• Save Population From Corruption
  • Poster Ekologi Kota 2018
  • Poster Ekologi Desa 2018
  • Poster Migrasi Internasional 2018
  • Poster Migrasi Internal 2018
  • Poster Pendidikan 2018
  • Poster Ketenagakerjaan 2018
  • Poster Keluarga Remaja 2018
  • Poster Keluarga Lansia 2018
  • Poster Keluarga Ibu 2018


Refleksi Hari Pendidikan 2013


Selain di dalam lingkungan keluarga, sekolah merupakan tempat dimana karakter anak terbentuk. Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga mencapai 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli perkembangan dan perilaku anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya. [1] Oleh karena itu betapa pentingnya peran sekolah anak usia dini dalam pembentukan karakter.


Sekolah hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi pembentukan karakter anak. Sehingga anak diharapkan dapat meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya kelak. Sekolah mempunyai peranan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Oleh karena itu proses pembelajaran di sekolah menjadi penting dalam mendukung lahirnya generasi yang andal. Namun hal tersebut menemui banyak rintangan ketika dominasi kekuasaan dari pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan sendiri.


Dominasi kekuasaan dapat berlangsung dimana saja tak terkecuali di dalam dunia pendidikan. Praktik dominasi kekuasaan sebagai teks kekuasaan menimbulkan implikasi yang luas dan mendalam .[2] Salah satu implikasi tersebut adalah menurunnya kinerja penyelenggara pendidikan sehingga pembentukan karakter anak pun akan cenderung berkembang dengan tidak baik. Praktik dominasi kekuasaan yang berlangsung di dalam dunia pendidikan diperkirakan dapat menjadi pemicu lahirnya generasi yang lemah. Praktik kekuasaan yang cenderung kuat di dalam dunia pendidikan terutama pendidikan bagi anak di usia dini dikuatirkan dapat membentuk pribadi anak yang hanya dapat patuh pada aturan tanpa berani untuk melakukan kreatifitas baru. Kualitas seorang anak hanya dilihat dari hasil output (nilai) yang dicapai tanpa memandang karakter dan keahlian lain yang terbentuk pada anak.


Dominasi kekuasaan dapat terjadi melalui penyelenggara sekolah, pengajar dan komite sekolah. Ketika pengajar memaksakan para anak didik untuk selalu patuh dan taat pada peraturan mengakibatkan karakter anak yang terbangun menjadi karakter yang cenderung tidak percaya diri atau “minder”. Hal yang lebih mengkuatirkan adalah apabila dominasi kekuasaan yang melegitimasi peraturan-peraturan yang cenderung mengekang dan tidak mendidik untuk tumbuh berkembang sesuai potensi yang ada pada diri anak. Terlebih jika peraturan tersebut disertai dengan sanksi atau hukuman baik yang berupa hukuman lisan (misalnya dengan marah-marah di depan kelas atau di depan anak-anak lain) maupun hukuman fisik. Pemberian hukuman tersebut dapat memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawa sampai ketika ia dewasa. Saat dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak dapat menjadi seorang pembawa acara dikarenakan tidak percaya diri. Cenderung hanya berada di zona nyamannya tanpa berani mengambil risiko untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.


Banyak yang berpikir bahwa keberhasilan seorang anak diukur dari kejeniusannya (otak). Namun perlu diketahui bahwa karakter anak yang kuat menjadi sangat penting dalam mencapai kesuksesan. Akan sangat mengkuatirkan apabila sekolah yang diharapkan menjadi tempat mencetak generasi bangsa yang berkualitas dan kuat justru melahirkan generasi bangsa yang cenderung egois, penakut dan “minder”.
 

Ditulis oleh : Sari Seftiani (Peneliti Bidang Kependudukan)

________________________________________
[1] http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anak-usia-dini/. Diakses tanggal 26 Maret 2013.
[2] Teks yang dimaksud tidak terbatas pada teks tertulis tetapi juga berupa sikap, pernyataan atau tindakan. Lihat P. Ricoeur, Hermeneutika Ilmu Sosial, Kreasi Wacana, 2006. Hlm.22 dan 196.

issnwebPPK

Berita Internal

Picture1
01 Juli 2014

Akses e-journal

Statistik Kependudukan

Publikasi Buku

  • BatamDepan.jpg
  • belitungdepan.jpg
  • belitungdepan1.jpg
  • belitungdepan2.jpg
  • Bintandepan.jpg
  • Buku1.jpg
  • Buku2.jpg
  • Buku3.jpg
  • Buku4.jpg
  • Buku5.jpg

Mitra

banner pdii

banner simpeg

intra-lipi

isjd

 

Instagram P2Kependudukan

http pluspng

Galeri Video

This text will be replaced

Statistik Pengunjung

1443256
Harian
Mingguan
Bulanan
Total
661
6854
16191
1443256

Go to top