Keluarga merupakan gabungan dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan yang berpola diantara mereka (Bateson, 1972; Patterson, 1999). Setiap anggota keluarga membangun dan memiliki perspektif sendiri yang selanjutnya membentuk sistem yang memiliki fungsi, tujuan, dan pola interaksi sehingga membentuk sebuah sistem yang berjalan sepanjang hidup anggota keluarga tersebut (Patterson, 2002). Sebagai sebuah sistem, keluarga mimiliki beberapa fungsi yang menurut Patterson (2002) terdiri dari fungsi pembentukan keluarga, dukungan ekonomi, fungsi pengasuhan, pendidikan, dan sosialisasi dan fungsi perlindungan.

Berdasarkan fungsi-fungsi tersebut, apabila salah satu fungsinya tidak bisa terpenuhi maka akan berdampak pada kestabilan dan keseimbangannya. Sebagai contoh sederhana, ketika salah satu anggota keluarga misal ayah sakit, maka keluarga tersebut akan terganggu kestabilannya yang pertama adalah fungsi ekonomi dimana ayah tidak bisa bekerja. Anggota keluarga lainnya kemudian memberikan fungsi proteksinya dengan merawat ayah yang sakit sehingga fungsi pengasuhan kepada anak juga terganggu. Rangkaian sebab-akibat akan terus terjadi di dalam sebuah keluarga sehingga kita perlu beradaptasi terhadap kondisi yang selalu berubah. Adaptasi dapat dilakukan dengan melakukan pembagian tugas diantara anggota keluarga yang ada.

Henry dkk (2015) mempromosikan sebuah konsep keluarga yang bersifat integratif, yaitu dengan melihat bahwa keluarga dapat membangun ketahanan melalui sebuah tindakan adaptasi yang ditentukan oleh kondisi risiko, kerentanan, dan juga perlindungan sosial keluarga serta sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan yang lebih luas. Beberapa aspek keluarga akan diuji ketika sebuah krisis hadir di tengah keluarga tersebut, aspek tersebut diantaranya adalah kohesitas keluarga, family belief system, the role of religion, coping strategies dan komunikasi. Setiap individu dalam keluarga, subsistem dan sistem keluarga dalam suatu ekosistem, saat merespon krisis suatu di keluarga tergantung dengan kerentanannya dan kemampuan memberikan perlindungan keluarganya untuk mencapai suatu proses adaptasinya.

Ketahanan suatu keluarga tidak digeneralisasi tanpa adanya proses penelitian empirik yang lebih lanjut (Paterson, 2002).  Ketahanan keluarga dengan karakteristik lingkungan tertentu akan berbeda antar satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan dalam satu bentang alam, misalnya pesisir dan pegunungan, masyarakat di sektor tertentu akan memiliki tingkat kerentanan yang berbeda serta memiliki risiko yang berbeda juga sehingga jenis adaptasi juga akan bervariasi. Perbedaan pengelolalan dan pemanfaatan alamnya untuk mempertahankan kehidupannya sangat mempengaruhi proses ketahanan keluarga dalam beradapatasi.

 

Kedudukan Keluarga Dalam Pengelolaan Pariwisata Berbasis Komunitas

Pariwisata berbasis komunitas (PBK) merupakan alternatif dari penyelenggaraan pariwisata di Indonesia selain pariwisata massal. PBK merupakan kegiatan pariwisata, yang dimiliki, dioperasikan, dikelola atau dikoordinasikan pada tingkat masyarakat dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat melalui dukungan terhadap kehidupan yang berkelanjutan serta melindungi nilai-nilai dan tradisi sosial-budaya, kekayaan sumberdaya alam dan budaya (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN, 2016). Masyarakat sendiri didefinisikan sebagai sekelompok orang yang tinggal di satu wilayah tertentu yang memiliki budaya, nilai-nilai serta kepentingan yang sama (Gregoey, 2009 dalam Ndlovu, dkk, 2018). Masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga yang merupakan unit/institusi/sistem sosial terkecil yang beranggotakan sekelompok orang atas dasar hubungan perkawinan, pertalian darah atau adopsi yang tinggal bersama dalam sebuah rumah tangga (Badan Pusat Statistik, 2016). Oleh karena itu pengelolaan PBK pada dasarnya berada pada individu-individu dalam keluarga yang bersinergi baik antar anggota dalam keluarga mereka sendiri maupun antara individu anggota keluarga satu dan lainnya.

Suansari (2003) mengemukakan pengelolaan PBK memiliki prinsip-prinsip dasar pengembangan yang erat berkaitan dengan kepentingan dan pemberdayaan masyarakat secara langsung yaitu (1) Menghargai, mendukung dan mempromosikan kepemilikan masyarakat dalam pariwisata. (2) Melibatkan/menyertakan anggota masyarakat sejak awal dalam setiap aspek pengembangan pariwisata. (3) Mempromosikan kebanggaan/harga diri masyarakat. (4) Meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (5) Mendistribusikan manfaat secara adil dalam masyarakat. (6) Memberikan kontribusi dari pendapatan usaha wisata untuk pembangunan  masyarakat.

Keterlibatan masyarakat yang diwakili oleh keluarga dan anggota-anggotanya dalam PBK dapat berupa penyediaan penginapan dan rumah makan, tur (tourist guide), sebagai pemilik/pengelola usaha perdagangan, pembuat/penyedia/penjual cinderamata (kerajinan lokal), pengelola perjalanan dan juga penyedia pengobatan tradisional (Ndlovu, dkk, 2018). Pengembangannya PBK ini tentunya selain didukung oleh masyarakat lokal, juga harus mendapat dukungan pemerintah lokal serta lembaga swadaya masyarakat (Boronyak, et al, 2010), sebagai faktor-faktor eksternal yang mempegaruhi keberlanjutan PBK. Selain itu gangguan yang terjadi pada sektor pariwisata antara lain seperti krisis global, bencana alam yang berdampak pada kerusakan alam serta situs-situs peninggalan budaya, konflik sosial, merebaknya wabah penyakit akan merupakan tekanan-tekanan yang dihadapi yang juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan PBK dan selanjutnya akan berdampak pada ketahanan keluarga. Untuk itu perlu dikaji dan dipahami bagaimana keluarga yang tergantung dan terlibat dalam pengelolaan PBK dapat mempertahankan fungsi dan strukturnya dalam menghadapi tekanan-tekanan tersebut.

 

Ketahanan Keluarga di Sektor Pariwisata Berbasis Komunitas

Keluarga di sektor PBK berpotensi memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan keluarga di sektor pariwisata masal ketika dikaitkan dengan pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh keterpaparan langsung seluruh anggota keluarga dengan wisatawan yang berpotensi menjadi media penularan virus SARSCoV-2. Pola interaksi yang langsung dengan wisatawan, menyebabkan keluarga ini rentan terhadap penularan penyakit maupun dampak langsung akibat interaksi yang terjadi.

Menyikapi kerentanan yang dialami keluarga para pengelola dan penyelenggara PBK maka perlu dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah yang sudah memberikan bantuan melalui dana desa untuk berbagai desa wisata di Indonesia hendaknya sekaligus memberikan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas keluaga penyelenggara wisata berbasis komunitas ini. Pendampingan dapat dilakukan mulai dari tata cara pengelolaan sumberdaya alam dan budaya yang menjadi daya tarik utama wisata, literasi digital agar dapat dikenal ke pasar global, serta literasi ekonomi agar ketika terjadi krisis atau masalah seperti pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi mereka dapat memiliki cadangan pendapatan lain yang mampu menopang kebutuhan hidup mereka.

Sebagai contoh Desa Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali yang menerapkan Desa Wisata dengan tanggung jawab manajemen dari pemerintah, masyarakat lokal, dan sektor swasta (Dewi, dkk, 2013). Pemerintah bertanggung jawab untuk mengeluarkan peraturan berkaitan dengan pembangunan tempat wisata, desa wisata dan manajemennya. Selanjutnya, sektor swasta dapat berkontribusi dalam pelatihan perhotelan, manajemen pemasaran dan cara melayani pengunjung untuk mendukung Desa Wisata yang sedang berlangsung. Sehingga, kelompok masyarakat dapat membentuk berbagai kelompok kesadaran pariwisata, seperti kelompok pedagang, kelompok seni pertunjukan, kelompok hiburan, kelompok akomodasi, yang semuanya ditugaskan untuk mengembangkan desa.

Memahami dengan baik ketahanan keluarga dalam sektor PBK sangat membantu untuk melakukan pemulihan ke arah yang lebih baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memahami dengan baik kerentanan dan juga kapasitas yang dimiliki sebuah sistem keluarga dalam PBK. Pembukaan new normal di sektor pariwisata perlu diikuti dengan penguatan penataan PBK sesuai dengan karakteristik mereka sehingga dapat menjadi lebih kuat menghadapi tekanan baik dari dalam  maupun dari luar.

Selamat Hari Keluarga 2020.

 

Ditulis oleh:

Tim PRN Pariwisata Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Aswatini, Dewi Harfina, Dian Wahyu Utami, Gusti Ayu Ketut Surtiari & Mita Noveria

 

 

Referensi

Association of Southeast Asian Nations/ASEAN. 2016. ASEAN Community Based Tourism Standard. Jakarta: ASEAN Secretariat.

Badan Pusat Statistik. 2016. Pembangunan Ketahanan Keluarga 2016. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anakkarta ta:

Bateson, G. 1972. Steps to an ecology of mind. New York: Ballantine.

Boronyak, Louise et.al. 2010. Effective Community Based Tourism: A Best Practice Manual for Peru. APEC Tourism Working Group. Queensland, Griffith University: Sustainable Tourism Cooperative Research Centre.

Dewi, Made H.U; Fandeli, Chafid; & Baiquni, M. 2013. Pengembangan Desa wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Kawistara, Vo. 3 No. 2. Agustus 2013. Hlm. 129-139.

Henry, S. Carolyn; Morris, Amanda S; & Harrist, Amanda W. 2015. Family Resilience: Moving into the Third wave. Family Relations 64 (February 2015): 22-43.

Patterson, J. 1999. Healthy American families in a postmodern society: An ecological perspective. In H.Wallace, G. Green, K. Jaros, M. Story, & L. Paine (Eds.), Health and welfare for families in the 21st century (pp. 31–52). Boston: Jones and Bartlett.

Patterson, J. 2002. Understanding Family Resilience. Journal of Clinical Psychology Volume 58(3). 233-246. © 2002 Wiley Periodicals, Inc.

Patterson, J. 2002. Integrating Family Resilience and Family Stress Theory. Journal of Marriage and Family 64, Mau 2002: 349-360.

Purnamasari, Andi Maya. 2011. Pengembangan Masyarakat untuk Pariwisata di Kampung Wisata Toddabojo Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Volume 22(1) April 2011, hlm. 49-64.

Suansri, Potjana. 2003. Community Based Tourism Hanbook. Thailand: Responsible Ecological Social Tour-REST.

Ndlovu, Thulile Promise; Nozipho Prudence Sibiya and Andrea Giampiccoli. 2018. Assessing local community participation in communitybased tourism: The case of the Zulu-Mpophomeni Tourism Experience. African Journal of Hospitality, Volume 7 (2). ISSN: 2223-814X. Copyright:  © 2018 AJHTL - Open Access-  Online @ http//: www.ajhtl.com

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait