Perubahan struktur umur penduduk dapat mendorong Indonesia memasuki era bonus demografi yang di dalamnya terdapat potensi percepatan pertumbuhan ekonomi yang dipengaruhi oleh terus bertumbuhnya penduduk usia produktif. Sebagaimana diketahui, proporsi penduduk usia produktif ini relatif lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia nonproduktif (anak-anak dan lanjut usia). Menurut proyeksi penduduk 2015-2045, Indonesia diperkirakan akan terus mengalami penurunan rasio ketergantungan kurang dari 50 persen hingga 2040 (Bappenas, BPS & UNFPA 2018). Momentum bonus demografi juga terjadi berbeda-beda di setiap provinsi. Beberapa provinsi, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, telah mulai memasuki periode bonus demografi pada periode 2000 hingga 2010 dan diperkirakan akan berakhir pada sekitar 2030-an.

Keuntungan ekonomi yang didapat dari perubahan struktur umur penduduk tersebut tidak otomatis karena memerlukan intervensi pemerintah dalam memanfaatkan besarnya penduduk usia kerja untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Bonus demografi dapat dimanfaatkan agar berdampak luas pada pertumbuhan ekonomi dan bersifat jangka panjang, misalnya melalui investasi sumber daya manusia yang berkualitas dan meningkatkan produktivitas kerja.

 

COVID-19 dan Bonus Demografi

Namun pandemi COVID-19 diindikasikan dapat berimplikasi luas terhadap pencapaian dan pemanfaatan bonus demografi. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menunjukkan hingga Juni 2020, jumlah yang terpapar COVID-19 di Indonesia adalah 32.033 positif, 10.904 sembuh, dan 1.883 meninggal dunia (covid19.go.id). Selain masyarakat yang berusia 60 tahun ke atas, KawalCovid19 mengungkapkan bahwa kelompok usia 18-30 tahun dan 31-45 tahun juga memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, yaitu masing-masing 0,99 persen dan 2,45 persen. Pandemi ini menjadi tantangan bagi Indonesia karena dapat memengaruhi keberhasilan negara ini dalam meraih dan memanfaatkan bonus demografi. Tidak tertutup kemungkinan Indonesia akan kehilangan penduduk usia muda yang seharusnya menjadi menjadi tonggak pembangunan sebelum memasuki masa bonus demografi. Selain itu, kekhawatiran lainnya datang dari segi kualitas SDM penduduk Indonesia karena pandemi COVID-19 ini menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran, terutama penduduk usia produktif.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional Bulan Agustus 2019 menunjukkan jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang (BPS, 2020). Pada Februari 2020, sebanyak 6,88 juta orang menganggur dan dibandingkan dengan setahun yang lalu, jumlah pengangguran bertambah 60 ribu orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) penduduk umur muda (15-24 tahun) adalah yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok umur lain, yaitu 16,28 persen. Data Kementerian Ketenagakerjaan sampai dengan Selasa, 2 Juni 2020 menunjukkan terdapat 3,05 juta orang pekerja di Indonesia terdampak (PHK dan dirumahkan) virus corona. Hasil Survei Sosial Demografi Dampak COVID-19 menunjukkan tidak sedikit pelaku usaha yang menutup sementara usahanya bahkan secara permanen akibat kebijakan physical distancing untuk memutus rantai penularan corona virus. Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan pekerja di Indonesia. Hasil survey menunjukkan 2,52 persen responden survey baru saja mengalami PHK akibat perusahaan/tempat usaha dimana ia bekerja tutup. Sedangkan 18,34 persen diantaranya bekerja, namun sementara dirumahkan (BPS, 2020).

 

Strategi Memetik Bonus Demografi

Untuk dapat memetik bonus demografi, diperlukan beberapa strategi umum. Pertama, penduduk usia muda yang tidak termasuk ke dalam kategori sedang mengenyam pendidikan, bekerja ataupun mengikuti pelatihan yang biasa disebut NEET (Not in Education, Employment or Training) harus dikurangi. Kedua, perlu ditingkatkannya partisipasi kerja wanita. Ketiga, perlu diciptakannya lapangan kerja yang berkualitas. Keempat, sumber daya manusia harus terus-menerus dikembangkan.

Di periode yang sama dengan pandemi COVID-19, terjadi teknologi disruptif yang tidak dapat dihindari. Dikenal dengan istilah Revolusi Industri 4.0, perubahan teknologi telah mengubah tata cara dan pola kerja manusia. Teknologi digital dianggap berpotensi mengganggu pekerja. Banyak pekerjaan yang berpotensi diganti atau menggunakan otomatisasi, termasuk digantikan oleh mesin berteknologi tinggi. Namun, teknologi digital juga dapat merangsang produktivitas ekonomi. Adaptasi teknologi memberikan kesempatan kerja yang lebih luas dan fleksibel yang menyebabkan peningkatan produktivitas dan efisiensi angkatan kerja dalam proses produksi modern. Hasil yang diciptakan dalam proses tersebut akan memberikan kemudahan dan kenyamanan konsumen.

Oleh karena itu, strategi khusus pun perlu diterapkan dalam rangka memperpanjang bonus demografi. Pertumbuhan penduduk harus dijaga keseimbangannya dengan meningkatkan tingkat kesehatan yang prima. Produktivitas penduduk usia produktif dan lanjut usia perlu ditingkatkan melalui perluasan kewirausahaan. Selain itu, pemerintah pun perlu mendukung mobilisasi penduduk yang menunjang pemerataan antarwilayah, memperluas adaptasi dan penguasaan teknologi, serta meningkatkan cakupan jaminan sosial agar menyeluruh dan komprehensif.

Dalam rangka mengoptimalkan bonus demografi, perekonomian yang berkualitas perlu dibangun, Sumber daya manusia sebagai modal pembangunan juga perlu diperkuat. Hal ini dapat dilakukan melalui pembangunan pendidikan dan pelatihan berkualitas yang memacu inovasi, peningkatan keterampilan yang mudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi, pengembangan life-skill, terutama bagi tenaga kerja muda, pengembangan kewirausahaan dan pendidikan berkelanjutan, terutama bagi tenaga kerja usia lanjut, serta peningkatan kesehatan penduduk. Selanjutnya pertumbuhan penduduk yang seimbang pun perlu dijaga.

 

Pengembangan Sumberdaya Manusia

Perubahan struktur penduduk merupakan momentum bagi Indonesia untuk menjadi negara besar. Hal ini perlu diantisipasi dengan kebijakan yang tepat. Pengembangan sumberdaya manusia adalah kunci untuk memanfaatkan demografi dividen. Pengembangan sumberdaya manusia perlu dibangun secara utuh, mulai dari awal sampai akhir berdasarkan siklus hidup. Kualitas pendidikan dan kesehatan harus dijamin sepenuhnya melalui peningkatan kualitas guru dan fasilitas kesehatan masyarakat. Peningkatan keahlian dan kewirausahaan juga harus mendapat perhatian.

 

Ditulis oleh Sonyaruri Satiti, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan - Universitas Gadjah Mada

 

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2020). Booklet Agustus 2019 Survei Angkatan Kerja Nasional. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2020). Hasil Survei Sosial Demografi Dampak COVID-19. Jakarta : Badan Pusat Statistik.

Bappenas, BPS and UNFPA. (2018). Proyeksi Penduduk Indonesia. Indonesia Population Projection 2010-2035. Jakarta: Badan Pusat Statistik, BPS-Statistic Indonesia.

Covid19, “Jumlah Terpapar COVID-19 di Indonesia”, 8 Juni 2020, (online), https://covid19.go.id/p/berita/infografis-COVID-19-9-juni-2020, diakses pada 8 Juni 2020.

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait