Di tengah situasi pandemi COVID-19 yang masih berlangsung sampai saat ini, layanan keuangan yang dapat bertahan serta mudah diakses oleh masyarakat rentan sangat diperlukan. Hal ini karena COVID-19 memberikan dampak yang sangat besar ke segala sektor kehidupan termasuk pada sektor ekonomi. Layanan keuangan yang dibutuhkan tidak hanya yang kuat ketika diperhadapkan dengan goncangan dalam mengelola kegiatan operasional, namun juga dapat mengurangi dampak negatif dari situasi kritis terhadap kehidupan ekonomi mereka.  Secara mendasar, kegiatan operasional sebuah lembaga keuangan adalah menjalankan kegiatan simpan pinjam dengan berbagai risiko yang dihadapi seperti risiko operasional, risiko pasar, risiko kredit, risiko lukuiditas dan masih banyak lagi. Tentunya masih banyak layanan lembaga keuangan lainnya seperti asuransi, pemindahan dana, layanan pembayaran, dan masih banyak lagi.

Kehilangan pekerjaan yang berimbas pada pendapatan banyak terjadi di masa pandemi COVID-19 ini. Kehilangan pekerjaan tentunya membuat seseorang sulit untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya seperti makan minum, memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti membayar iuran sekolah, hingga membayar iuran rumah. Studi sebelumnya memperlihatkan bahwa layanan keuangan yang berasal dari masyarakat lokal (seperti koperasi dan layanan keuangan swadaya) mampu: (1) Menopang dan mengurngi dampak krisis dengan cara memberikan lapangan kerja berbasi lokasl, terlebih bagi masyarakat rentan dan gurp minoritas (2) mengaktifkan kembali dan mendukung kegiatan pertanian dan perikanan bagi masyarakat (3) mendukung UMKM (4) Membantu layanan pengiriman uang (5) Mampu memberikan bantuan makanan dan transfer tunai.

Kendati demikian, masih ada kendala sejak awal yang sampai saat ini masih belum terselesaikan yaitu rendahnya inklusi keuangan terutama bagi masyarakat rentan berpenghasilan rendah dan masyarakat yang tinggal di pedesaan. Inklusi Indonesia telah meningkat (OJK, 2019), namun kesenjangan antar golongan masih tinggi, yang sebenarnya merupakan hal penting yang perlu diperhatikanInklusi keuangan masih didominasi oleh perkotaan (86,6 persen) dan pria (77,24 persen), sedangkan pedesaan (68,49 persen) dan wanita (75 persen) masih dibawah tingkat inklusi kota dan pria. Sama seperti tahun sebelumnya yang masih didominasi oleh pria (67,5 persen) dibandingkan dengan wanita (64 persen); didominasi oleh perkotaan (68,9 persen) dibandingkan dengan pedesaan (61,2 persen); dan masih didominasi oleh yang berpendidikan tinggi dan masih terjadinya inklusi keuangan yang masih rendah di provinsi tertentu

Beberapa ahli menyebutkan setidaknya terdapat lima penyebab mengapa inklusi Indonesia masih sulit dicapai, yakni (1) kapasitas bank dalam mengelola agen dalam jumlah besar masih terbatas; (2) pendirian kantor cabang masih dianggap mahal dan memiliki persyaratan yang kompleks; (3) tidak adanya produk yang sesuai untuk segmen nasabah; (4) masalah geografis sehingga kesulitan mengedukasi masyarakat; (5) minimnya minat penduduk. India juga memiliki lima masalah utama yang relatif hampir sama dengan Indonesia dalam mencapai inklusi keuangan, yakni (1) Bank memiliki keterbatasan untuk menjangkau secara langsung kepada konsumen berpenghasilan rendah (2) produk yang dirancang oleh bank tidak memuaskan keluarga berpenghasilan rendah (3) orang berpenghasilan rendah tidak memenuhi syarat untuk pinjaman; jarak yang jauh ke akses keuangan; literasi keuangan yang rendah (4) sulit memiliki jaminan (5) risk management dari bank dalam menerima kreditur dan debitur (Lakshmi dan Visalaksmi, 2013).

 

Solusi Inklusi Keuangan Dalam Kondisi Kritis

India juga menjadi salah satu negara yang mengalami masalah yang sama dengan Indonesia yaitu inklusi keuangan. Dalam hal ini India memilih koperasi sebagai salah satu solusi inklusi keuangan mereka. Saat ini koperasi mampu berkembang pesat hingga mampu menyumbang 46 persen dari pencairan kredit pertanian, 36 persen distribusi pupuk, dan 59 persen produksi gula. Selain itu, koperasi di India juga mampu memproses, membesarkan dan mendistribusi 50 persen minyak nabati; serta menyumbang 55 persen dari alat tenun di sektor tenun tangan (Lakshmi dan Visalaksmi, 2013)

Selain koperasi, financial self-help organization merupakan sistem keuangan berbasis lokal yang dapat dijadikan alternatif solusi inklusi keuangan. Financial self-help organization merupakan salah satu sistem keuangan yang diciptakan oleh masyarakat lokal yang bentuknya hampir mirip dengan institusi keuangan formal seperti bank, perusahaan asuransi dan lainnya namun memiliki karakteristik yang unik dan tidak dimiliki oleh insititusi keuangan formal lainnya. Mereka lahir dari budaya lokal mereka sehingga sangat dekat dengan masyarakat karena berbasis kepercayaan. Selain itu, financial self-help organization memiliki bentuk yang mudah disesuaikan dibandingkan insitusi keuangan formal. Peserta juga dapat menyesuaikan organisasi dengan kebutuhan dan keinginan pribadi mereka berdasarkan kesepakatan bersama dalam mempengaruhi regulasi dan peraturan (Lont, H.B, 2002).

Bujung, sebuah komunitas urban di pinggiran Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang memiliki organisasi keuangan swadaya. Lont (2002) dalam penelitiannya menyatakan setidaknya terdapat beberapa kategori financial self-help organization, yakni organisasi sosial secara swadaya, arisan secara pribadi, kegiatan simpan pinjam dari arisan, dan koperasi kredit. Koperasi dan organisasi keuangan swadaya, merupakan dua bentuk sistem layanan keuangan yang dapat dijadikan solusi untuk mendekatkan masyarakat rentan agar lebih mudah mengakses layanan keuangan. Dari sisi permintaan, masyarakat akan lebih mudah percaya, paham, lebih mudah menjangkau. Sebaliknya dari sisi penawaran, jelas layanan keuangan pro masyarakat lokal dan layanan keuangan lebih dekat dalam hal akses.

Layanan keuangan yang lahir dari masyarakat lokal akan membuat mereka lebih nyaman dan tidak segan untuk mendaftar. Dalam aspek lain, dengan kebudayaan lokal yang lahir dari turun temurun akan memudahkan masyarakat lebih paham dan percaya akan layanan keuangan yang mereka pilih. Jauhnya akses menuju kantor layanan keuangan tidak lagi menjadi kendala berarti dalam mengakses layanan keuangan. Beralih ke indikator yang lebih dalam, sistem keuangan informal dianggap lebih kuat bekerja dalam kondisi pergolakan (Abugre,1994).

Namun demikian, koperasi dan financial self-help organization tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya pengelolaan yang optimal dan kerjasama antar berbagai pihak untuk menciptakan lembaga yang kuat. Masyarakat Indonesia telah menggunakan koperasi dan organisasi keuangan swadaya sebagai salah dua dari sistem layanan keuangan yang hidup dan lahir dari masyarakat, namun diperlukan adanya penguatan sistem. Dengan memperbaharui dan memperbaiki sistem koperasi dan organisasi keuangan swadaya yang telah ada akan mempermudah masyarakat sebab mereka telah mengenal sistem layanan keuangan yang telah ada. Oleh karena itu perlu kajian lebih lanjut apakah sistem layanan keuangan lokal di Indonesia memiliki karakteritik yang cocok dengan mekanisme tersebut. Solusi yang paling masuk akal adalah melalui sosialisasi dan edukasi bentuk layanan keuangan lokal tersebut ke masyarakat luas yang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga semakin banyak tercipta akses keuangan yang mudah bagi masyarakat. Kerja sama berbagai pihak juga dapat dijadikan solusi penguatan sistem layanan tersebut.

Beralih ke indikator yang lebih dalam, kedua layanan keuangan berbasis lokal ini mampu bertahan dalam kondisi pergolakan ekonomi (contohnya krisis ekonomi) dan bahkan telah menjadi solusi yang cukup baik bagi masyarakat di beberapa negara di saat kondisi pandemik ini. Sebagai contoh, Self Employed Women’s Association (SEWA) Cooperative Federation di India, merupakan koperasi yang membantu masyarakat dalam menyediakan makanan, peralatan kesehatan dan transfer uang tunai. Kemudian beberapa koperasi seperti di Spanyol, Italia, Bulgaria, Argentina, dan beberapa negara lainnya, telah memberdayakan masyarakat bakan penyandang cacat, dan pekerja wanita untuk produksi masker APD dan alat kesehatan lainnya. Hal ini menunjukkan koperasi mampu menjadi penopang ekonomi mereka (CICOPA, 2020).

Dalam kasus Indonesia, Menteri Koperasi dan UKM Teten Madsuki menyatakan bahwa dalam kondisi pandemi ini, banyak koperasi yang melaporkan kesulitan operasional akibat anggotanya tak sanggup membayar cicilan, serta banyak yang juga yang menarik simpanannya di koperasi simpan pinjam (dicatat dalam beberapa media online seperti Bisnis Tempo, Antara News, Money Kompas). Disamping itu, beliau menyatakan bahwa pemerintah siap untuk memberkan bantuan bagi koperasi yang kesulitan.

Diluar dari pernyataan tersebut, Parnell (2001) menyatakan koperasi tidak seharusnya dipandang sebagai perpanjangan dari mesin negara bahkan di masa krisis. Lebih lagi meskipun terdapat beberapa contoh kisah sukses dari koperasi, ada juga banyak contoh skema pengembangan koperasi yang didukung negara telah gagal dalam menjalankan koperasi. Dan lebih lanjut Parnell menyatakan diperlukannya untuk menemukan model ekonomi berbasis masyarakat.

 

Ditulis oleh Ruth Meilianna, Peneliti Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

 

Referensi

Abugre,, C. (1994). When credit is not due; A critical evaluation of donor NGOO experiences with credit', in: F.J.A. Bouman and O. Hospes (eds), Financial landscapes reconstructed, pp. 157-75. Boulder: Westview Press.

Antaranews.com. 2020. Pemerintah Siap kucurkan Bnatuan Likuiditas Koperasi Saat pandemi. https://www.antaranews.com/berita/1451460/pemerintah-siap-kucurkan-bantuan-likuiditas-koperasi-saat-pandemi

Cicopa. (2020). Covid19: How Cooperatives in Industry and Services are Responding to The Crisis. https://www.cicopa.coop/news/covid19-how-cooperatives-in-industry-and-services-are-responding-to-the-crisis/

Lont, H.B. (2002). Juggling Money in Yogyakarta. Financial Self-Hel Organizations and The Quest For Security. Amsterdam: Thela Thesis.

Parnell, E. (2001). The Role of Cooperatives and Other Self-Help Organisation in Crisis Resolution and Socio-Economic Recovery. Geneva:International Labour Organisation

Otoritas Jasa Keuangan. (2016). Hasil Survei Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional.

_______. (2019). Hasil Survei Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional.

Kompas.com. 2020. Dampak Covid-19, Koperasi Simpan Pinjam Akan Dapat Bnatuan Likuiditas. ttps://money.kompas.com/read/2020/05/01/070601126/dampak-covid-19-koperasi-simpan-pinjam-akan-dapat-bantuan-likuiditas

Tempo.co. 2020. Pemerintah Beri Bantuan Likuiditas Koperasi Terdampak Corona. https://bisnis.tempo.co/read/1337059/pemerintah-beri-bantuan-likuiditas-koperasi-terdampak-corona

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait