Narkoba (Narkotika, Psikotropika, dan Obat-obatan terlarang) merupakan masalah serius yang dihadapi tidak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara lain  dunia. United Nation Office Drug and Crime (UNODC) mencatat bahwa terjadi peningkatan pengguna narkoba dalam satu dekade terakhir. Dalam World Drug Report 2019, UNODC memperkirakan jumlah pengguna mencapai 271 juta orang, atau berarti 5,5 persen dari populasi dunia berusia 15–64 tahun memakai narkoba selama satu tahun terkahir (UNODC, 2019). Maraknya penyalahgunaan narkoba juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan LIPI tahun 2019 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang pernah memakai narkoba selama satu terakhir mencapai 3,4 juta atau sekitar 1,8% dari penduduk berusia 15–64 tahun (Imron, dkk., 2019).

Pada situasi pandemi COVID-19 saat ini, penyalahgunaan narkoba nyatanya masih marak terjadi, terlihat dari banyaknya kasus penggunaan dan peredaran narkoba yang tertangkap. Kapolda Metro Jaya menyatakan bahwa terjadi peningkatan kasus penangkapan, dengan rata-rata jumlah kasus terungkap hampir setiap hari mencapai 15 s.d 20 kasus oleh Direktorat Reseserse Narkoba maupun polres di berbagai wilayah (Wijayaatmaja, 2020). Masyarakat yang merasakan dampak langsung pandemi COVID-19, seperti kehilangan pekerjaan hingga mengalami efek psikologis yang cukup berat sehingga kemungkinkan untuk menyalahgunakan narkoba tetap besar (Amelia, 2020). Begitu juga bandar narkoba tetap bekerja mengedarkan narkoba selama masa pandemi COVID-19. Selama bulan Mei terjadi pengungkapan 821 kg shabu di Banten, kemudian 421 kg di Sukabumi dan 100 kg di Cikarang; sementara pada bulan Juni, terungkap penyelundupan 50 kilogram shabu di Pekanbaru (Gn, Humas Purbalingga, 2020).  Menurut Kapolda Metro Jaya, terjadi perubahan jalur peredaran narkoba yang biasanya melalui tempat hiburan. Selama masa PSBB tempat hiburan ditutup, maka transaksi narkoba dilakukan di hotel atau apartemen (Wijayaatmaja, 2020). Kondisi tersebut semakin memperlihatkan bahwa peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini di berbagai kalangan, termasuk generasi muda, cukup memprihatinkan.

 

Penyalagunaan Narkoba di Kalangan Generasi Muda

Narkoba merupakan ancaman serius bagi generasi muda mengingat tingginya tingkat penyalahgunaan narkoba di kalangan kelompok penduduk ini. Penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 jumlah kasus penyalahgunaan narkoba  pada mereka tingkat pendidikan SMP sampai dengan PT mencapai 44.187 kasus atau terjadi peningkatkan kasus dua kali lipat dibanding tahun 2010 (Polri dan BNN, 2015). Hasil penelitian BNN bekerjasama dengan UI di tahun 2017 menemukan bahwa dua dari 100 orang pelajar atau mahasiswa Indonesia selama satu tahun terakhir terpapar narkoba. Dan pada tahun 2018, LIPI dan BNN melakukan survei di 13 kota besar di 13 provinsi di Indonesia (Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, DI. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimatan Timur, Sulawesi Selatan dan Papua) menunjukkan angka prevalensi pemakaian narkoba satu tahun terakhir di kalangan pelajar dan mahasiswa cukup tinggi mencapai 3,2 persen (Imron, dkk., 2018).

Tingginya angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari sifat remaja yang penuh dengan rasa keingintahuan. Masa SMP dan SMA merupakan masa pubertas yang dipenuhi dengan rasa ingin mencoba hal yang baru. Hal tersebut diindikasikan dengan tingginya tingkat keterpaparan narkoba bagi pelajar SMP dan SMA dibandingkan dengan mahasiswa. Hasil survei juga memperlihatkan bahwa ‘coba-coba’ merupakan alasan utama (64%) pertama kali memakai narkoba (Imron dkk., 2019).

Tiga jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi kalangan pelajar dan mahasiswa adalah ganja, obat sakit kepala yang diminum berlebihan, dan zat yang dihisap terus-menerus. Ketiga jenis narkoba tersebut relatif lebih mudah diperoleh dengan harga yang relatif terjangkau. Penggunaan narkoba dalam jangka panjang dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan tersebut akan mengakibatkan gangguan fisik maupun psikologis. Berapa bentuk gangguan fisik meliputi kerusakan sistem syarat pusat dan organ-organ tubuh lainnya, seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Penggunaan narkoba dengan menggunakan jarum suntik secara bersamaan beresiko tertular penyakit hepatitis B, C dan HIV. Sedangkan, dampak negatif secara psikis bagi remaja adalah perubahan sikap dan kepribadian, seperti sering membolos, mengantuk di kelas, malas, tidak disiplin, mudah tersinggung, penurunan nilai pelajaran dan ketidakpedulian akan kesehatan diri. Bahkan penggunaan konsumsi narkoba secara berlebihan atau over dosis dapat menyebabkan kematian. Berbagai dampak tersebut dalam jangka panjang, dapat menimbulkan hilangnya generasi cerdas dan tangguh sebagai aset pembangunan bangsa.

Berdasarkan hasil survei (Imron dkk., 2019), sebanyak 92 persen pengguna narkoba pertama kali mendapatkan narkoba dari teman. Pada awalnya mereka mengonsumsi narkoba hanya ‘coba-coba’ dan diberikan  secara gratis oleh teman. Kebiasaan nongkrong bersama atau mengunjungi tempat hiburan malam memberi peluang bagi remaja untuk terpapar narkoba. Konsumsi bersama-sama (sharing) dalam satu geng pertemanan sering menjadi ritual penggunaan narkoba dengan membeli narkoba jenis ganja atau shabu secara ‘ketengan’ atau paket hemat (pahe). Selain memperkenalkan narkoba, teman juga dapat menjadi pemasok dan pengedar narkoba bagi teman pengguna narkoba yang sudah ketagihan. Hasil survei (2019) menunjukkan sebanyak 89 persen pengguna narkoba mendapatkan narkoba bersumber dari teman, sedangkan dari bandar/pengedar hanya 17%. Kondisi tersebut memperlihatkan rentannya lingkungan pertemanan bagi generasi muda, baik di rumah maupun di lokasi pendidikan.

 

Peran Keluarga dan Penyalahgunaan Narkoba   

Keluarga, sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat, memiliki peran penting dalam upaya membentengi generasi muda dari penyalahgunaan narkoba. Hal ini bisa diawali dengan adanya komunikasi yang baik dan berlangsung dua arah antara orang tua dan anak mereka (remaja). Sayangnya, hasil studi P2 Kependudukan LIPI (2016) fokus dinamika hubungan remaja dengan keluarga menunjukkan komunikasi antara orang tua dan remaja terkait perilaku berisiko, termasuk penyalahgunaan narkoba,  masih belum berjalan dengan baik. Di satu sisi, remaja cenderung tidak terbuka pada orang tua dan menyaring informasi yang disampaikan. Di sisi lain, orang tua cenderung memberi nasehat, bukan berdiskusi. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri, baik bagi remaja maupun orang tua, untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi lebih baik lagi. Dalam sebuah FGD dengan kelompok remaja laki-laki, misalnya, sebagian besar peserta FGD mengidentifikasi biasanya teman mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba karena mereka kurang perhatian dari orang tua (Fatoni, Situmorang, Prasetyoputra, 2016). Bentuk komunikasi dua arah antar orang tua dan remaja yang tidak mendominasi, serta mendudukan remaja sebagai sahabat dalam pandangan orang tua menjadi bentuk komunikasi yang ideal. Dengan komunikasi dan interaksi tersebut diharapkan remaja merasa lebih terbuka dengan keluarganya sehingga orang tua dapat mengawasi dan membentengi remaja dari bahaya narkoba.

Selain itu, penguatan peran keluarga juga penting dilakukan oleh stakeholder yang memberikan perhatian terhadap generasi muda, termasuk kelompok remaja. Selama ini, program-program terkait generasi muda atau remaja lebih banyak ditujukan pada remaja sebagai individu, sedangkan program-program yang ditujukan pada orang tua (keluarga) yang memiliki remaja belum berjalan secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan adanya implementasi program remaja yang terintegrasi, termasuk terkait kelompok sasaran dari program tersebut (remaja dan keluarga) (Situmorang, Fatoni, Prasetyoputra, 2019).

Dengan demikian, maraknya penyalahgunaan narkoba saat ini, khususnya di kalangan generasi muda memerlukannya peran aktif dari berbagai stakeholder terkait. Tidak hanya aparat penengak hukum, namun yang terpenting adalah keluarga dan masyarakat dalam upaya pemberatasan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba. Kepedulian masyarakat dan dukungan keluarga untuk hidup sehat tanpa narkoba merupakan investasi sumber daya manusia yang berkualitas. Selamat Hari Anti Narkoba Internasional 26 Juni 2020, mari kita lindungi generasi muda Bangsa Indonesia dari bahaya narkoba. Stop Narkoba!!!

 

Ditulis oleh Dewi Harfina, Zainal Fatoni dan Devi Asiati - Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Referensi:

Amelia, V.R. (2020, April 29). PHK Massal di Masa Pandemi Covid 19 Dapat Jadi Celah Pengedaran Narkoba. https://wartakota.tribunnews.com/2020/04/29/phk-massal-di-masa-pandemi-covid-19-dapat-jadi-celah-pengedaran-narkoba.

BNN RI & UI. (2017). Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia 2017. Jakarta: BNN RI.

Fatoni, Z., Situmorang, A, & Prasetyoputra, P. (2016). Peran Keluarga dan Perilaku Berisiko Remaja di Era Globalisasi: Kasus Kota Medan (Laporan Penelitian). Jakarta: Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

Gn, Humas Purbalingga. (2020, Juni 18): Pandemi Covid 19, Peredaran Narkoba Masih Tinggi. https://jatengprov.go.id/beritadaerah/pandemi-covid-19-peredaran-narkoba-masih-tinggi/

Imron, dkk. (2018). Penyalahguna Narkoba di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa di 13 Provinsi. Laporan Penelitian. Jakarta: Kerjasama LIPI dan BNN RI.

Imron, dkk (2019). Penyalagunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2019. Laporan Penelitan. Jakarta: Kerjasama LIPI dan BNN RI.

Polri & BNN RI (2015). Data Kasus Penangkapan Penyalahgunaan Narkoba 2010 dan 2015.

Situmorang, A, Fatoni, Z., & Prasetyoputra, P. (2019). Model Alternatif Implementasi Program Remaja Terintegrasi: Penguatan Peran Keluarga (Policy Paper). Jakarta: Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

UNODC. (2019). World Drug Report 2019.  United Nations publication, Sales No. E.19.XI.8.

Wijayaatmaja, Y.P. (2020, Mei 2). Wah Ternyata Bisnis Narkoba Beradaptasi dengan Dampak Covid -19. https://mediaindonesia.com/read/detail/309614-wah-ternyata-bisnis-narkoba-berdaptasi-dengan-dampak-covid-19.

Wijayaatmaja, Y.P. (2020, Juni 13). Kasus Narkoba Meningkat selama Pandemi. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/read/detail/320316-kasus-narkoba-meningkat-selama-pandemi

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait