Metode saintifik yang selama ini diaplikasikan dalam ilmu-ilmu sosial terdiri dari berbagai pendekatan, tools and teknik untuk mengumpulkan dan menganalisa data kualitatif maupun kuantitatif. Riset kualitatif dalam ilmu sosial yang ditujukan untuk memahami fenomena sosial biasanya dilakukan melalui kontak langsung dengan pelaku (orang) dimana fenomena tersebut mewujud. Pengamatan langsung dan terlibat serta komunikasi atau wawancara langsung adalah teknik yang paling umum digunakan.

Teknik pengumpulan data yang melibatkan kontak langsung antara peneliti dengan subyek yang diteliti dalam situasi-situasi tertentu adalah sulit untuk dilakukan, terutama dimasa pandemi COVID-19 saat ini. Pada kondisi dimana penerapan jarak sosial (social distancing) dalam komunikasi antarpersonal menjadi keharusan, pertanyaan metodologis terkait teknis pengumpulan data mengemuka.

Pada masa pra-virus corona, pertimbangan untuk menggunakan teknik pengumpulan data secara jarak jauh (menggunakan telepon, Skype, VoP dan e-mail) dilakukan untuk alasan efisiensi waktu, biaya dan keamanan (Mann & Stewart, 2000; Oltmann, 2016). Penelitian dengan metode pertemuan langsung akan menyita waktu, tenaga dan biaya jika distribusi geografis subyek sangat luas. Isu keamanan akan mengemuka jika topik penelitian melingkupi wilayah-wilayah yang berbahaya atau sensitif secara politis maupun dalam konteks lingkungan yang terbatas (seperti penjara). Selain itu, pengumpulan data jarak jauh dimana sense of anonymity dianggap meningkat, hingga tingkatan tertentu, lebih memberikan kenyamanan bagi orang yang diwawancara (Irvine, Drew, & Sainsbury, 2013). Namun demikian, kritik terhadap pendekatan ini juga muncul terutama terkait dengan isu representasi ketika hendak membuat generalisasi.

Pada masa pandemi ini, teknik pengumpulan data yang meniadakan kontak fisik antara peneliti dengan orang atau kelompok orang yang diteliti menjadi kian relevan. Berbagai pemodelan menunjukkan bahwa pandemi ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat (Baerwolff, 2020; Qasim, Ahmad, Yoshida, Gould, & Yasir, 2020). Dalam konteks Indonesia, aneka pemodelan menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 tidak akan berakhir dengan segera (Rahma & Kurniawati, 2020), sehingga kita perlu bersiap-siap dengan ‘the new normal’ (Fachriansyah, 2020).

Peneliti ilmu sosial tampaknya juga mesti bersiap-siap dengan the new normal dalam melakukan kegiatan penelitian. Normalitas yang ditandai oleh kesadaran, diantaranya, untuk menjaga jarak, menghindari tempat-tempat berkumpulnya banyak orang dan mempersingkat pertemuan/komunikasi langsung. Hal tersebut akan menuntut ilmuwan sosial untuk mengembangkan teknik-teknik baru yang lebih sesuai dengan kondisi tersebut namun tetap terjaga reliabilitas dan validitasnya. Pada konteks lembaga penelitian seperti LIPI di Indonesia, sistem peng-administrasian dan penganggaran penelitian juga dituntut untuk melakukan penyesuaian.

Penelitian sosial dengan menggunakan teknik pengumpulan data secara jarak jauh, virtual atau online selama ini dianggap sangat bias terhadap mereka yang memiliki akses terhadap telepon dan internet yakni masyarakat kota dan kelas menengah. Seperti pada beberapa kegiatan penelitian di bawah kedeputian IPSK (Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan) LIPI untuk berkontribusi terhadap pencegahan penyebaran virus corona serta memahami dampak sosial ekonomi yang mungkin timbul pada tingkat individu, rumah tangga serta komunitas membuktikan hal tersebut. Survei online yang dilakukan telah dilakukan menunjukkan kentalnya bias kelas menengah kota. Upaya-upaya metodologis untuk menangkap persepsi kelas menengah bawah apalagi yang tinggal di wilayah pedesaan terkait pandemi ini masih belum menunjukkan hasil yang cukup meyakinkan.

Upaya-upaya yang lebih sistematis mesti terus dilakukan untuk menemukan teknik pengumpulan data yang kontekstual dengan kondisi pandemi ini ataupun the new normal agar suara masyarakat kelas menengah bawah dan permasalahannya bisa ditangkap dan disuarakan secara lebih bertanggungjawab.

 

Ditulis oleh Rusli Cahyadi, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Kepustakaan

Baerwolff, G. K. (2020). A Contribution to the Mathematical Modeling of the Corona/COVID-19 Pandemic. medRxiv.

Fachriansyah, R. (2020). COVID-19: Brace for ‘new normal’, govt says. Retrieved from https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/04/COVID-19-brace-for-new-normal-govt-says.html

Irvine, A., Drew, P., & Sainsbury, R. (2013). ‘Am I not answering your questions properly?’Clarification, adequacy and responsiveness in semi-structured telephone and face-to-face interviews. Qualitative Research, 13(1), 87-106.

Mann, C., & Stewart, F. (2000). Internet communication and qualitative research: A handbook for researching online: Sage.

Oltmann, S. (2016). Qualitative interviews: A methodological discussion of the interviewer and respondent contexts. Paper presented at the Forum Qualitative Sozialforschung/Forum: Qualitative Social Research.

Qasim, M., Ahmad, W., Yoshida, M., Gould, M., & Yasir, M. (2020). Analysis of the Worldwide Corona Virus (COVID-19) Pandemic Trend; A Modelling Study to Predict Its Spread. medRxiv.

Rahma, A., & Kurniawati, E. (2020). Aneka Prediksi Usainya Pandemi COVID-19 di Indonesia Retrieved from https://nasional.tempo.co/read/1336729/aneka-prediksi-usainya-pandemi-COVID-19-di-indonesia/full&view=ok

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait