Di tengah perjuangan menanggulangi pandemi COVID-19, Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkatkan kerentanan dan risiko masyarakat di wilayah rawan bencana tersebut. Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tahun ini Indonesia mengalami El Nino Netral dengan tingkat kekeringan lebih tinggi dari musim kemarau biasanya. Padahal, untuk memutus penyebaran virus corona, masyarakat memerlukan lebih banyak air karena harus lebih sering mencuci tangan. Direktur Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menginformasikan bahwa telah terjadi karhutla seluas 8.254 hektar dan gambut 4.551 hektar pada tiga bulan pertama tahun 2020. Padahal puncak musim kemarau di wilayah-wilayah rawan karhutla (Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur) akan berlangsung bulan Agustus dan September. Upaya antisipasi harus segera dilakukan untuk memitigasi karhutla dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dampak kolateral bencana.

 

Dampak Asap Karhutla dan COVID-19

Karhutla yang biasa terjadi pada musim kemarau panjang dan cuaca ekstrim sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat yang terpapar langsung asap.  Kabut asap yang pekat dan melampaui indeks standar pencemaran udara (ISPU) menyebabkan banyak penduduk mengalami sakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), batuk, sakit mata, sakit kulit dan asma. Pada karhutla bulan September 2015 jumlah kasus ISPA terbanyak terdapat di Provinsi Jambi (51.079), kemudian Riau (30.887), Sumatera Selatan (29.906), Kalimantan Tengah (23.795), dan Kalimantan Barat (15.158). Tingginya kasus ISPA ini terjadi di provinsi-provinsi dengan ISPU yang masuk kategori sangat berbahaya (>400), yaitu Kalimantan Tengah (1.982), Riau (1.074), Sumatera Selatan (957), Kalimantan Barat (917), dan Jambi (435). Kelima provinsi ini merupakan lokasi karhutla dengan titik kebakaran (hotspot) terbanyak. (Infodatin Pusat Data dan Informasi Kesehatan, 2015).

Masyarakat yang mempunyai penyakit pernafasan akibat asap karhutla akan semakin rentan terinfeksi virus corona dan mereka yang lanjut usia (lansia), terutama 60 tahun ke atas, juga mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi apabila terkonfirmasi positif COVID-19. Kondisi ini terkait dengan gejala dan penyakit penyerta penduduk lansia (Michelen et al, 2020; Promislow and DPhil1, 2020; Shahid et al, 2020; WHO2, 2020; Liu et al, 2020). Data dari situs resmi pemerintah terkait COVID-19 (covid19.go.id) pada tanggal 17 Mei 2020 menginformasikan bahwa pasien positif virus corona di Indonesia mempunyai gejala batuk (77,7 persen) dan sesak nafas (42,8 persen), sedangkan pasien positif yang meninggal memiliki penyakit paru obstruktif kronis (17,3 persen). Gejala pasien positif COVID-19 dan penyakit penyerta kematian pasien ini mempunyai kesamaan dengan penyakit yang disebabkan oleh asap karhutla.

COVID-19 telah menyebar di provinsi-provinsi rawan karhutla dengan jumlah penduduk yang terkonfirmasi positif dan meninggal bervariasi menurut provinsi. Sampai 3 Juni 2020 jumlah kasus positif tertinggi terdapat di Sumatera Selatan (1.029 orang), kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah (456 orang), Kalimantan Barat (202 orang), Riau (117 orang) dan terendah di Jambi (97 orang). Selain jumlah kasus positif terbanyak, Provinsi Sumatera Selatan juga tercatat sebagai provinsi rawan karhutla dengan jumlah kematian terbanyak (35 orang). Sebaliknya, di Provinsi Jambi jumlah kasus positif virus corona tidak hanya paling sedikit, tetapi juga mempunyai rekor sebagai provinsi yang kasus positifnya tidak ada yang meninggal. Di Provinsi Kalimantan Tengah penduduk yang meninggal masih cukup banyak (24 orang), sedangkan di Provinsi Riau sebanyak 6 orang, namun persentase dari total kematian di provinsi ini hampir sama dengan persentase di Kalimantan Tengah. (covid-19.go.id, 3 Juni 2020).

Selain dampaknya terhadap kesehatan, penyebaran COVID-19 juga meningkatkan potensi terjadinya karhutla di provinsi-provinsi rawan bencana ini. COVID-19 berdampak pada pekerjaan dan kondisi ekonomi masyarakat melalui pembatasan kegiatan dan pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan-perusahaan yang terdampak. Keadaan ini dapat mendorong mereka untuk membuka lahan secara cepat yaitu dengan membakar. Padahal, ruang gerak operasional penanggulangan karhutla juga mengalami pembatasan karena pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), terutama di daerah-daerah yang kasus positifnya cukup banyak, seperti Sumatera Selatan dan Riau. Disamping itu, asap karhutla juga berpengaruh terhadap penghidupan penduduk. Produksi pertanian tanaman pangan dan perkebunan (kelapa sawit dan karet) turun secara signifikan, sampai 40 persen di Desa Mekar Sari dan Seponjen Jambi (Putri dkk, 2017). Sedangkan pekerjaan alternatif lain, seperti buruh perkebunan dan tukang ojek, sulit dilakukan karena berada di ruang terbuka yang terpapar langsung asap.

Tingginya risiko masyarakat terhadap asap karhutla berskala besar biasanya dialami ketika perusahaan dan masyarakat mengolah lahan perkebunan dan pertanian dengan cara membakar hutan dan lahannya. Bencana asap karhutla berskala besar terjadi tahun 2015 dan 2019. Hasil penelitian yang dilakukan tim desa Pusat Penelitian Kependudukan-LIPI tentang resiliensi penduduk menghadapi bencana karhutla di Desa Mekar Sari dan Seponjen Jambi mengungkapkan minimnya perlindungan kesehatan masyarakat di sekitar wilayah karhutla. Masker sangat dibutuhkan ketika mereka keluar rumah, tetapi jumlahnya sangat terbatas, hanya tersedia untuk anak-anak, sedangkan untuk penduduk rentan lainnya terpaksa menggunakan penutup muka dari bahan seadanya, seperti sapu tangan atau selendang/jilbab. Upaya mengurangi dampak asap juga sangat terbatas, hanya dilakukan secara alamiah, seperti mengurangi waktu dan frekuensi ke luar rumah, menutup pintu dan jendela rumah. (Hidayati dkk, 2019).

Masyarakat kurang siap menghadapi dampak asap karhutla terhadap kesehatan. Pengetahuan mereka tentang bencana asap dan dampaknya terhadap kesehatan masih sangat minim karena terbatasnya informasi yang mereka terima. Kearifan lokal masyarakat ketika membakar hutan untuk mengolah lahan pertanian (merun) sebagian sudah memudar dan tidak mampu mengatasi karhutla berskala besar yang utamanya bersumber dari perusahaan dan masyarakat di luar desa. Peran komunitas dalam penanggulangan kebakaran hutan juga minim seiring dengan bergesernya kegotong-royongan dalam penanganan karhutla. Hal ini disebabkan memudarnya sence of belonging mereka terhadap hutan yang penguasaan dan/atau kepemilikannya telah beralih kepada perusahaan-perusahaan sawit dan HTI. Sebagian wilayah hutan manajemen pengelolaannya juga dilakukan oleh pemerintah karena wilayah hutan tersebut termasuk dalam kawasan taman nasional dan hutan lindung lainnya.

Upaya mitigasi asap karhutla yang dilakukan masyarakat juga masih sangat terbatas. Rumah yang mereka tempati kebanyakan rumah bertiang dari kayu dan papan yang memiliki banyak celah atau lubang menjadi jalan masuknya asap ke dalam rumah. Masyarakat umumnya juga belum mengetahui rumah yang ‘aman’ atau tahan terhadap asap (safe house). Padahal safe house sangat dibutuhkan, terutama untuk kelompok rentan seperti bayi dan balita serta lansia.

 

Pentingnya Upaya Pengurangan Risiko

Risiko masyarakat terhadap asap karhutla dan pandemi COVID-19 sangat tinggi, karena itu antisipasi dan upaya pengurangan risiko untuk menghadapi kolateral bencana ini sangat penting dan perlu segera di lakukan. Protokol kesehatan harus dilaksanakan semua anggota masyarakat untuk memutus penyebaran virus corona, terutama dengan memakai masker, sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, mengurangi kerumunan warga, dan melakukan pola hidup sehat. Peningkatan kesiapsiagaan dan deteksi dini karhutla juga sangat krusial untuk penanggulangan asap dan perlindungan kesehatan masyarakat.  Selain itu, masyarakat juga perlu melakukan mitigasi asap karhutla, antara lain melalui pembangunan atau persiapan safe houses. Revitalisasi kearifan lokal dan peningkatan kedisiplinan serta kepedulian komunitas juga sangat penting untuk memutus penyebaran COVID-19 dan meminimalkan kebakaran hutan dan dampak asapnya terhadap kesehatan masyarakat di daerah  rawan bencana ini.

 

Ditulis oleh Deny Hidayati, Peneliti Utama Bidang Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Referensi

Hidayati, D., Dalimunthe, S.A., Putri, I.A.P., Ekaputri, A.D., Yogaswara, H., dan Abdurrahim, A.Y. (2019). Siapkah Penduduk Menghadapi Ancaman Multibencana di Perdesaan? Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Jakarta.

Liu, K., Chen, Y., Lin, R., and Han, K. (2020). Clinical features of COVID-19 in elderly patients: a comparison with young and middle-aged patients. J Infect 2020 March 27. doi: 10.1016/j.jinf.2020.03.005 [Epub ahead of print].

Michelen, M., Jones, N., dan Stavropoulou, C. (2020). In Patients of COVID-19, what are the symptoms and clinical features of mild and moderate cases? https://www.cebm.net/covid-19/ in-patients-of-covid-19-what-are-the-symptoms-and-clinical-features-of-mild-and-moderate-case/

Promislow, D.E.L; and DPhil1. (2020). A Geroscience perspective on COVID-19 mortality. Journals of Gerontology: Biological Sciences cite as: J Gerontol A Biol Sci Med Sci, 2020, Vol. XX, No. XX, 1–4. doi:10.1093/gerona/glaa094.

Putri I A P P, Hidayati D, Yogaswara H, dan Abdurrahim AY. (2017). Kapasitas Penduduk dalam Merespons Perubahan Lingkungan dan Bencana. Jakarta: Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

Shahid, Z; Kalayananitra, R; McClafferty, B; Kepko, D; Ramgobin, D; Patel, R; Anggarwal, S; Vunnam, R; Sahu, N; Bhatt, D; Jones, K; Pharm, D; Golamari, R, and Jain, R. (2020). COVID-19 and older adults: what we know. Journal of the American Geriatrics Society 68(5). doi: 10.1111/jgs.16472

WHO2. (2020). Updates on novel corona virus (COVID-19).https://www.who.int/maldives/news/detail/31-01-2020-updates-on-novel-corona-virus-(COVID-19)#:~:text=The%20virus%20can%20cause%20a, and%20deaths%20can%20occur.

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait