Mobilitas penduduk internasional merupakan isu penting dalam globalisasi penyakit infeksi dan kronis. Ancaman penularan penyakit melalui mobilitas orang, menjadi dasar kebijakan kesehatan dalam pengelolaan batas wilayah nasional maupun internasional. Kebijakan ini merefleksikan besaran (volume) dan perbedaan pola-pola mobilitas penduduk antar negara/wilayah yang berbatasan serta perbedaan risiko penyebaran/penularan penyakitnya (MacPherson,Gushulak and Macdonald, 2007).

Seseorang yang melakukan mobilitas dan/atau migrasi lintas negara dapat saja berlaku sebagai orang yang tertular atau menularkan penyakit pandemik seperti COVID-19 saat ini. Penularan ini dapat berasal dari penyakit yang didapat di daerah asal ataupun dalam perjalanan (yang umumnya memerlukan transit di beberapa daerah) yang akan berdampak pada penularan di negara tujuan (dampak terhadap negara tujuan) ataupun ketika individu yang melakukan mobilitas/migrasi tiba di negara tujuan (dampak terhadap individu migran).

Salah satu kelompok penduduk yang berisiko tinggi dalam penularan COVID-19 di Indonesia adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI). Indonesia merupakan salah satu negara utama pengirim PMI utamanya ke berbagai negara di Asia dan Timur Tengah. Sampai dengan bulan Maret 2020, masih berlangsung penempatan PMI ke berbagai negara, paling tidak ke 25 negara dari data yang tersedia (BP2MI, 2020a,b,c), pada saat Indonesia juga sudah mengumumkan kasus-kasus positif COVID-19 di Indonesia. Calon PMI memang wajib menjalani pemeriksaan kesehatan yang biasa dikenal dengan Medical Check Up (MCU), untuk menjamin bahwa PMI yang akan diberangkatkan memang benar-benar sehat dan tidak mengidap penyakit tertentu. Tetapi dalam kasus COVID-19, mungkin belum menjadi persyaratan, karena wabah ini baru merebak. Untuk PMI yang pulang ke Indonesia, sudah ada ketentuan dan pengaturannya yang tertuang dalam Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Nomor 4 tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (tertanggal 6 Mei 2020).

 

PMI dan risiko penularan COVID-19

Kasus COVID-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada bulan Desember 2019 (Huang, Caolin,et.al. 2020). Hanya diperlukan waktu kurang lebih 3 bulan untuk virus tersebut menyebar di seluruh dunia sehingga kemudian WHO mengumumkan bahwa virus ini menjadi pandemi di dunia pada bulan Maret 2020.  Dalam kurun waktu 3 bulan tersebut Indonesia masih mengirimkan PMI ke berbagai negara terutama ke Asia dan Timur Tengah yang memungkinkan PMI tersebut memiliki risiko untuk tertular COVID-19 di negara tempatnya bekerja, karena Indonesia baru mengumumkan adanya kasus terinfeksi COVID-19 pada bulan Maret 2020. Menurut Data BP2MI jumlah PMI yang ditempatkan di luar negeri dalam kurun waktu tersebut mencapai hampir 55 ribu orang (Tabel 1). Mereka ditempatkan paling sedikit di 25 negara (Data tercatat di BP2MIa,b,c). Negara-negara seperti Malaysia, Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Saudi Arabia merupakan 5 negara dengan jumlah penempatan PMI terbanyak dari bulan Januari sampai dengan Maret 2020. Jumlah PMI yang berisiko untuk tertular akan semakin besar apabila ditambahkan dengan jumlah PMI yang telah lebih dulu bekerja di negara-negara penempatan. Bukan saja mereka tertular,tetapi mungkin juga akan menularkan di negara tujuan, mengingat tingginya orang tanpa gejala (OTG). Meskipun para calon PMI sudah menjalani pemeriksaan kesehatan (MCU), tetapi apakah ini termasuk test COVID-19 dan mengingat dalam proses pengiriman juga melalui beberapa tahapan yang menempatkan calon PMI di beberapa daerah transit yang akan meningkatkan risiko penularan diantara para calon PMI.

Screen_Shot_2020-05-13_at_09.42.02.png

 

Risiko tertularnya PMI oleh COVID-19 akan semakin meningkat ketika mereka bekerja di negara-negara yang sudah terpapar COVID-19. Data yang dikeluarkan https://www.worldometers. info/coronavirus/ memperlihatkan bahwa hampir seluruh negara di dunia telah teridentifikasi terpapar oleh COVID-19 termasuk 5 negara yang menjadi negara tempatan terbesar PMI. Sampai dengan tanggal 9 Mei 2020, Saudi Arabia merupakan negara tempatan PMI dengan kasus terinfeksi COVID-19 tertinggi (37.136 kasus), disusul oleh Singapura (22.460 kasus), Malaysia (6.587 kasus), Hongkong (1.045 kasus) dan Taiwan (440 kasus). Pada saat PMI terjangkit COVID-19, kondisi mereka bisa dikatakan lebih rentan dibandingkan pekerja lainnya karena mereka tinggal sangat jauh dari keluarga dan kerabat yang sekiranya dapat memberikan dukungan moril sehingga dapat mempercepat proses kesembuhan mereka.

Kerentanan PMI terhadap COVID-19 juga terkait dengan jenis pekerjaan yang dilakukan selama bekerja di luar negeri. Dari Januari sampai dengan Maret 2020, terdapat 5 jenis pekerjaan yang paling banyak dilakukan oleh PMI di luar negeri yaitu pekerja domestik, caregiver (penjaga orang tua), buruh di perkebunan, operator dan pekerja lainnya. Dari kelima jenis pekerjaan yang dilakukan PMI tersebut, caregiver dapat dianggap sebagai jenis pekerjaan yang mempunyai tingkat kerentanan terhadap COVID-19 yang cukup tinggi. Oleh karena dalam melakukan pekerjaannya, mengharuskan mereka seringkali harus ke rumah sakit menemani orang tua yang mereka jaga untuk memperoleh perawatan kesehatan. Selama Januari – Maret 2020 jumlah PMI yang bekerja sebagai caregiver mencapai hampir 12.500 orang (Tabel 1). Jenis pekerjaan ini merupakan jenis pekerjaan yang semakin diminati oleh PMI setelah terjadi moratorium PMI ke Saudi Arabia yang pada umumnya adalah pekerja domestik (Aswatini et al., 2019). Salah satu kasus PMI positif COVID-19 di Taiwan yang bekerja sebagai caregiver diduga tertular pada saat mengunjungi orang tua yang dia rawat yang ternyata telah terjangkit covid 19 (https://www.liputan6.com/global/read/4189336/tki-ilegal-di-taiwan-dilaporkan-positif-virus-corona-COVID-19#). Namun hal ini tidak berarti PMI yang bekerja pada jenis pekerjaan lainnya tidak mempunyai peluang untuk terpapar COVID-19.

PMI yang diberangkatkan selama bulan Januari-Maret 2020 berasal dari hampir seluruh provinsi dan berasal paling sedikit dari 25 kabupaten di Indonesia (Data tercatat di BP2MIa,b,c). Selama kasus pandemi COVID-19, sebagian PMI pulang ke daerah asalnya disebabkan kontrak kerja mereka yang telah habis, telah mendapatkan cuti libur dari tempat kerja mereka, atau bahkan karena mereka terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) baik secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan merebaknya wabah COVID-19 di negara tempat mereka bekerja. Meskipun dalam pemulangan PMI dikatakan sudah memenuhi protokol kesehatan namun tidak menutup kemungkinan PMI berisiko terinfeksi virus tersebut pada saat transit ataupun ketika dalam perjalanan pulang ke daerah asal masing-masing. Jika hal tersebut terjadi, kepulangan PMI ini dikhawatirkan berpotensi untuk meningkatkan penyebaran COVID-19 di daerah asalnya.

BP2MI memprediksi, 37.075 PMI akan kembali ke Tanah Air pada bulan April-Mei 2020  (Prabowo, 2020). Apabila mengacu pada provinsi asal PMI pada tabel 1 terlihat kepulangan PMI tersebut akan mengarah ke 6 provinsi utama daerah asal PMI yaitu provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Lampung dan Sumatera Utara. Presiden Jokowi dalam rapat kabinet terbatas pada tanggal 11 Mei juga menyebutkan terdapat sekitar 34.000 PMI akan habis masa kontraknya dan akan pulang ke Indonesia pada periode bulan Mei-Juni 2020 dengan rincian sekitar 8.900 orang berasal dari Provinsi Jawa Timur, 7.400 orang dari Jawa Tengah, 5.800 dari Jawa Barat, 4.200 orang dari Nusa Tenggara Barat, 2.800 orang dari Sumatera Utara, 1.800 orang dari Lampung dan 500 orang dari Bali. Kedatangan PMI ini akan terus berlanjut, bahkan diperkirakan Indonesia akan menyambut kepulangan PMI sebanyak 260.000 orang sampai dengan akhir tahun ini (Prabowo, 2020). Kedatangan PMI yang dalam jumlah besar tersebut berpotensi besar menjadi sumber penyebaran COVID-19 yang baru apabila tidak ditangani dengan baik dengan menerapkan protokol kesehatan penanganan COVID-19 yang benar. Lebih lanjut Presiden mengingatkan kepada pemerintah untuk bersiap-siap menyiapkan berbagai hal terkait dengan penanganan COVID-19 terutama di pintu-pintu masuk dan mengawasi pergerakan PMI sampai ke daerah asalnya.

 

Antisipasi daerah dalam menyambut kepulangan PMI

Kepulangan PMI ke daerah asalnya memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah setempat guna mengurangi penyebaran COVID-19 terutama di tingkat kabupaten. Berdasarkan data penempatan TKI yag dikeluarkan oleh BP2MI dari bulan Januari sampai dengan Maret 2020 terdapat 5 kabupaten utama (dari 25 kabupaten tercatat di BP2MI), yang menjadi pengirim TKI yaitu kabupaten Indramayu, Lombok Timur, Cirebon, Cilacap dan Lombok Tengah. Meskipun data kepulangan PMI berdasarkan kabupaten asal belum tersedia namun kemungkinan mayoritas PMI yang pulang berasal dari kelima kabupaten yang menjadi kantong-kantong pengiriman PMI tersebut. Oleh karena itu perlu kesiapan pemerintah kabupaten-kabupaten tersebut untuk menyiapkan berbagai upaya yang diperlukan supaya kedatangan PMI ini tidak berujung pada timbulnya gelombang kedua memuncaknya kasus COVID-19 di kabupaten tersebut. Apabila hal ini terjadi, penanganannya akan semakin sulit mengingat keterbatasan sarana prasarana dan tenaga medis yang tersedia di daerah.

 

Ditulis oleh Fitranita dan Aswatini, Peneliti Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI 

Kontak:   

 

Referensi

Aswatini, Fitranita, Laksmi Rachmawati dan Mita Noveria. 2019. Migrasi sebagai Investasi untuk Peningkatan Daya Saing Pekerja Migran Indonesia di Pasar Kerja Global. Penerbit Yayasan Obor. Jakarta.

Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Pusat Data dan Informasi BP2MI. 2020a. Data Penempatan dan Perlindungan PMI. Periode Januari 2020.

Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Pusat Data dan Informasi BP2MI. 2020b. Data Penempatan dan Perlindungan PMI. Periode Februari 2020.

Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Pusat Data dan Informasi BP2MI. 2020c. Data Penempatan dan Perlindungan PMI. Periode Maret 2020.

Huang, Chaolin. et.al. 2020. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China . DOI:https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30183-5

MacPherson Douglas W, Brian D Gushulak and Liane Macdonald. 2007. “Health and foreign policy: Influences of migration and population mobility”. Bulletin of the World Health Organization, Vol.85, Number 3. March 20007.

Prabowo, Dani, 2020. BP2MI: 37.075 Pekerja Migran Pulang ke Indonesia April-Mei 2020
https://nasional.kompas.com/read/2020/04/23/15593921/bp2mi-37075-pekerja-migran-pulang-ke-indonesia-april-mei-2020.

Rumah Migran. 2019. Tes Medical Check Up Calon TKI Sebagai Syarat Bekerja di Luar Negeri. https://rumahmigran.com/2019/12/09/tes-medical-check-up-untuk-calon-tki/

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait