yang kompleks; menyediakan sebagian besar oksigen yang kita hirup. Lautan juga menyerap sekitar sepertiga karbondioksida yang diproduksi manusia [3]. Proses ini menjadikan lautan menjadi bagian dari pengatur iklim dunia, termasuk melindungi dari dampak pemanasan global [4].

Lautan berfungsi sebagai lumbung pangan protein terbesar dunia. Lebih dari tiga milyar orang bergantung pada lautan sebagai sumber utama protein. Lebih dari tiga milyar orang juga bergantung pada keanekaragaman hayatinya yang terkoneksi kuat dengan penghidupan dan keragaman budayanya [3][5]. Lautan juga berfungsi sebagai fondasi bagi sebagian besar perekonomian dunia, mulai dari sektor perikanan, pariwisata, hingga pelayaran lokal dan internasional. Sebagian negara-negara di dunia, bahkan mengandalkan lautan sebagai sumber pendapatan negaranya [6].

Dalam konteks pandemik COVID-19 yang menyentuh hampir semua lini kehidupan dan penghidupan di tingkat lokal sampai global, beberapa organisme lautan yang ditemukan di kedalaman ekstrim digunakan untuk mempercepat deteksi COVID-19 [7]. Hal ini merupakan kontribusi lautan terhadap upaya penanggulan pandemik COVID-19.

Namun demikian, terlepas semua peran dan manfaat tersebut, lautan terus menghadapi ancaman sebagai akibat dari aktivitas manusia, termasuk yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap tahun, diperkirakan 8 juta ton sampah plastik berakhir di lautan dunia [8]. Pada saat yang sama, perubahan iklim merusak terumbu karang dan ekosistem utama lainnya, termasuk padang lamun dan mangrove di pesisir; penangkapan ikan yang berlebihan mengancam stabilitas stok ikan; polusi nutrisi berkontribusi pada penciptaan ‘zona mati’; dan hampir 80 persen air limbah dunia dibuang tanpa pengolahan [9].  Di Indonesia, dampak perubahan iklim berdampak pada kenaikan muka air laut yang telah menghilangkan 24 pulau kecil pada kurun waktu 2005-2007 serta perubahan pola curah hujan, musim, dan iklim laut yang memaksa para nelayan menghadapi ketidakpastian cuaca, musim, dan lokasi yang tepat untuk menangkap ikan [10].

 

Dekade Ilmu Pengetahuan Kelautan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Sebagai bagian dari sistem sosial-ekologi bumi, persoalan-persoalan ekologi lautan yang dipaparkan di atas berdampak negatif bagi manusia dan segenap dimensi sistem sosialnya, termasuk keanekaragaman hayati, keragaman budaya, dan keberlanjutan penghidupan. Oleh karena itu, upaya-upaya penanggulangan dilakukan secara kolektif dan holistik melibatkan semua dimensi sosial-ekologi.

PBB menyatakan tahun depan sebagai tonggak awal dari ‘Dekade Ilmu Pengetahuan Kelautan untuk Pembangunan Berkelanjutan 2021-2030 (Decade of Ocean Science for Sustainable Development 2021-2030). Untuk mempermudah penyebutan kesepakatan baru ini, PBB meringkasnya dengan sebutan ‘Dekade’ (Decade) saja [9]. Dekade memberikan kerangka kerja kolaborasi dan inovasi untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan dapat sepenuhnya mendukung seluruh negara dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 [11].

Dekade akan memberikan peluang bagi penciptaan landasan baru kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat tata kelola lautan demi keberlangsungan manusia. Dekade juga akan memperkuat kolaborasi lokal-global yang diperlukan untuk melakukan penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi inovatif yang dapat menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan manusia.

Hal ini diharapkan dapat mendukung kerangka kerja dan program PBB lainnya yang bertujuan melindungi SDA lautan dan manusianya, seperti the Aichi Biodiversity targets, the SAMOA Pathway, the United Nations Convention for the Law of the Sea, dan the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction [9].

 

Visi dan Tujuan Dekade

Dengan semangat yang diuraikan di atas, Dekade memiliki visi yang berbunyi “untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah, membangun infrastruktur, dan membina kemitraan [kolaborasi] untuk lautan yang sehat dan berkelanjutan”. Visi besar ini kemudian diterjemahkan ke dalam tujuh poin yang lebih spesifik, yaitu [9][12]: (1) Memobilisasi para ilmuwan pada isu-isu kelautan yang penting dan prioritas untuk Agenda 2030. (2) Mensintesis berbagai penelitian yang sudah ada serta menemukan tren/kecenderungan dan kesenjangan pengetahuan yang muncul untuk menentukan prioritas penelitian mendatang. (3) Membangun strategi penelitian baru yang dirancang secara kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan (ocean stakeholders). (4) Menjembatani ilmu, kebijakan, dan dialog sosial melalui penyediaan akses terhadap data, informasi, dan komunikasi. (5) Menyusun sintesis berbagai hasil serta mengembangkannnya menjadi solusi yang sesuai kebutuhan pengguna. (6) Menumbuhkan penelitian kolaborasi yang baru serta kerja sama di dalam dan di seluruh cekungan lautan.

Visi di atas akan memandu semua pihak untuk mewujudkan dua tujuan yang ingin dicapai Dekade. Pertama, menyediakan data dan info ilmu pengetahuan kelautan yang dapat menginformasikan kebijakan kelautan yang berfungsi dengan baik untuk mendukung  pencapaian semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030. Kedua, menghasilkan pengetahuan ilmiah serta mendukung infrastruktur dan kemitraan [kolaborasi] [9][12]. Untuk kedua tujuan tersebut, beberapa rangkain kegiatan telah  dan akan dilakukan. Salah satu yang telah dilakukan adalah Pertermuan Perencanaan Global pertama the Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO yang diselenggarakan di  Kopenhagen, Denmark. Pertemuan tersebut diikuti oleh lebih dari 200 pemimpin dunia,ilmuwan, champions, dan stakeholders kunci [13]. Pertemuan tersebut, di antaranya, menghasilkan pendalaman enam target yang ingin dicapai.

 

Enam Target Utama yang Ingin Dicapai

Dari pernyataan visi dan tujuan di atas, Dekade berambisi untuk menghasilkan enam hasil kunci yang dapat berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakat, yaitu [12][13]: (1) Lautan yang bersih; di mana sumber-sumber pencemaran dihilangkan. (2) Lautan yang sehat dan tangguh; di mana ekosistem-ekosistem laut dipetakan dan dilindungi. (3) Lautan yang diprediksi; di mana masyarakat memiliki kapasitas dalam memahami kondisi lautan terkini dan memprediksi masa depannya yang berpengaruh terhadap penghidupan dan kesejahteraan manusia. (4) Lautan yang aman, di mana manusia dan komunitasnya jauh lebih terlindungi dari berbagai bahaya (hazards) yang ada di lautan. (5) Lautan yang dipanen secara produktif dan berkelanjutan; memastikan penyediaan pasokan makanan dan penghidupan. (6) Lautan yang “transparan dan mudah diakses”, di mana semua pemangku kepentingan, termasuk negara dan komunitas, memiliki akses terhadap data, informasi, dan teknologi.

 

Proses Partisipatif, Transformatif, dan Kolaboratif

Dalam menjalankan seluruh rangkaian proses kerjanya, Dekade memegang prinsip-prinsip partisipatif, transformatif, dan kolaboratif [9]. Hal ini dilakukan dengan cara (a) memfasilitasi proses saling belajar di seluruh kelompok penelitian dan pemangku kepentingan; (b) membangun komunikasi yang kuat antar pemangku kepentingan; dan (c) menciptakan hubungan yang lebih kuat antara ilmuwan, pembuat kebijakan, pengelola SDA, dan pengguna jasa, sehingga ilmu pengetahuan kelautan memberikan manfaat lebih besar bagi ekosistem dan masyarakat. Keberhasilan Dekade sangat tergantung pada kontribusi berbagai pemangku kepentingan, termasuk ilmuwan, pemangku kebijakan (pemerintah), komunitas lokal, masyarakat sipil (CSO), penyandang dana, dan pihak swasta.

Indonesia sebagai negara maritim yang besar harus mengambil peran penting dalam Dekade ini, baik sebagai pemberi maupun penerima manfaat. Untuk kondisi saat ini, peran dan kontribusi Indonesia terhadap Dekade ini masih rendah. Dalam peta publikasi ilmu pengetahuan kelautan dunia, Indonesia menempati level publikasi yang sangat rendah (tingkat ke pertama dari bawah), yaitu hanya sejumlah 1 – 2.500 publikasi saja dari rentang 0 – 100.000 jumlah publikasi (dibagi ke dalam 6 tingkatan). Begitu pun dari  sisi aksi atau rencana aksi. Sampai artikel ini ditulis, jumlah kegiatan/acara dan komunitas  dari Indonesia yang terdaftar dalam laman (website) resmi Dekade masih tidak ada (nol). Berbeda dengan negara lain yang sudah cukup aktf [14]. Oleh karena itu, sebagai bagian dari anak bangsa maritim, Indonesia, termasuk LIPI dan  semua pihak terkait, seperti berbagai kementerian/lembaga pemerintah dan stakeholders lainnya harus segera bersiap untuk berpartisipasi dan berkolaborasi untuk menyongsong Dekade ini dengan penuh antusias.

 

Ditulis oleh Ali Yansyah Abdurrahim, Peneliti Ekologi Manusia Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

 

Referensi:

[1] How much water is there on, in, and above the Earth? https://www.usgs.gov/special-topic/water-science-school/science/how-much-water-there-earth?qt-science_center_objects=0#qt-science_center_objects

[2] The Properties and Availabilityof Water: A FundamentalConsideration for Life http://www.unesco.org/new/fileadmin/MULTIMEDIA/FIELD/Venice/pdf/special_events/bozza_scheda_DOW02_1.0.pdf

[3] Goal 14: Life below water. https://www.unenvironment.org/explore-topics/sustainable-development-goals/why-do-sustainable-development-goals-matter/goal-14

[4] Climate change and the world’s oceans. https://www.un.org/sustainabledevelopment/blog/2017/06/feature-climate-change-and-the-worlds-oceans/

[5] Goal 14: Conserve and sustainably use the oceans, seas and marine resources. https://www.un.org/sustainabledevelopment/oceans/

[6] The Oceans Economy: Opportunities and Challenges for Small Island Developing States. https://unctad.org/en/PublicationsLibrary/ditcted2014d5_en.pdf

[7] COVID-19: the ocean, an ally against the virus https://en.unesco.org/news/covid-19-ocean-ally-against-virus-0

[8] Marine plastics. https://www.iucn.org/resources/issues-briefs/marine-plastics

[9] The science we need for the ocean we want. https://www.oceandecade.org/assets/The_Science_We_Need_For_The_Ocean_We_Want.pdf

[10] Bappenas. 2011. Indonesian Adaptation Strategy: Improving Capacity to Adaptation. https://www.bappenas.go.id/files/6414/1171/7069/INDONESIA_ADAPTATION_STRATEGY_-_Improving_Capacity_to_Adapt.pdf

[11] United Nations Decade of Ocean Science for Sustainable Development (2021-2030). https://en.unesco.org/ocean-decade

[12] Ryabinin V, Barbière J, Haugan P, Kullenberg G, Smith N, McLean C, Troisi A, Fischer A, Aricò S, Aarup T, Pissierssens P, Visbeck M, Enevoldsen HO and Rigaud J. 2019. The UN Decade of Ocean Science for Sustainable Development. Front. Mar. Sci. 6:470. doi: 10.3389/fmars.2019.00470

[13] United Nations Decade of Ocean Science for Sustainable Development (2021-2030): 1st Global Planning Meeting. https://en.unesco.org/1st-global-planning-meeting

[14] Decade In Action. https://www.oceandecade.org/

powered by social2s