Bagi sebagian besar perantau, mudik menjelang hari raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu. Apalagi bagi mereka yang hanya bisa pulang kampung satu kali dalam setahun. Mudik adalah kesempatan untuk bertemu dengan keluarga besar dan kerabat, tak heran jika perantau mengerahkan segala upaya agar kegiatan mudik tahunan bisa dilaksanakan. Meskipun mudik identik dengan hari raya umat Islam, namun aktivitas ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang beragama Islam. Aktivitas mudik dilakukan tanpa membedakan latar belakang budaya dan agama (Prasetyo & Warsono, 2017) serta dilakukan oleh semua perantau dari segala lapisan ekonomi (Yulianto, 2011). Oleh karena itu, wajar saja jika menjelang hari raya Idul Fitri terjadi peningkatan arus penumpang dengan berbagai moda transportasi dari kota-kota tempat tinggal perantau menuju berbagai daerah.

Fenomena mudik yang melibatkan mobilitas orang dalam jumlah besar juga terjadi di negara-negara lain, seperti pada perayaan thanksgiving di Amerika dan Imlek di China (Yulianto, 2011). Di China, mobilitas penduduk seperti mudik ini terjadi bertepatan dengan spring festival dan ditandai dengan pergerakan orang dalam jumlah yang sangat banyak di dunia yang terjadi secara periodik setiap tahun (Li, Ye, Deng, Liu, & Liu, 2016). Mobilitas ini dilakukan oleh tiga kelompok orang, yaitu pekerja migran, penduduk yang mengunjungi keluarga di kota lain, dan pelajar yang bersekolah di kota yang berbeda dengan daerah asal (Hul, Lih, & Bao, 2017). Ratusan juta penduduk China melakukan perjalanan pulang ke daerah untuk merayakan spring festival (Li, 2014). Mereka melakukan perjalanan yang menuntut ketangguhan fisik karena sangat banyaknya jumlah penduduk yang bepergian dalam waktu bersamaan. Berdesak-desakan di kereta dan kapal menjadi pengalaman yang biasa dialami oleh para pemudik ini demi bisa berkumpul dengan keluarga besar dan kerabat di kampung.

COVID-19 Membuat Mudik Jadi Terlarang

Sejak terjadinya pandemi COVID-19 yang melanda lebih dari 200 negara di dunia,  pemerintah di berbagai negara melakukan pembatasan mobilitas orang ke berbagai daerah, sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit infeksi menular ini, apalagi waktunya bertepatan dengan mobilitas penduduk besar-besaran menuju kampung halaman. Pemerintah China membatasi perjalanan tahunan spring festival pada Januari 2020 dan pemerintah Indonesia membatasi perjalanan mudik Idul Fitri mulai tanggal 25 April 2020.

Di Indonesia, larangan mudik pada awalnya hanya diberlakukan bagi aparatur sipil negara (ASN), melalui aturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB), seperti Surat Edaran Menteri PANRB No. 46/2020 tentang Perubahan Atas SE Menteri PANRB No. 36/2020 Tentang Pembatasan Kegiatan Bepergian ke Luar Daerah dan/atau Kegiatan Mudik Bagi ASN Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran COVID-19. Aturan yang sama selanjutnya juga berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia, dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 (https://indonesia.go.id).  Disamping pembatasan mudik, peraturan yang sama juga mengatur larangan penggunaan transportasi menuju dan dari wilayah-wilayah yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), zona merah penyebaran COVID-19, serta wilayah-wilayah aglomerasi yang telah ditetapkan PSBB, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Meskipun dalam perjalanannya terjadi perubahan dalam pengaturan operasional moda transportasi umum, secara prinsip mudik tetap dilarang. Pemerintah kemudian membuka kembali layanan transportasi umum (darat, laut, dan udara), namun menetapkan beberapa syarat bagi mereka yang akan melakukan perjalanan. Aturan tersebut dicantumkan dalam Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Secara normatif, semua persyaratan yang harus dipenuhi tidak mencerminkan izin untuk perjalanan mudik, kecuali repatriasi pekerja migran Indonesia (PMI), warga negara Indonesia, dan mahasiswa/pelajar Indonesia yang dipulangkan dari luar negeri ke daerah asal dengan alasan khusus (butir C.1.c).

Rencana Mudik “Ambyar” Akibat COVID-19

Meminjam istilah yang dipopulerkan oleh almarhum Didi Kempot, penyanyi lagu-lagu berbahasa Jawa yang memiliki banyak penggemar, mulai dari generasi senior sampai dengan milenial, rencana mudik tahun ini “ambyar” sudah. Rencana untuk melepas rindu dan menjalin silaturahim dengan keluarga besar dan kerabat di kampung yang telah diatur jauh-jauh hari secara tidak terduga tidak dapat dilaksanakan. Larangan pemerintah untuk mencegah penularan COVID-19 secara lebih masif membuat sebagian perantau mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan ke daerah asal.

Meskipun pada awalnya ada perasaan kecewa, pada akhirnya sebagian perantau dapat menerima larangan tersebut karena berbagai alasan. Mencegah penularan, ketakutan akan tertular COVID-19 merupakan dua alasan utama yang menyebabkan mereka membatalkan perjalanan mudik. En adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang tinggal di wilayah Tangerang Selatan bersama suami dan dua orang anaknya mengemukakan kekecewaan karena tidak bisa pulang kampung pada Idul Fitri tahun ini. Padahal dia dan keluarganya sudah memiliki tiket kereta api yang dibeli sejak awal penjualan tiket kereta untuk mudik dibuka dan terpaksa mengembalikan tiket mereka.

“Rasanya sedih ngga bisa pulang, apalagi anak yang pertama sudah senang banget mau ketemu mbah dan sepupu-sepupunya di kampung. Tapi ya, kalau dipikir-pikir lebih baik ngga usah pulang. Saya takut juga, kan punya anak kecil, bagaimana kalau nanti di jalan ketularan penyakit, malah lebih bahaya. Bisa juga nanti bawa penyakit ke rumah, kasihan orang tua dan saudara di kampung” (En, 39 tahun).

Di lokasi yang sama, keputusan untuk tidak pulang kampung juga terpaksa diambil oleh seorang pedagang sayur keliling yang sudah berjualan lebih dari 30 tahun. Alasan sayang sama anak dan isteri di kampung dan takut mengalami kesulitan ketika kembali lagi ke Tangerang Selatan setelah Idul Fitri mendasari keputusan yang diambilnya. Meskipun ini adalah pertama kali dalam hidupnya tidak merayakan hari raya bersama keluarga di kampung, kenyataan ini dapat diterima demi mencegah penularan COVID-19 kepada keluarga di kampung.

“Tahun ini saya membuat sejarah, tidak pulang mudik. Saya sayang sama isteri dan anak-anak, jangan sampai nanti mereka sakit. Saya sudah kasih tahu isteri dan dia paham, yang penting kan ini bukan karena saya ndak mau pulang” (Tb, 50 tahun).

Berbeda dengan kedua orang di atas, sebagian perantau lain tetap berusaha agar bisa mudik ke daerah asal. Berbagai cara dilakukan untuk sampai di kampung. Media massa hampir tiap hari memberitakan kasus-kasus pemudik yang tertangkap melakukan perjalanan dengan berbagai modus, misalnya duduk dalam bak belakang truk yang ditutup terpal (Marison, 2020), menyewa mobil truk untuk mengangkut kendaraan, sementara mereka berada dalam kendaraan yang diangkut (Senjaya, 2020), dan menumpang travel gelap (Rofiq, 2020). Meskipun pada akhirnya perjalanan mereka gagal karena dalam perjalanannya aparat kepolisian memaksa mereka untuk kembali ke tempat keberangkatan.

Mudik Virtual: Solusi Melepas Rindu Pada Keluarga di Kampung Halaman

Meskipun tidak bisa bertemu dan bertatap muka secara langsung, semua aktivitas yang biasa dilakukan pada saat mudik masih dapat dilaksanakan. Kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan orang untuk melakukan mudik secara virtual dan silaturahim dengan keluarga besar serta kerabat di kampung masih bisa dipertahankan. Mudik offline bisa digantikan dengan mudik online melalui perangkat telekomunikasi seperti telepon pintar (smartphone) yang menyediakan komunikasi secara audio maupun visual (video call). Berbagai aplikasi sudah tersedia agar para perantau tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga di kampung, seperti aplikasi media sosial (WhatsApp) yang memungkinkan untuk dilakukannya video call dengan delapan orang sekaligus, dengan cara ini setidaknya perantau tetap bisa merasakan perasaan berkumpul dengan keluarga besar.

Mudik online sudah mulai disosialisasikan bersamaan dengan aturan pelarangan mudik. Kegiatan mudik secara virtual sering ditayangkan di media massa, khususnya televisi. Berbagai produk pun menggunakan tema mudik online dalam iklan mereka. Mudik online juga menjadi materi video seorang youtuber Ucup Klaten dengan Mbah Minto yang berperan sebagai ibunya (dipanggil simbok). Dialog mereka yang lucu dalam bahasa Jawa menjadi daya tarik bagi penonton video youtube itu. Pesan-pesan yang disampaikan melalui media massa dan media sosial itu bertujuan agar orang dapat melakukan kegiatan mudik virtual ketika secara fisik mereka tidak bisa hadir di kampung. Dengan demikian, ketidakhadiran secara fisik di kampung halaman tidak mengurangi makna silaturahim dengan keluarga di kampung.

Ditulis oleh Mita Noveria, Peneliti Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Daftar Pustaka

Hul, Xiaoqian, Lih, Hong, Bao Xiuguo. (2017). Urban Population Mobility Patterns in Spring Festival Transportation: Insights from Weibo Data. International Conference on Service Systems and Service Management. Dalian, China, 16-18 Juni 2017. Publisher: IEEE. Electronic ISSN: 2161-1904. DOI: 10.1109/ICSSSM.2017.7996303.

https://indonesia.go.id. (2020). Larangan Mudik dan Pembatasan Transportasi. Diunduh dari   https://indonesia.go.id/layanan/kependudukan/ekonomi/ketentuan-larangan-mudik-dan-pembatasan-transportasi, tanggal 15 Mei 2020.

Li, J., Ye, Q., Deng, X., Liu, Y., & Liu, Y. (2016). Spatial-Temporal Analysis on Spring Festival Travel Rush in China Based on Multisource Big Data. Sustainability 2016, 8, 1184; doi:10.3390/su8111184.

Li, M. (2014). Ritual and Social Change: Chinese Rural–Urban Migrant Workers’ Spring Festival Homecoming as Secular Pilgrimage, Journal of Intercultural Communication Research, 43:2, 113-133, DOI: 10.1080/17475759.2014.892896.

Marison, Walda (2020).  Ditangkap, Truk Bawa 6 Pemudik yang Bersembunyi di Balik Terpal. Diunduh dari https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/02/16424511/ditangkap-truk-bawa-6-pemudik-yang-bersembunyi-di-balik-terpal, tanggal 15 Mei 2020.

Prasetyo, K. & Warsono. (2017). Specific Migration in Indonesia Mudik and Balik Lebaran. Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), volume 108. Social Sciences, Humanities and Economics Conference (SoSHEC 2017).

Senjaya, I. W. (2020). Pemudik tertangkap basah bermodus diangkut truk towing. Diunduh dari https://kalbar.antaranews.com/berita/415695/pemudik-tertangkap-basah-bermodus-diangkut-truk-towing, tanggal 15 Mei 2020.

Rofiq. A. (2020). Tertangkap Basah Bawa Penumpang Mudik, Travel asal Tulungagung Ditilang Polisi Blitar, Diunduh dari https://jatimtimes.com/baca/214793/20200514/200000/tertangkap-basah-bawa-penumpang-mudik-travel-asal-tulungagung-ditilang-polisi-blitar, tanggal 15 Mei 2020.

Yulianto, V. I. (2011). Is the Past Another Country? A Case Study of Rural–Urban Affinity on Mudik Lebaran in Central Java. Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities Vol. 4, 2011, pp. 49-66.

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait