Tagar #IndonesiaTerserah dan #TerserahIndonesia pekan ini menjadi trending topic di Twitter wilayah Indonesia sebagai respon kekecewaan dan kefrustasian masyarakat dengan kondisi terkini COVID-19 (Fachriansyah, 2020; Walden, Souisa & Salim, 2020). Tagar tersebut hadir karena dua alasan, pertama karena tenaga medis kecewa tehadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak konsisten dalam menagani COVID-19. Kedua, perilaku sebagian masyarakat yang tidak peduli dan bahkan menantang maut terkait bahaya dari pandemi yang terjadi. Pengorbanan para tenaga medis di garda depan seakan menjadi usaha yang sia-sia karena masyarakat masih mengabaikan protokol kesehatan, misalnya dalam menjaga jarak antar sesama (physical distancing).

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat 55 tenaga medis meninggal dunia selama pandemi COVID-19 berlangsung di Indonesia (Ihsanuddin, 2020). Korban jiwa tenaga medis tersebut terdiri dari 38 dokter dan 17 perawat. Kemudian Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) memperbaharui jumlah perawat yang meninggal dunia saat bertugas melayani pasien COVID-19 menjadi 20 orang per 19 Mei 2020 (Mantalean, 2020). Data dari International Council of Nurses menyebutkan setidaknya 90.000 petugas kesehatan di seluruh dunia diyakini telah terinfeksi virus COVID-19, dan mungkin jumlahnya sudah naik beberapa kali lipat saat ini. Hal ini tentu sangat menghawatirkan, karena data sebesar itu bukan sekadar statistik tetapi manusia yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya.

Tingginya angka kematian tenaga medis di Indonesia menurut Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas COVID-19, disebabkan oleh beberapa faktor seperti banyak tenaga medis tidak menyadari mereka tengah menangani pasien COVID-19 sehingga protokol kesehatan tidak diterapkan, kondisi ini biasanya terjadi karena pasien tidak terbuka mengenai riwayat kontak dan perjalanannya (Ihsanuddin, 2020). Kemudian kondisi tersebut diperparah dengan minimnya alat pelindung diri dan faktor kelelahan karena jam kerja yang panjang. Pada masa pandemi COVID-19 ini, perawat merupakan salah satu tenaga medis garda depan dalam penanggulangannya, karena mereka merupakan titik kontak pertama dalam perawatan penderita COVID-19 dan paling intens berhubungan dengan pasien setiap harinya.

Melihat besarnya tenaga medis yang menjadi korban COVID-19, WHO menyatakan dunia perlu 5,9 juta perawat baru. WHO merekomendasikan negara-negara yang mengalami kekurangan perawat perlu meningkatkan lulusan sekolah perawat sekitar delapan persen setiap tahun (WHO, 2020).Kebutuhan tenaga perawat ini tentunya akan lebih meningkat di negara-negara dengan struktur penduduk tua (ageing population) karena tanpa merebaknya COVID-19, kebutuhan perawat untuk merawat orang lanjut usia sudah cukup tinggi. Kebutuhan di negara-negara ini dipenuhi dengan menerima tenaga perawat dari beberapa negara lain, sebagai pekerja migran, termasuk dari Indonesia, di samping tentunya kebutuhan tenaga perawat di Indonesia sendiri juga meningkat pada saat pandemi COVID-19 ini.

 

Kebutuhan Tenaga Perawat di Indonesia

Jumlah total tenaga perawat yang bekerja difasilitas kesehatan di Indonesia (Puskesmas dan Rumah Sakit) pada tahun 2018 tercatat sebanyak 384.952 orang, sejumlah 245.407 orang diantaranya bekerja di rumah sakit. Saat ini Indonesia sudah memiliki cukup banyak sekolah pendidikan perawat yang menghasilkan tenaga perawat. Pada tahun 2018 dihasilkan lulusan perawat sebanyak 9.052 orang, 38 orang diantaranya dari program master (S2) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019). Dengan jumlah kelulusan tahun 2018 tersebut total ketersediaan tenaga perawat di Indonesia yang bekerja (dengan asumsi semua lulusan akan bekerja di fasilitas Puskesmas dan Rumah Sakit) akan mencapai 394.003 orang

Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia sebesar 265.015.300 orang pada tahun 2018 (Bappenas, BPS dan UNFPA, 2013), rasio perawat dan penduduk Indonesia sebesar 148 perawat per 100.000 penduduk. Pemerintah mempunyai target rasio perawat dan penduduk sebesar 180 perawat per 100.000 pada tahun 2019. Dengan asumsi kelulusan sekolah perawat yang sama dengan tahun 2018, rasio yang dicapai pada tahun 2019 baru sebesar 150 per 100.000 penduduk. Angka ini masih jauh dari target rasio pemerintah untuk tahun 2019 sebesar 180. Target pemerintah dalam penyediaan tenaga perawat ditentukan berdasarkan rekomendasi WHO.

 

Perawat Indonesia Ditengah Pandemi COVID-19.

Dalam masa pandemi COVID-19 ini kebutuhan akan tenaga perawat terus meningkat mengingat tingginya risiko perawat yang meninggal dunia karena terinfeksi COVID-19 selama melaksanakan tugasnya merawat pasien di rumah sakit. Tenaga perawat merupakan tenaga medis terbanyak dibandingkan dokter, namun PPNI menyatakan bahwa ketersediaan perawat untuk merawat pasien terinfeksi masih sangat kurang terutama untuk menghadapi puncak penyebaran COVID-19 (Arief, 2020).

Indonesia sebenarnya masih memiliki kelebihan tenaga perawat, yang belum termanfaatkan pada fasilitas kesehatan yang ada (puskesmas dan rumah sakit). Jumlah perawat yang sudah teregistrasi (sebagai anggota) pada PPNI, per 2 September 2019 sebanyak 532.040 dan ini masih bisa bertambah karena belum semua perawat sudah teregistrasi sebagai anggota PPNI (https://gustinerz.com/inilah-jumlah-perawat-indonesia-saat-ini/). Dengan demikian, masih terjadi pemanfaatan yang kurang (under utilized) disamping belum tercapainya target rasio pemerintah diatas (untuk tahun 2019). Distribusi pemanfaatan tenaga perawat di Indonesia juga belum merata dan sebanding dengan jumlah penduduk di tiap provinsi. Dari 34 provinsi hanya 16 provinsi di Indonesia yang sudah mencapai rasio yang direkomendasikan WHO (180/100.000 penduduk). DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Kepulauan Bangka Belitung merupakan tiga provinsi dengan rasio tertinggi. DKI Jakarta merupakan provinsi dengan rasio tertinggi, mencapai 221. Tiga provinsi dengan rasio terendah adalah Jawa Barat, Banten dan Lampung dengan rasio terendah di Lampung, hanya sebesar 48 (Kementrian Kesehatan, 2017).

Under utilized pemanfaatan tenaga perawat dapat menjadi salah satu faktor pendorong untuk perawat Indonesia mencari pekerjaan di luar negeri. Di negara-negara ASEAN, migrasi tenaga perawat ini memang difasilitasi melalui ASEAN Economic Community 2025 Blueprint yang menyepakati mobilitas tenaga kerja terampil, termasuk tenaga perawat, diantara negara-negara-negara anggota ASEAN (ASEAN Secretariat). Pada saat pandemi COVID-19 ini dapat diharapkan bahwa kebutuhan tenaga perawat di negara-negara ASEAN, terutama negara dengan infeksi virus tinggi, akan meningkat. Migrasi perawat Indonesia untuk bekerja diluar negari ini juga didukung kenyataan bahwa kualitas lulusan Sekolah Perawat Indonesia cukup dihargai di negara tujuannya. Mereke bekerja sebagai perawat di rumah sakit maupun sebagai perawat orang tua di rumah dan juga rumah sakit (caregiver). Bebarapa alasan utama yang menarik perawat Indonesia untuk bekerja diluar negeri adalah mendapatkan pengalaman kerja di luar negeri; pengembangan karier yang lebih baik; gaji yang lebih besar dan dapat meningkatkan keahlian (Raharto and Noveria, 2020). Di Indonesia, penghargaan masyarakat terhadap tenaga perawat juga masih dirasakan kurang, sebagai contoh yang diberitakan dalam masa pandemic COVID-19 ini, adanya perawat yang ‘diusir’ dari tempat kost nya karena diketahui merawat pasien terinfeksi di tempat kerjanya di rumah sakit.

 

Implikasi Kebijakan

Mencermati kondisi perawat Indonesia diatas, beberapa kebijakan yang dapat diusulkan kepada pemerintah adalah memanfaatkan ketersediaan tenaga perawat dengan merekrutnya untuk bekerja pada rumah sakit yang diperuntukkan merawat pasien COVID-19, untuk mengatasi kekurangan terutama di daerah-daerah dengan rasio perawat-penduduk yang masih rendah. Kemudian pemerintah perlu memberikan pelatihan khusus perawatan pasien COVID-19, karena ini tentunya memerlukan keahlian khusus dibandingkan dengan perawatan pasien biasa di rumah sakit. Selain itu perlu memberikan insentif lebih untuk perawat yang merawat pasien COVID-19 terutama mereka yang berada/direkrut dan ditempatkan di daerah-daerah dengan rasio perawat/penduduk masih rendah. Tugas mereka di sini tentunya lebih berat karena masih kurangnya tenaga perawat. Mencermati peningkatan kebutuhan tenaga perawat di Indonesia, utamanya dalam masa pandemi COVID-19 yang belum dapat dipastikan berakhirnya, kebijakan penempatan perawat Indonesia diluar negeri dapat ditinjau kembali. Tentunya dengan menyiapkan kompensasi yang sesuai dengan pendapatan perawat di luar negeri.

 

Ditulis oleh Inayah Hidayati dan Aswatini, Peneliti Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Referensi

Arief, Andi, M. 2020. Ini Alasan Kurangnya Tenaga Perawat Saat Pandemi Corona. Bisnis.com15 April 2020. https://kabar24.bisnis.com/read/20200415/15/1227487/ini-alasan-kurangnya-tenaga-perawat-saat-pandemi-corona

ASEAN Secretariat. 2015. ASEAN Economic Community Blueprint 2025. Jakarta: ASEAN Secretariat, November 2015.

Fachriansyah, Rizki. 2020. COVID-19: #IndonesiaTerserah trends as frustrasion mounts over physical distancing violations, govt policies. The Jakarta Post 17 Mei 2020. https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/17/covid-19-indonesiaterserah-trends-as-frustrasion-mounts-over-physical-distancing-violations-govt-policies.html

Gustinerz.com. https://gustinerz.com/inilah-jumlah-perawat-indonesia-saat-ini/

Ihsanuddin. 2020. Gugus Tugas: 38 Dokter dan 17 Perawat Meninggal Selama Pandemi Corona. kompas.com 6 Mei 2020.  https://nasional.kompas.com/read/2020/05/06/17352511/gugus-tugas-38-dokter-dan-17-perawat-meninggal-selama-pandemi-corona

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.2019. Sekretariat Jenderal. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018. Jakarta.

Kementrian PPN/Bappenas, BPS dan UNFPA. 2013. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta.

Mantalean, Vitoro. 2020, 19 Mei. PPNI: 20 Perawat di Indonesia Meninggal Dunia dalam Tugas Melayani Pasien Covid-19. kompas.com 19 Mei 2020. https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/19/05582081/ppni-20-perawat-di-indonesia-meninggal-dunia-dalam-tugas-melayani-pasien?page=2

Raharto, Aswatini and Mita Noveria. 2020. “Nurse Migrasion and Career Development: Indonesian Case”, Chapter 3 in Tsujita Yuko and Osuke Komazawa (Eds), Human Resources for Health and Long Term Care for Older Persons in Asia. Jakarta: Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA). ERIA IDE-JETRO Joint Research Project FY2018 No. 16.

Walden, Max, Hellena Souisa, & Natasya Salim. 2020.. Bali plans to reopen for tourism in July as frustrasion grows over Indonesia's COVID-19 response. ABC.net.au. 18 Mei 2020. https://www.abc.net.au/news/2020-05-18/coronavirus-indonesia-bali-to-reopen-hashtag-terserah-whatever/12258044

WHO. 2020. WHO and partners call for urgent investment in nurses. Who.int 7 April 2020.https://www.who.int/news-room/detail/07-04-2020-who-and-partners-call-for-urgent-investment-in-nurses

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait