Pandemi COVID-19 telah mengubah mobilitas penduduk, yaitu dalam bentuk pembatasan perjalanan. Mobilitas penduduk dipaksa berhenti atau sangat dibatasi karena pergerakan orang merupakan faktor penyebab utama dalam penyebaran COVID-19. Banyak negara yang mengalami pandemi memberlakukan penutupan sementara (lockdown), sedangkan Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penghentian gerakan secara global ini belum pernah terjadi sebelumnya. Implikasi terhadap mobilitas penduduk adalah terjadi perubahan pola mobilitas penduduk selama pandemi COVID-19.

Sebelum ada bencana pandemi COVID-19, mobilitas penduduk sangat masif baik antar daerah di dalam suatu negara maupun antar negara. Secara historis, mobilitas penduduk terjadi dalam pola permanen dan non permanen (temporer dan ulang-alik/komuter). Kemajuan bidang transportasi dan sistem komunikasi di era globalisasi telah berubah dengan sangat signifikan, menyebabkan mobilitas jangka pendek semakin intens dilakukan oleh migran (Hugo, 2013, Ananta dan Arifin 2014). Ketika pesawat, angkutan darat, dan laut semakin banyak, lebih aman, lebih efisien, dan lebih mudah diakses selama beberapa dekade  terakhir, serta meluasnya akses internet dan media sosial, maka mobilitas penduduk jangka pendek ke dan dari tempat kerja dan sekolah, antara daerah (kota-kota, desa-kota dan sebaliknya), antar provinsi, dan bahkan antar negara menjadi hal biasa. Mobilitas jangka pendek ini menjadi semakin meluas jangkauan geografisnya (Castle dkk, 2014; Czaika dan de Haas, 2014). Mobilitas penduduk jangka pendek dengan intensitas tinggi tersebut menguntungkan secara ekonomi bukan hanya bagi migran dan keluarganya, tetapi juga bagi daerah/negara pengirim dan penerima. Namun, kondisi menguntungkan tersebut berubah menjadi problema besar karena sangat berpengaruh terhadap rantai penularan COVID-19. Kondisi tersebut membuat  pembatasan mobilitas penduduk sangat urgen untuk dilakukan.

 

COVID-19 dan menurunnya mobilitas penduduk

Sejak COVID-19 memulai penyebaran yang cepat di dunia, Indonesia tidak terkecuali, pemerintah di seluruh dunia memberikan fokus perhatian lebih pada pengelolaan mobilitas penduduk. Pada awalnya, virus menyebar melalui orang-orang yang melakukan perjalanan internasional secara reguler, kemudian berkembang menjadi penularan di tingkal lokal (local transmission). Ini membuktikan bahwa mobilitas penduduk merupakan faktor penting dalam penyebaran COVID-19. Memang belum ada data di tingkat nasional yang menggambarkan hubungan antara mobilitas penduduk (pergerakan orang) dengan penyebaran COVID-19. Namun, hasil riset Katadata Insight Center menemukan ada tiga provinsi yang paling rentan dalam penyebaran COVID-19, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat (Jatmiko, 2020). Indeks kerentanan di tiga provinsi tersebut berada pada skor 47,05 (DKI Jakarta); 45,54 (Banten); dan 43,59 untuk Jawa Barat, dari skala 0-50. Komponen yang sangat penting dalam berkontribusi terhadap tingginya nilai indeks adalah mobilitas penduduk. Bukti di negara-negara lain juga menunjukkan bahwa pergerakan orang yang terinfeksi virus corona dari zona merah ke tempat lain menjadi kontributor utama dalam penyebaran COVID-19. Dengan mendasarkan pada sekitar 388.287 penumpang dari 4 bandara di Cina yang bepergian ke 1297 bandara di 168 negara atau teritori pada periode 1-31 Januari 2020, risiko tinggi penularan COVID-19 melalui penerbangan udara dari empat kota di Cina adalah ke negara-negara tetangga di Asia (Thailand, Kamboja, dan Malaysia), sebaliknya relatif rendah di Afrika dan Amerika Selatan (Haider dkk, 2020). Analisis juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki indeks risiko tertinggi tetapi belum melaporkan adanya kasus COVID-19 pada bulan Januari 2020. Indonesia secara resmi baru melaporkan ada positif COVID-19 pada awal Maret 2020 dan kemudian menyebar ke semua provinsi di Indonesia.

Untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, sejumlah provinsi yang termasuk dalam zona merah telah menerapkan kebijakan PSBB yang diawali oleh Provinsi DKI Jakarta dan hingga peertengahan Mei ini masih berlangsung. Kompas mengabarkan, per 3 Mei 2020, ada empat (4) provinsi dan 22 kabupaten/kota yang menerapkan PSBB. Kebijakan PSBB di masa pandemi COVID-19 tersebut berimplikasi pada menurunnya mobilitas penduduk secara signifikan. Merujuk pada data Google, data boks (6 April 2020) menunjukkan terjadi penurunan mobilitas penduduk selama Maret 2020 dibanding dua bulan sebelumnya, dengan penurunan terbesar di tempat-tempat transportasi publik (stasiun kereta dan halte bus), yaitu sebesar 54%. Penurunan bisa terus terjadi sejalan dengan berhentinya aktivitas ekonomi yang semakin bertambah yang berimplikasi pada dirumahkannya atau terjadinya PHK bagi karyawannya.

 

Pola mobilitas di masa pendemi COVID-19

Pandemi COVID-19 telah merubah pola mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk jangka pendek dalam pola temporer dan komuter (ulang-alik) antar wilayah (provinsi dan kabupaten/kota) tidak terjadi. Jikapun ada, mobilitas penduduk hanya terjadi di antara wilayah administrasi yang berbatasan langsung dan mengikuti persyaratan yang tertuang dalam PSBB (misalnya menggunakan masker dan menerapkan physical dan social distancing).  Masa pandemi COVID-19 ini, mobilitas penduduk/pergerakan orang yang terjadi adalah pola yang selama ini tidak tercatat dalam statistik mobilitas penduduk (permanen maupun non permanen, terutama komuter di SUPAS 2015). Mobilitas penduduk yang dapat ditemui adalah hanya berupa pergerakan orang dalam jangkauan geografis yang terbatas, atau berjarak dekat, misalnya hanya dalam area residensial/lingkungan tempat tinggal, dari tempat tinggal ke pasar, ke supermarket, ke apotik, dan sebagian kecil ke tempat kerja (bagi mereka yang masih harus datang ke tempat kerja). Data menunjukkan ada peningkatan sebesar 15 persen penduduk yang melakukan perjalanan sekitar area residensial selama bulan Maret 2020 dibanding dua bulan sebelumnya (katadata, 6 April 2020). Sumber sama menyebutkan untuk mereka yang bepergian ke tempat kerja turun 15%, sedang ke pasar dan apotik turun 27%, bahkan yang pergi ke mall/kafe turun sebesar 47 persen. Penurunan bepergian diperkirakan semakin tinggi sejalan dengan peningkatan kasus positif COVID-19, disamping juga penerapan PSBB yang semakin meluas. Pola mobilitas penduduk seperti ini akan terus terjadi selama masa pandemi COVID-19, setidaknya hingga kurva COVID-19 telah menunjukkan penurunan, atau paling tidak sudah mulai datar/rata. Meskipun pemerintah membuka kembali aktivitas transportasi dalam jumlah sangat terbatas, namun hanya orang-orang tertentu yang diijinkan melakukan perjalanan, seperti yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19.

 

Ditulis oleh Haning Romdiati, Peneliti Utama Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Kontak: 

 

Referensi

Ananta, A. & Arifin, E. N. (2014). Emerging patterns of Indonesia’s International Migration. Malaysian Journal of Economic Studies 51(1): 29-41.

Castles, S. & Ozkul, D. (2014). Circular Migration: Triple Win, or a New Label for Temporary Migration? Dalam Graziano Battistella (ed.) Global and Asian Perspectives on International Migration. Switzerland: Springer International Publishing.

Chaika, Mathias dan H. De Haas. (2014). “The Globalization of Migration: Has the Wolrd Become More Migratory”?. International Migration Review. Vol 48 (2)(Summer 2014): 283-323.

Haider, N; A.Yavlinsky; D. Simon; A. Yusuf Osman; F. Ntoumi; A. Zumla, dan R. Kock. (2020). “Passengers’ destinations from China: low risk of Novel Coronavirus (2019-nCoV) transmission into Africa and South America”. Epidemiology and Infection 148, e41, 1–7. https://doi.org/10.1017/S0950268820000424. Diunduh 8 Mei 2020.

Hugo, Graeme.  (2013). What we know about circular migration and enhanced mobility. Policy Brief No 7. Migration Policy Institute. https://www.migrationpolicy.org/research/what-we-know-about-circular-migration-and-enhanced-mobility. Diunduh 28 Januari 2019.

Jatmiko, Agung. 2020. Mobilitas Tinggi dan Padat Penduduk, 3 Provinsi Paling Rentan Corona. https://katadata.co.id/berita/2020/04/03/mobilitas-tinggi-dan-padat-penduduk-3-provinsi-paling-rentan-corona. Diunduh tgl 8 Mei 2020

kata data (2020). Diimbau Jaga Jarak, Mobilitas Penduduk Indonesia Berkurang. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/04/06/diimbau-jaga-jarak-mobilitas-penduduk-indonesia-berkurang. Diunduh 5 Mei 2020

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait