Pelaksanaan Work From Home telah dilakukan di berbagai kota Indonesia sejak pertengahan Maret dan kemungkinan perpanjangan kebijakan WFH masih berpotensi diberlakukan karena penyebaran COVID-19 yang belum sepenuhnya reda. Kepatuhan menjalankan WFH menjadi faktor utama yang dapat membatasi penyebaran virus corona di Indonesia.

Pusat Penelitian Kependudukan LIPI bekerjasama dengan Lembaga Demografi FEB UI meneliti realitas WFH bagi pekerja di Indonesia melalui survey online. Dari 1213 responden yang diteliti terdapat 64% responden yang menyatakan bahwa mereka bekerja dari rumah (WFH).  Persentase pekerja perempuan yang melalukan WFH lebih tinggi daripada laki-laki, yakni masing-masing sebesar 70% untuk perempuan dan 59% untuk laki-laki. WFH tidak hanya dilakukan di perkotaan tetapi juga di perdesaan. Pekerja di desa yang bekerja dari rumah sebesar 55%, sedangkan pekerja di perkotaan sebesar 66%.

Bekerja di rumah terjadi pada semua sektor usaha. Persentase tertinggi terjadi pada sektor jasa kemasyarakatan (81%), diikuti sektor pertambangan dan penggalian (71%) dan lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan & jasa perusahaan (68%).  Dua sektor dengan persentase WFH terendah adalah listrik, gas, dan air minum (39%) dan industry pengolahan (40%).  Sedangkan dilihat dari tingkat pendidikan, WFH lebih umum terjadi pada pekerja berpendidikan tinggi. Lebih dari 91% pekerja berpendidikan S2/S3 melakukan WFH dan sekitar 70% pekerja berpendidikan S1/D4 melalukan WFH. Sebaliknya hanya sekitar 17% pekerja berpendidikan SLTP sederajat yang melakukan WFH.

Dalam hal produktivitas kerja, WFH tampaknya tidak berpengaruh terhadap produktivitas pekerja di Indonesia. Sebanyak 78% pekerja menyatakan bahwa mereka tetap produktif meskipun bekerja di rumah dan sebanyak 22% menyatakan tidak produktif. Sebagian pekerja perempuan tampak lebih menikmati WFH. Pekerja perempuan yang mengaku tetap produktif sebesar 82%, lebih tinggi dari pekerja laki-laki sebesar 74%. Untuk jangka panjang, tampaknya kebijakan WFH masih terus diberlakukan selama pandemic COVID-19 belum berakhir. Meskipun demikian WFH akan berpengaruh terhadap pola konsumsi dan mobilitas pekerja yang berpengaruh terhadap berjalannya perekonomian masyarakat terutama sektor jasa transportasi, perdagangan dan makanan.

Ditulis oleh Ngadi, Peneliti Ketenagakerjaan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s