UNESCO mencatat hingga akhir Mei 2020, sebanyak 1,19 milyar anak di seluruh dunia terkena dampak penutupan sekolah akibat pandemi COVID-19 (UNESCO, 2020). Jumlah ini adalah 67,7% dari populasi siswa dunia. Di Indonesia, dampak pandemi terlihat pada hasil survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menunjukkan 97,6% sekolah melakukan aktivitas pembelajaran di rumah sejak pertengahan Maret silam (Kemendikbud, 2020b). Data-data tersebut menggambarkan bahwa pandemi yang terjadi menyebabkan perubahan pola dan aktivitas di berbagai bidang, termasuk pendidikan.

Penutupan sekolah karena pandemi berdampak pada berbagai hal. Di beberapa negara, banyak anak menjadi putus sekolah, menghilangkan pengawasan dan perhatian pada anak yang marginal dan tertinggal, serta menurunkan kualitas pengajaran dan pembelajaran (David et al., 2020). Penutupan sekolah juga berakibat pada penurunan akses siswa untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan, akses ke program gizi berbasis sekolah serta mendorong tingkat kekurangan gizi karena perhatian keluarga tentang kesehatan belum seintensif sekolah (Tidey, 2020). Kondisi kedaruratan kesehatan seperti yang terjadi saat ini akan menjadi risiko kerentanan kesehatan global di masa depan (Bello, 2020), sehingga perlu disikapi melalui kemampuan adaptif dalam mengantisipasi ancaman wabah dan permasalahan kesehatan di masa yang akan datang.

 

Permasalahan Kesehatan Siswa

Masalah kesehatan pada siswa sangat kompleks dan beragam. Pada anak usia jenjang sekolah dasar, permasalahan kesehatan lebih terkait pada perilaku hidup bersih (seperti kebiasaaan mencuci tangan dengan sabun, kebersihan diri, gosok gigi, dll) dan gizi seimbang (Miller & Rosso, 2009).  Sedangkan pada anak usia jenjang sekolah menengah, permasalahan kesehatan umumnya terkait gaya hidup/perilaku berisiko terhadap kesehatan, konsumsi makanan, merokok, kekerasan, perundungan, kesehatan reproduksi, NAPZA, dll (BKKBN, BPS, 2012; Miller & Rosso, 2009). Sekolah sebagai sebuah institusi, memegang peranan penting dalam menginternalisasikan nilai-nilai kesehatan pada anak. Sekolah melalui aktivitas guru mengajar menjadi katalisator antara siswa dan isu-isu tentang kesehatan yang akan memberikan dampak pada komunitas dimana siswa berada (Webb, 1985).

 

Urgensi Sekolah Promosi Kesehatan

Kesehatan yang baik mendukung keberhasilan pembelajaran, begitupun sebaliknya. Upaya promosi kesehatan sebuah negara menjadi salah satu tolak ukur tentang sejauh mana investasi pemerintah dalam pendidikan memberikan manfaat yang cukup besar dalam memahamkan arti penting kesehatan (World Health Organisation, 2000). Promosi kesehatan berguna untuk memastikan intervensi tidak terbatas hanya pada pencapaian kebutuhan akan kesehatan, namun juga sebagai alat untuk mengawasi seseorang untuk memahami berbagai faktor yang memengaruhi kesehatan (Nutland, will, Cragg, 2015). Fokus global terhadap isu kesehatan di lingkungan pendidikan sudah jauh hari direspon melalui The Global School Health Initiative and an Information Series dengan program Health Promoting School atau Sekolah Promosi Kesehatan. Program ini diarahkan untuk dapat mengintensifkan upaya memperkuat kapasitas sekolah sebagai media mempromosikan kesehatan dalam aktivitas hidup dan belajar siswa. Bagaimanapun, sekolah merupakan wadah pertukaran informasi kesehatan, walau pada aktivitas yang sifatnya terbatas.

Konsep mengenai kesehatan tidak cukup hanya ditanamkan melalui pembiasaan sikap hidup bersih, namun perlu menjadi bagian integratif dengan kurikulum sekolah. Kurikulum kesehatan sekolah tidak sekadar menekankan penyampaian informasi kesehatan fungsional (pengetahuan dasar dan esensial). Kurikulum juga harus mampu membentuk nilai dan kepercayaan pribadi yang mendukung perilaku sehat, dan mengimbas pada norma kelompok yang menghargai gaya hidup sehat (Center for Disease Control and Prevention, 2014). Jika sudah begitu, siswa menjadi terbiasa mengadopsi, berlatih, dan mempertahankan perilaku yang meningkatkan kesehatan mereka dan lingkungan sekitar.

 

Pendidikan Kesehatan di Sekolah Indonesia

Kebijakan pendidikan di Indonesia telah mengatur bahwa peningkatan kesehatan usia sekolah dan remaja lebih diutamakan pada upaya promotif dan preventif, salah satunya melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 6/X/PB Tahun 2014, Nomor 73 Tahun 2014, Nomor 41 tahun 2014, Nomor 81 tahun 2014 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (Kemenkes, 2018).

Peraturan Bersama 4 Menteri tersebut telah mengatur bahwa Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan anak usia sekolah yang dilaksanakan melalui tiga trias yakni Pendidikan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan dan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat. Peraturan ini telah mengamanatkan bahwa pendidikan kesehatan berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan, perilaku, sikap, dan keterampilan untuk hidup bersih dan sehat; penanaman dan pembiasaan hidup bersih dan sehat serta daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar; serta pembudayaan pola hidup sehat agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (Kemenkes, 2014). Dalam praktiknya, amanat dalam peraturan bersama ini sulit diwujudkan karena UKS hanya banyak berperan sebagai pemberi layanan kesehatan darurat siswa di sekolah dan belum pada membangun serta menanamkan pembiasaan hidup sehat sebagai upaya mandiri siswa menyadari pentingnya kesehatan bagi dirinya. Selain itu, jika mengacu pada pasal 21 dan 22 dalam peraturan bersama ini, pengawasan aktivitas UKS hanya dilakukan oleh Inspektorat Jenderal di level kementerian, provinsi dan kabupaten/kota, dengan materi pelaporan meliputi jenis, tenaga, dan hasil penyelenggaraan kesehatan sekolah/madrasah. Pasal ini mengindikasikan bahwa UKS tidak lebih merupakan bagian dari program sekolah yang terikat kepentingan administratif, dan bukan instrumen yang dapat memfasilitasi kebutuhan melekat sekolah akan kesehatan. Selain itu, pencapaian kesehatan di sekolah juga sekadar dimaknai pada pencapaian di ranah kompetisi seperti halnya Lomba Sekolah Sehat (LSS). Sekolah berlomba memenuhi kriteria fisik yang ditentukan yang meliputi sarana dan prasarana pembelajaran yang memenuhi standar kesehatan, kenyamanan dan keamanan, serta penyediaan sarana sanitasi di sekolah (Imilda, 2019). Kriteria tersebut belum banyak menyentuh pada bagaimana siswa diberdayakan untuk memahami secara menyeluruh tentang pentingnya kesehatan dalam kesehariannya.

Seperti halnya UKS, umumnya program kesehatan remaja saat ini lebih banyak bergerak dalam pemberian informasi dan bukan penanaman pemahaman pentingnya hidup sehat (Sarweni et al., 2010). Program seperti UKS bersifat parsial dan sekadar fasilitas penunjang kesehatan di sekolah (Miller & Rosso, 2009). Padahal, Peraturan Bersama telah menetapkan kebijakan teknis dalam pembinaan dan pengembangan program kesehatan di sekolah melalui Kurikuler (terintegrasi dalam kurikulum) dan ekstrakurikuler (tambahan dalam kurikulum). Program lain seperti Dokter Kecil (Little Doctor) juga sama tidak efektifnya dan hanya memberdayakan siswa yang telah memiliki kebisaan hidup sehat. Program juga tidak berkelanjutan selepas program usai, karena tidak mampu membangun keterikatan siswa dengan nilai-nilai yang dibangun dalam program tersebut (TANGO International, 2014)

Selama ini, pendidikan kesehatan di sekolah-sekolah di Indonesia belum menjadi bagian terintegrasi dalam kurikulum. Isu kesehatan menjadi materi titipan yang bersifat reaktif terhadap penyebaran penyakit yang telah menyebar. Materi kesehatan dianggap sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, dan sulit untuk diintegrasikan pada semua materi pelajaran yang ada. Imbasnya, beban kurikulum sekolah menjadi bertambah dan memberatkan (Zamjani et al., 2020). Selain itu, Dinas Kesehatan sebagai mitra sekolah juga menempatkan sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah sebagai program semata yang hanya dilakukan pada masa tertentu saja. Sedangkan pembiasaan hidup bersih, tidak selalu berkelanjutan pelaksanaannya ketika siswa kembali ke rumah karena orang tua luput teredukasi untuk juga menjalankan hidup bersih. Sekolah yang mempromosikan kesehatan seharusnya dapat membantu mendidik orang tua tentang potensi ancaman kesehatan lingkungan di rumah dan menjamin program kesehatan di sekolah, dapat berkelanjutan di rumah (World Health Organisation, 2004).

 

Pendidikan Kesehatan di Beberapa Negara

Di banyak negara, pendidikan kesehatan mencakup sebagian dari kurikulum sekolah, namun di beberapa negara lainnya, kurikulum sekolah sama sekali tidak memuat materi kesehatan (Grossi, Valentina, Rechenburg, 2019). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah merespon isu kesehatan yang berkembang di negaranya melalui media pendidikan.

Penanaman pemahaman tentang pentingnya kesehatan telah menjadi bagian terintegrasi dalam kurikulum pendidikan beberapa negara. Di Amerika, Public Charter School  jenjang TK dan SD telah memasukkan kegiatan bercocok tanam ke dalam kurikulum inti untuk menumbuhkan pemahaman siswa tentang pentingnya menanam, memasak dan mengkonsumsi makanan yang berasal dari hasil bercocok tanam mereka (Center for Disease Control and Prevention, 2014). Dampaknya, siswa menjadi lebih aktif secara fisik di sekolah, terbiasa memakan makanan yang sehat, dan memahami kesehatan dan ketahanan pangannya.

Di Perancis, aktivitas hidup bersih ditanamkan melalui peningkatan kesadaran siswa tentang toleransi terhadap budaya bersih setiap orang (Grossi, Valentina, Rechenburg, 2019). Keterhubungan mata pelajaran bidang sosial seperti Sejarah, Geografi, Pendidikan Moral dan Kewarganegaraan, Seni dengan sanitasi dilakukan melalui aktivitas siswa melakukan analisis penggunaan fasilitas sanitasi yang berbeda pada budaya yang melekat pada setiap orang. Cara ini tidak saja efektif untuk membangun tanggung jawab siswa tentang kebersihan dan kebiasaan hidup bersih di sekolah maupun di rumah, namun juga meningkatkan kesadaran  dan toleransi siswa akan perbedaan budaya.

Membangun Kesadaran Kesehatan di Sekolah Indonesia

Menurut Teori Health Belief Model (Nutbeam, D., Harris, E. and Wise, 2010), seseorang akan melakukan tindakan melindungi dan mempromosikan kesehatan apabila mereka menganggap bahwa kerentanan kesehatan berpotensi memberikan konsekuensi yang serius pada diri mereka. Teori ini meyakini bahwa melatih tindakan pencegahan akan mampu mengurangi kerentanan kesehatan atau mengurangi konsekuensi yang akan ditimbulkan. Keuntungan melakukan tindakan pencegahan diyakini akan lebih efektif dibandingkan dengan risiko biaya dan hambatan yang temui.

Di ranah pendidikan, membangun perubahan perilaku kesehatan pada siswa tidak cukup dengan mengaplikasikan Teori Health Belief Model, namun juga perlu dielaborasi dengan perubahan perilaku siswa sebagaimana dijelaskan dalam Teori Sosial Kognitif. Menurut Teori Sosial Kognitif, perubahan perilaku hanya dapat dilakukan melalui kegiatan mengamati dan menduplikasi (Bandura, 1995). Paparan informasi yang bersifat sugestif dan persuasif diyakini mampu membentuk perilaku seseorang dalam mengamati dan menduplikasi sesuatu. Teori ini mengindikasikan bahwa hubungan antara manusia dan lingkungannya sangat kompleks, sehingga perlu berfokus pada metode promosi dalam mengubah perilaku kesehatan.

Dalam konteks promosi kesehatan melalui lingkungan sekolah, kebijakan kesehatan hanya akan efektif jika pengambilan kebijakan mendorong warga sekolahnya berperilaku sehat. Hal itu dapat diatur melalui kebijakan sekolah yang didasarkan pada tiga pilar, yaitu aktivitas pembelajaran, pelayanan kesehatan yang diberikan, serta iklim sekolah dan lingkungan organisasi yang mendukung. Integrasi pendidikan kesehatan di dalam kelas dapat diperkuat dengan aktivitas belajar di luar kelas. Siswa dapat sering didorong untuk melakukan aktivitas mempromosikan pentingnya kesehatan atau membuat bahan-bahan promosi kesehatan seperti poster, leaflet, video, dan sebagainya. Berbagai aktivitas tersebut didasarkan pada pemahaman siswa akan pentingnya kesehatan bagi hidup mereka.

Di ranah layanan kesehatan, sekolah juga perlu membuka akses seluasnya dalam memfasilitasi siswa menyampaikan keluhannya tentang permasalahan berkaitan dengan kesehatan yang dimilikinya. Bagi siswa yang mempunyai pertanyaan dan masalah pribadi terkait kesehatan, sekolah dapat menyediakan konseling sekaligus rujukan ke pelayanan kesehatan yang ada di dalam atau luar sekolah. Pertanyaan dan kebutuhan pribadi siswa tentang kesehatan dapat diatasi dengan menyediakan fasilitas yang mendukung kesehatan, misalnya bahan-bahan bacaan tentang kesehatan di perpustakaan sekolah dan mengoptimalkan fungsi UKS sebagai media pertukaran informasi di sekolah. Sayangnya, selama ini bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan sekolah kurang beragam, karena umumnya berisikan buku hasil bantuan pemerintah yang hanya berkisar tentang materi pelajaran (Solihin, 2019). Selain itu, keberadaan ruang UKS hanya dimaksudkan sebagai tempat pengobatan siswa yang membutuhkan layanan kesehatan darurat di sekolah, dan bukan sebagai salah satu media yang aktif mewadahi pertukaran informasi tentang kesehatan. Temuan di beberapa sekolah menunjukkan bahwa, ruang UKS bahkan seringkali berubah fungsi sebagai ruang kelas atau laboratorium ketika jumlah ruangan yang dimiliki sekolah terbatas (Sisdiana, 2019). Aktivitas konseling kesehatan juga jarang terjadi, karena permasalahan kesehatan masih dianggap tabu dibicarakan di lingkungan sekolah, khususnya pada isu-isu sensitif seperti kesehatan reproduksi (Lestari, 2015). Kondisi ini menyebabkan upaya mempromosikan kesehatan melalui sekolah, menjadi kurang optimal pelaksanaannya.

Bagaimanapun, kebijakan sekolah harus menyediakan lingkungan sekolah yang mendukung pelayanan kesehatan siswa dan warga sekolah. Manajemen sekolah harus membuat unit khusus yang melayani kesehatan sekolah dengan tidak sekadar menjalankan peran kuratifnya, namun juga promotifnya tentang pentingnya menjaga kesehatan. Sekolah dapat secara maksimal mengaktifkan kembali UKS yang ada karena keberadaan UKS sebenarnya sudah cukup menunjukkan bahwa sekolah sudah jauh lebih antisipatif menghadapi penyakit (Rahim, 2020). Selain itu, sekolah perlu secara rutin mengadakan pertemuan dengan orang tua tentang upaya-upaya meningkatan kualitas kesehatan siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Saat ini dan masa depan, pertemuan tersebut perlu ditingkatkan pelaksanaanya, agar sekolah dapat terus memantau kondisi kesehatan siswa dan keluarganya mengingat kerentanan terhadap penyakit menjadi semakin tinggi.

Membangun kesadaran pentingnya kesehatan tidak dapat dilakukan parsial, namun melibatkan seluruh unsur di sekolah. Memahamkan isu kesehatan, tidak cukup hanya pada praktik pembiasaan hidup sehat pada keseharian siswa. Mengintegrasikan pesan kesehatan dalam keseharian aktivitas di sekolah menunjukkan bahwa upaya kuratif seharusnya tidak perlu dilakukan apabila langkah promotif telah rutin dilakukan jauh sebelum wabah terjadi. Sekolah perlu menggunakan pendekatan yang berfokus kepada perubahan kebiasaan hidup bersih siswa dalam keluarga dan komunitasnya. Pasal 79 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, telah menegaskan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat siswa dalam lingkungan yang sehat sehingga siswa dapat belajar, tumbuh dan berkembang dengan baik (Kemenkes, 2009). Aturan ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai kesehatan, tidak sekadar pada bagaimana siswa dapat menjaga kesehatan dirinya sendiri, tetapi juga membangun kesehatan bagi lingkungannya. Siswa perlu secara mandiri paham tentang kesehatan dan mengadopsi perilaku sehat dari sesamanya. Ini layaknya konsep Pendidikan Hygiene yang telah diintegrasikan oleh 19 negara dalam kurikulum sekolah mereka (Grossi, Valentina, Rechenburg, 2019). Dalam Pendidikan Hygine, sekolah perlu lebih banyak berfokus pada pengetahuan dan pemahaman siswa akan teori dan praktik kebersihan diri. Kegiatan belajar juga perlu memberikan ruang pada siswa untuk menunjukkan sikap dan pendapat mengenai tindakan kebersihan, merespon situasi yang tidak bersih, termasuk mempraktikkan perilaku hygiene tertentu (misalnya, mencuci tangan untuk mencegah penyakit dan infeksi).

Pada praktik sekolah-sekolah di Indonesia, pemerintah sebenarnya telah gencar melakukan promosi kesehatan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan PHBS. Kedua gerakan tersebut mengutamakan pentingnya berbagai pembiasaan dan aktivitas fisik seperti kegiatan olahraga, pembiasaan cuci tangan menggunakan sabun, mengkonsumsi makanan sehat, membuang sampah pada tempatnya, dan kegiatan pembiasaan PHBS lainnya. Program ini dalam praktiknya telah melibatkan unsur Dinas Kesehatan setempat untuk melakukan sosialisasi ke setiap sekolah agar konsep Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan PHBS dapat lebih dipahami oleh sekolah dan seluruh unsur di dalamnya. Kedua program tersebut harus berkelanjutan di masa depan walaupun ketika program berhenti dan menjadi nilai-nilai karakter yang dibawa sekolah dalam setiap aktivitas belajar.

Sekolah juga perlu berfokus pada pencapaian pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai kesehatan, untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum. Tujuan pembelajaran tersebut sebenarnya telah diamanatkan dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 (Kemendikbud, 2020a), dan masih relevan memayungi konsep besar promosi kesehatan di lingkungan sekolah saat ini dan di masa yang akan datang.

Berbagai upaya dan aktivitas belajar perlu difokuskan pada pemahaman dan kemampuan siswa mengidentifikasi kondisi lingkungannya dan memahami risiko kesehatan yang mungkin dihadapi nanti. Perlu dukungan optimal semua pihak, tidak hanya siswa, tetapi juga guru, kepala sekolah, orang tua dan lingkungan sekolah. Harapannya kemudian, siswa dapat menyiapkan rencana dan melakukan tindakan preventif untuk mencegah potensi terpaparnya penyakit saat ini maupun di masa depan.

 

Diyan Nur Rakhmah, Peneliti pada Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang dan Perbukuan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1995). Exercise of personal and collective efficacy. In Self- Efficacy in Changing Societies. In Cambridridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Bello, L. Del. (2020). How Covid-19 could redesign our world - BBC Future. https://www.bbc.com/future/article/20200527-coronavirus-how-covid-19-could-redesign-our-world

BKKBN, BPS, K. (2012). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012: Kesehatan Reproduksi Remaja.

Center for Disease Control and Prevention. (2014). Putting Local School Wellness Policies into Action : Stories from School Districts and Schools. 1–26. https://www.cdc.gov/healthyyouth/npao/pdf/251553_SchoolWellnessInAction_Final_508_Ready_508tagged.pdf

David, R., Pellini, A., Jordan, K., & Phillips, T. (2020). Education during the COVID-19 crisis Opportunities and constraints of using EdTech in low-income countries. EdTech Hub, April.

Grossi, Valentina, Rechenburg, A. (2019). Improving health and learning through better water , sanitation and hygiene in schools.

Imilda, R. (2019). Kriteria Penilaian Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional 2019. http://disdik.jabarprov.go.id/news/1386/kriteria-penilaian-lomba-sekolah-sehat-tingkat-nasional-2019

Kemendikbud. (2020a). Surat Edaran Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease. 300.

Kemendikbud. (2020b). Survei Cepat Pembelajaran dari Rumah dalam Masa Pencegahan COVID-19.

Kemenkes. (2009). Undang-Undang Kesehatan. Aspectos Generales De La Planificación Tributaria En Venezuela, 2009(75), 31–47.

Kemenkes. (2014). Peraturan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteria Dalam Negeri tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah dan Madrasah. hal 140, 1–11.

Kemenkes. (2018). Petunjuk Teknis Penggunaan Buku Rapor Kesehatanku.

Lestari, S. (2015). Pelajaran kesehatan reproduksi ditolak MK - BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151102_indonesia_pendidikanseks

Miller, J., & Rosso, D. (2009). Investing in School Health and Nutrition in Indonesia. October.

Nutbeam, D., Harris, E. and Wise, M. (2010). Theory in a Nutshell: A Practical Guide to Health Promotion Theories. McGraw-Hill.

Nutland, will, Cragg, L. (2015). Health Promotion Practice (Second Edition) (O. U. Press (ed.)).

Rahim, M. A. (2020). Cegah Virus Corona, Fungsi Unit Kesehatan Sekolah Harus Optimal – radarcirebon.com. https://www.radarcirebon.com/2020/03/04/cegah-virus-corona-fungsi-unit-kesehatan-sekolah-harus-optimal/

Sarweni, K. P., Hargono, R., Masyarakat, F. K., & Airlangga, U. (2010). DEMAND VS SUPPLY PROGRAM KESEHATAN REMAJA DI PUSKESMAS TANAH KALIKEDINDING SURABAYA DEMAND VS SUPPLY ADOLESCENT HEALTH PROGRAM IN PUSKESMAS. 71–81.

Sisdiana, E. (2019). Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum 2013. In Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan (Vol. 2013, Issue Mi). https://doi.org/10.1016/0031-9422(91)83742-4

Solihin, L. (2019). Merumuskan Evaluasi untuk Memajukan Literasi.

TANGO International. (2014). Final Evaluation of the WASH in School Program (WISE) in Indonesia. June, 46 pages.

Tidey, C. (2020). Jangan biarkan anak-anak menjadi korban tersembunyi pandemi COVID-19. https://www.unicef.org/indonesia/id/press-releases/jangan-biarkan-anak-anak-menjadi-korban-tersembunyi-pandemi-covid-19

UNESCO. (2020). School closures caused by Coronavirus (Covid-19). https://en.unesco.org/covid19/educationresponse

Webb, J. (1985). Health Education for School-Age Children: The Child to Child Programme. WHO.

World Health Organisation. (2000). Local Action: Creating Health Promoting Schools. WHO Information Series on School Health.

World Health Organisation. (2004). The World Health Organization’s INFORMATION SERIES ON SCHOOL HEALTH Document 2 The Physical School Environment An Essential Component of a Health-Promoting School. www.who.orgwww.unesco.orgwww.edc.orgwww.unicef.orgwww.ei-ie.orgwww.worldbank.orgwww.child-development.org

Zamjani, I., Solihin, L., Pratiwi, I., & Rakhmah, D. N. (2020). Dampak Regulasi Terhadap Peningkatan Mutu Pembelajaran.

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait