Salah satu faktor yang menyebabkan terjadi penyebaran COVID-19 secara cepat adalah akibat dari pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya (Badr et al, 2020; Carteni, Francesco, & Martino, 2020). Secara umum, penyebaran penyakit akan sangat mudah terjadi seiring dengan mobilitas manusia (Findlater & Bogoch, 2018; Tatem, Rogers, & Hay, 2006) bahkan hal tersebut pula yang dapat memperlama terjadinya pandemi di suatu wilayah (Wu et al, 2018). Oleh karena itu, salah satu strategi utama dalam rangka mencegah potensi penularan penyakit adalah melalui pembatasan pergerakan penduduk. Hal inilah yang menjadi aspek penting dalam strategi lockdown dan karantina di banyak negara di masa pandemi COVID-19 termasuk Indonesia yang mengenalkan terminologi sendiri, yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Pembatasan mobilitas walaupun bertujuan untuk menghambat penyebaran virus juga memberikan konsekuensi yang sangat besar. Selain menyebabkan terjadinya perubahan rutinitas dalam pergerakan manusia (Gambar 1), pembatasan mobilitas juga berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat Dalam bidang ekonomi misalnya, limitasi terhadap mobilitas menjadikan kelompok masyarakat tertentu kehilangan sumber-sumber penghasilannya dan dapat berdampak pada peningkatan pengangguran terbuka. Konsekuensi lain dari pembatasan pergerakan masyarakat ini juga menyentuh bidang keamanan kota, salah satu aspek esensial dari kehidupan masyarakat yang justru sangat dibutuhkan untuk menciptakan rasa aman di tengah pandemi. Permasalahan keamanan kota yang mengemuka pada masa ini dapat meliputi kejahatan, kerusuhan/konflik sosial, dan terorisme.

Gambar 1. Persentase Perubahan Mobilitas Penduduk Indonesia ke Berbagai LokasiScreen_Shot_2020-07-30_at_07.20.27.png

Ket.: nilai dasar pengukuran mengacu pada nilai median untuk hari yang sesuai selama periode 5 minggu, yaitu 3 Jan–6 Feb 2020

Sumber: Google COVID-19 Community Mobility Reports 6 Juli 2020

 

Perubahan Jenis dan Target Kejahatan selama Pembatasan Mobilitas

Pembatasan mobilitas yang mengharuskan masyarakat berdiam di rumah dan mengurangi aktivitas perjalanan dapat memberikan dampak terhadap kriminalitas perkotaan khususnya terkait perubahan jenis dan target kejahatan yang dominan. Selama pandemi, terjadi fluktuasi angka kriminalitas yang ditandai dengan dengan kecenderungan penurunan kejadian kejahatan di awal pandemi (Maret – April 2020)  yang terjadi berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Swedia, dan Kanada (Hodgkinson & Andresen, 2020; Stickle & Felson, 2020). Menurut McDonald & Balkin (2020), walaupun pembatasan mobilitas menyebabkan angka kejahatan menurun, risiko menjadi korban kriminal sebenarnya tidak berkurang. Aksi kriminalitas mungkin berkurang pada jenis kejahatan tertentu misalnya, pencopetan, perampokan dan pembobolan (burglary) di perumahan karena sebagian besar masyarakat berada di kediamannya masing-masing sehingga mengurangi oportunitas tindak kejahatan di kawasan tersebut. Namun, area bisnis, pertokoan, jalan, ataupun transportasi publik  yang sepi dan minim pengawasan justru dapat menjadi target yang lebih menguntungkan bagi kriminal. Kondisi ini menunjukkan adanya kecenderungan displacement ataupun crime subsitution, yaitu perubahan baik target dan jenis kejahatan ke tempat atau lokasi tertentu karena adanya perubahan peluang untuk melakukan kejahatan.   

Studi yang dilakukan oleh Mohler et al (2020) di Los Angeles dan Indianapolis mengkonfirmasi adanya perubahan jenis kejahatan selama masa pandemi. Kejahatan pembobolan  di lingkungan residensial menjadi lebih rendah tapi jenis kejahatan lainnya seperti pencurian kendaraan bermotor justru meningkat karena berkurangnya natural observations (pengawasan dari orang-orang yang berada di jalanan) sebagai dampak pembatasan mobilitas. Studi lainnya yang dilakukan oleh Ashby (2020) di 16 kota besar di Amerika Serikat juga  menemukan adanya sedikit reduksi angka kriminalitas pada kejahatan residential burglary. Peningkatan pada jenis kejahatan lainnya terjadi pada kekerasan domestik yang ditemukan pula di sejumlah negara seperti Inggris dan India (Dubey et al, 2020; Nicola et al, 2020) serta kejahatan siber sebagaimana dilaporkan oleh United Nations Interregional Crime and Justice Research Institute (Radoini, 2020) sejalan dengan peningkatan pengunaan internet baik untuk kepentingan teleworking, pembelajaran jarak jauh berbelanja secara online maupun mengisi waktu luang selama pembatasan mobilitas (gaming, berselancar di media sosial, dan lain-lain). Sementara itu di Indonesia, Kepolisian RI mencatat penurunan aksi kejahatan pada bulan April 2020 sebesar 19,9% dibandingkan bulan Maret 2020 namun terjadi peningkatan angka kejahatan jalanan seperti pencurian kendaraan bermotor, penjambretan, dan perampokan minimarket (Batubara, 2020).   

Menurunnya pergerakan masyarakat ke berbagai lokasi publik akan berpotensi meningkatkan risiko dan kerawanan terkait kejahatan terhadap orang dan properti. Pertama, di jalanan dan ruang publik yang sepi, kejahatan terhadap orang akan berkurang sejalan dengan menurunnya keramaian tetapi risiko seseorang untuk menjadi korban kejahatan di lokasi tersebut akan lebih tinggi karena menjadi target yang paling potensial pada saat itu. Kedua, kejahatan terhadap properti pribadi di lokasi residensial akan berkurang (kecuali untuk pencurian kendaraan bermotor yang terparkir di luar rumah/car port) tapi risiko kejahatan properti di kawasan komersial dan jalanan (misalnya perampasan motor) akan meningkat jika tidak didukung oleh pengamanan yang baik dan ditambah dengan minimnya eyes on the street.

Berkurangnya keramaian pada suatu lokasi dapat menjadi target yang menarik bagi kriminal terutama jika dibarengi dengan pengawasan yang kurang memadai. Dalam pendekatan teori kriminologi hal ini dapat dijelaskan antara lain melalui teori routine acitivity yang menyatakan bahwa aksi kejahatan dapat terjadi karena adanya target yang menarik, pelaku potensial (motivated offender), dan ketidakhadiran capable guardian (Bottoms & Wiles, 1997; Cohen & Felson, 1979). Di Indonesia, misalnya, narapidana yang dibebaskan berdasarkan kebijakan asimilasi dan integrasi pemerintah pada awal pandemi dapat menjadi pelaku potensial bagi tindak kejahatan. Kondisi ini sangat mungkin terjadi jika narapidana yang dibebaskan memiliki kesulitan ekonomi setelah berada di luar lembaga pemasyarakatan sehingga berpotensi kembali melakukan aksi kriminal. POLRI menyebutkan hingga akhir April 2020 terdapat 106 eks narapidana program asimilasi yang kembali melakukan tindak kejahatan (CNN Indonesia, 2020). Kelompok masyarakat yang memiliki masalah perekonomian akibat COVID-19 juga dapat menjadi pelaku potensial jika memilih jalan pintas untuk menyelesaikan masalah ekonominya. Apabila kondisi ini ditambah dengan semakin minimnya pengawasan (absent of capable guardian) dan adanya target yang memadai (misalnya, toko-toko yang sepi ataupun tidak memiliki penjaga keamanan, orang yang beraktivitas di area yang sepi, kendaraan yang di parkir di jalanan) maka kondisi-kondisi tersebut memberikan peluang besar menciptakan tindak kriminalitas.

 


Potensi Kerusuhan dan Terorisme

Selain kriminalitas, pembatasan mobilitas selama pandemi dapat memberikan efek tidak langsung terhadap potensi terjadinya dua permasalahan keamanan serius, yaitu kerusuhan dan terorisme. Walaupun sejumlah penelitian menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan prilaku prososial masyarakat selama masa pandemi (Dezecache, 2015; Pettigrew, 1983; Schoch-Spana, 2004) tetapi peristiwa kerusuhan juga ditemukan terjadi saat pandemi (Cohn, 2010; Taylor, 2019) jika didukung oleh situasi-situasi tertentu.

Pembatasan mobilitas dalam bentuk lockdown misalnya dapat menimbulkan keresahan di masyarakat karena adanya kekhawatiran akan terbatasnya ketersediaan barang akibat terhambatnya distribusi dan suplai kebutuhan hidup. Kekhawatiran tersebut dapat menciptakan kecemasan yang mendorong masyarakat untuk melakukan panic buying dan penimbunan untuk bersiap menghadapi kelangkaan barang. Panic buying dapat menciptakan kerusuhan ketika masyarakat saling memperebutkan barang yang terbatas. Kekhawatiran terburuk adalah adanya risiko potensial dari sekelompok masyarakat yang tidak memiliki sumber daya untuk membeli barang yang akhirnya melakukan penjarahan seperti yang terjadi di Afrika Selatan sedangkan kerusuhan lainnya di Italia dan Chili terjadi sebagai imbas kebijakan lockdown yang b berimbas pada kelangkaan bahan kebutuhan pokok. Di Amerika Serikat kekhawatiran akan kerusuhan dan penjarahan serta pembatasan mobilitas menyebabkan tingginya tingkat pembelian senjata selama masa pandemi yang digunakan sebagai perlindungan diri untuk mengantisipasi kondisi tersebut (Becket, 2020; Matza, 2020).

Permasalahan keamanan lainnya yang harus diwaspadai selama masa pandemi COVID-19 adalah terorisme. Pembatasan mobilitas penduduk yang menyebabkan berkurangnya keramaian massa sebenarnya menciptakan situasi yang tidak menguntungkan bagi pelaku teror. Walau demikian, terdapat beberapa kondisi yang justru memberikan peluang bagi teroris untuk melancarkan aksi di saat pandemi. Pertama, perhatian dan beban pihak keamanan yang lebih difokuskan pada masalah pandemi dapat menurunkan kewaspadaan terhadap aksi teror. Hal ini memberikan oportunitas bagi teroris untuk melaksanakan aksinya terutama di lokasi-lokasi dengan tingkat kepadatan yang masih tinggi selama pandemi seperti pasar . Kedua, pemberlakuan lockdown justru memberikan waktu bagi pelaku teror untuk melakukan perencanaan dan konsolidasi (Ochab, 2020). Saat pembatasan mobilitas berakhir suatu aksi teror yang telah direncanakan dengan matang dapat menjadi efek kejut untuk mengundang ketakutan tinggi di masyarakat yang menjadi tujuan dari teroris. Ketiga,  teroris semakin gencar melakukan penyebaran paham ekstrimisme secara online seiring dengan meningkatnya  penggunaan internet di masa pembatasan mobilitas (Howard, 2020). Hal ini dapat menyebabkan radikalisasi secara individual yang memperbesar potensi terjadinya lone wolf terrorism.

 

Antisipasi Keamanan di Masa Pandemi COVID-19

Pembatasan mobilitas masyarakat selama masa pandemi COVID-19 dapat memberikan dampak pada keamanan di wilayah urban yang meliputi peningkatan dan perubahan jenis maupun target kriminalitas, potensi kerusuhan sosial, dan kemungkinan terjadinya aksi teror. Dengan memahami potensi-potensi kerawanan dan permasalahan keamanan ini diharapkan dapat disusun rencana tindakan dan antisipasi untuk meningkatkan kewaspadaan baik dari pemerintah, penegak hukum dan otoritas keamanan (polisi, TNI), serta masyarakat ketika dilakukan PSBB ataupun karantina baik pada saat ini maupun di masa mendatang. Pemetaan wilayah dan titik (hotspots) rawan keamanan dengan memperhatikan data mobilitas penduduk (misalnya  Google COVID-19 Community Mobility Reports, Facebook Disease Prevention Maps, Apple Mobility Trends Report, COVID-19 Mobility Data Network, ataupun data mobilitas publik dari Jakarta Smart City) perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk mengantisipasi gangguan keamanan sehingga dapat diambil strategi yang tepat dalam menempatkan personil, manipulasi keamanan ruang dengan target hardening, maupun penggunaan teknologi keamanan dalam ruang kota. Keamanan siber juga perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi kejahatan siber dan terorisme yang dapat meningkat seiring dengan tingginya penggunaan internet selama diberlakukannya PSBB. Pemerintah perlu pula menjamin terpenuhinya suplai dan lancarnya distribusi kebutuhan penduduk maupun pengaturan pembelian barang untuk menghindari penimbunan agar terhindar dari potensi kerusuhan. Di sisi lain, peran aktif masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan keamanan lingkungan misalnya dengan menciptakan sistem keamanan lingkungan yang mandiri maupun community policing.

 

Ditulis oleh Husnul Fitri, Peneliti di Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI)

 

Referensi

Ashby, M. P. J. (2020). Initial evidence on the relationship between the coronavirus pandemic and crime inthe United States. Crime Science, 9(6), 1-16. https://doi.org/10.1186/s40163-020-00117-6.

Badr, H.S., Du, H., Marshall, M., Dong, E., Squire, M.M., Gardner, L.M. (2020). Association between mobility pattern and COVID-19 transmission in the USA: A mathematical modelling study. The Lancet Infectious Disease. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(20)30553-3

Batubara, P. (2020, Mei 4). Polri: Angka kejahatan jalanan meningkat saat pandemi COVID-19. Diakses dari https://nasional.okezone.com/read/2020/05/04/337/2209082/polri-angka-kejahatan-jalanan-meningkat-saat-pandemi-COVID-19

Beckett, L. (2020, April 2). Americans purchasing record-breaking numbers of guns amid coronavirus. Diakses dari https://www.theguardian.com/world/2020/apr/01/us-gun-purchases-coronavirus-record

Bottoms, A., & Wiles, P. (1997). Environmental criminology. In M. Maguire, R. Morgan, & R. Reiner (Eds.), The Oxford handbook of criminology (2nd ed., pp.  305–359).  Clarendon Press.

Carteni, A., Francesco, L.D., Martino, M. (2020). How mobility habits influenced the spread of the COVID-19 pandemic: Results from the Italian case study. Science of the Total Environment, 714, 1-9. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2020.140489

CNN Indonesia. (2020, Mei 13). 106 napi asimilasi kembali berulah, mencuri hingga pencabulan. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200512150324-12-502544/106-napi-asimilasi-kembali-berulah-mencuri-hingga-pencabulan

Cohen, L. E., & Felson, M. (1979). Social change and crime rate trends: A routine activity approach. American Sociological Review, 44(4), 588-608. https://doi.org/10.2307/2094589

Cohn, S. K. (2010). Cultures of plague: Medical thinking at the end of the renaissance (1st ed.). Oxford University Press.

Dezecache, G. (2015). Human collective reactions to threat. WIREs Cognitive Science, 6, 209-219. doi: l0.l002/wcs.1344

Dubey, S., Biswas, P., Ghosh, R., Chatterjee, S., Dubey, M.J., Chatterjee, S., Lahiri, D., & Labie, C.J. (2020). Psychosocial impact of COVID-19. Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews, 14(5), 779-788. https://doi.org/10.1016/j.dsx.2020.05.035

Findlater, A., & Bogoch, I.I. (2018). Human mobility and the global spread of infectious diseases: A focus on air travel. Trends in Parasitology, 34(9), 772-783. https://doi.org/10.1016/j.pt.2018.07.004

Google COVID-19 Community Mobility Reports. (2020, Juli 6). Laporan perubahan mobilitas Indonesia. Diakses dari https://www.gstatic.com/covid19/mobility/2020-07-06_ID_Mobility_Report_id.pdf

Hodgkinson, T., & Andresen, M.A. (2020). Show me a man or a woman alone I’ll show you a saint: Changes in the frequency of criminal incidents during the COVID-19 pandemic. Journal of Criminal Justice, 69, 101706. https://doi.org/10.1016/j.jcrimjus.2020.101706

Howard, H. (2020, Juni 23). Coronavirus lockdowns could lead to increase in terror attacks as isolated extremists become radicalised, Europol warn. Diakses dari https://www.dailymail.co.uk/news/article-8451901/Coronavirus-lockdowns-lead-increase-terror-attacks-extremists-radicalised.html

Ochab, E.U. (2020, Mei 18). Terrorist organizations use COVID-19 lockdown to expand territory. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/ewelinaochab/2020/05/18/terrorist-organizations-use-COVID-19-lockdown-to-expand-territory/#396dd11354bb

Matza, M. (2020, April 6). How the coronavirus led to the highest-ever spike in US gun sales. Diakses dari https://www.bbc.com/news/world-us-canada-52189349

McDonald, J.F., & Balkin, S., (2020, April 2). The COVID-19 and the decline in crime. Diakses dari https://ssrn.com/abstract=3567500. https://dx.doi.org/10.2139/ssrn.3567500

Mohler, G., Bertozzi, A.L., Carter, J., Short, M.B., Sledge, D., Tita, G.E., Uchida, C.D., Brantingham, P.J. (2020). Impact of social distancing during COVID-19 pandemic on crime in Los Angeles and Indianapolis. Journal of Criminal Justice, 68, 101692. https://doi.org/10.1016/j.jcrimjus.2020.101692

Nicola, M., Alsafi, Z., Sohrabi, C., Kerwan, A., AL-Jabir, A., Iosifidis, C., Agha, M., & Agha, R. (2020). The socio-economic implications of the coronavirus pandemic (COVID-19): A review. International Journal of Surgery, 78, 185-193. https://doi.org/10.1016/j.ijsu.2020.04.018

Pettigrew, E. (1983). The silent enemy: Canada and the deadly flu of 1918 (1st ed.). Western Producer Praire Books.

Radoini, A. (2020, Mei 11). Cyber-crime during the COVID-19 pandemic. Diakses dari http://www.unicri.it/news/article/covid19_cyber_crime

Schoch-Spana, M. (2004). Lessons from the 1918 pandemic influenza: Psychosocial consequences of a catastrophic outbreak of disease. In R. J. Ursano, A. E. Norwood, & C. S. Fullerton (Eds.), Bioterrorism: Psychological and public health interventions (1st ed., pp. 38-55). Cambridge University Press.

Stickle, B., & Felson, M. (2020). Crime rates in a pandemic: The largest criminological experiment in history. American Journal of Criminal Justice, 1-12. https://doi.org/10.1007/s12103-020-09546-0

Tatem, A.J, Rogers, D.J., & Hay, S.I. (2006). Global transport networks and infectious disease spread. Advances in Parasitology, 62, 292-34. https://doi.org/10.1016/S0065-308X(05)62009-X

Taylor, S. (2019). The psychology of pandemics: Preparing for the next global outbreak of infectious disease (1st ed.). Cambridge Scholar Publishing.

Wu, M., Han, S., Sun, M., & Han, D. (2018). How the distance between regional and human mobility behavior affect the epidemic spreading. Physica A, 492, 1823-1830. https://doi.org/10.1016/j.physa.2017.11.099

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait